Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kesesatan Keyakinan Tanaskhil Arwah

Ngaji Kitab "Risalah Ahlussunnah wal-Jama’ah" ditulis oleh Mbah Hasyim Asy'ari (Pendiri NU)


قال المؤلف رحمه الله تعالى:

ومنهم من قال بتناسخ الأرواح وانتقالها أبدا الآباد في الأشخاص تخرج من بدن الآخر من جنسه أو غيره، وزعم هؤلاء أن تعذيبها وتنعيمها فيها بحسب زكائها وخبثها، قال الشهاب الخفاجي في شرحه على الشفا: وقد كفرهم أهل الشرع لما فيه من تكذيب الله ورسوله وكتبه.

"Dan di antara ahli bid’ah adalah orang yang mengatakan tanaskhil al Arwah; menitis dan berpindah-pindahnya ruh dari satu badan ke badan yang lain baik sejenis maupun berlainan jenis selama-lamanya. Mereka menyangka bahwa siksaan dan kenikmatan yang dirasakan oleh Arwah tersebut didasarkan atas pertimbangan bersih dan kotornya arwah tersebut. Imam al-Syihab al-Khofaji di dalam syarahnya terhadap kitab Al-Syifa berkata: “Sungguh ahli syari’ah telah mengkafirkan mereka, karena di dalam akidah tersebut terdapat unsur pendustaan terhadap Allah, Rasul dan kitab-Nya”.

*Catatan*:

Dalam keyakinan Islam, jika seseorang telah mati maka ruhnya tidak akan menitis pada manusia lain. Tetapi dia akan berada di alam barzakh untuk mendapatkan nikmat atau Adzab Kubur. 

Setelah kiamat tiba, manusia dibangkitkan dari kuburnya dan akan hidup abadi di akhirat, mereka yang beriman akan masuk surga dan mereka yang kafir akan masuk ke dalam neraka. 

⛔️ Penganut paham tanaskhil al arwah dihukumi jatuh pada kufur, karena paham ini mengandung unsur takdzib (pendustaan) terhadap Allah, Rasulullah dan kitab Allah (al Qur'an). 

ومنهم من قال بالحلول والاتحاد، وهم جهلة المتصوفة يقولون أنه تعالى الوجود المطلق، وإن  غيره لا يتصف بالوجود أصلا، حتى إذا قالوا: الإنسان موجود فمعناه أن له تعلقا بالوجود المطلق وهو الله تعالى

“Di antara kelompok menyimpang adalah orang yang berkata dengan paham hulul dan ittihad. Mereka adalah orang-orang bodoh dari orang-orang yang mengaku sufi, mereka mengatakan bahwa Allah adalah wujud yang mutlak dan bahwa selain Allah tidak disifati sama sekali dengan ada, sehingga ketika mereka mengatakan: “Manusia itu ada”, maknanya adalah bahwa dia memiliki hubungan dengan wujud yang mutlak yaitu Allah ta’ala.

Catatan

⛔️ Hulul adalah keyakinan yang mengatakan bahwa jika seseorang telah menjadi wali maka Allah akan bertempat pada badan orang tersebut.

Paham ini dahulu pernah dianut oleh Abu Manshur al Hallaj yang divonis kufur oleh para qodli dari madzhab empat.

⛔️ Al Ittihad adalah keyakinan yang mengatakan bahwa Allah adalah alam semesta ini, alam semesta ini adalah Allah, setiap bagian dari alam ini adalah bagian dari Allah. Penganut paham sesat ini mengatakan, saya adalah Allah, kamu adalah Allah, gunung adalah Allah, tembok adalah Allah dan seterusnya.

Dua akidah tersebut bertentangan dengan Akidah Aswaja yang menegaskan bahwa Allah ada tanpa tempat, Allah tidak menempel atau berpisah dari makhluk-Nya, Allah bukan asal dari sesuatu atau cabang dari sesuatu.

قال العلامة الأمير في حاشية عبد السلام: وهو كفر صريح ولا حلول ولا اتحاد فإن وقع من أكابر الأولياء ما يوهم ذلك أول بما يناسبه كما يقع منهم في وحدة الوجود، كقول بعضهم ما في الجبة إلا الله، أراد أن ما في الجبة بل والكون كله لا وجود له إلا بالله

“Al ‘Allamah al Amir dalam Hasyiyah Abdissalam mengatakan: “dan dengan demikian itu adalah kekufuran yang sharih (nyata), tidak ada hulul dan ittihad. Apabila hal yang mengindikasikan hulul dan ittihad terjadi pada diri para pembesar wali, maka hal itu harus dita’wil dengan sesuatu yang cocok dengan kondisi dan derajat kewalian mereka, sebagaimana terjadi dari sebagian mereka dalam wahdatul wujud, seperti ucapan mereka:

ما في الجبة إلا الله

Mereka menghendaki dengan perkataan tersebut, bahwa apa saja yang ada di dalam jubah bahkan apapun yang wujud di dalam seluruh alam ini, tidaklah ia terwujud kecuali dengan kehendak Allah"

Catatan:

⛔️ Dengan mengutip perkataan al Allamah al Amir, mbah Hasyim Asy'ari menegaskan bahwa Aqidah al Ittihad (wahdatul wujud) dan hulul adalah aqidah kufur, menyebabkan orang yang meyakininya keluar dari Islam. 

Al Imam al Junaid al Baghdadi berkata kepada al Hallaj (penganut paham Hulul):

لقد فتحت ثغرة في إلا سلام لا يسده إلا رأسك

"Kamu benar-benar telah membuka lobang besar dalam Islam yang tidak ada yang bisa menutupnya kecuali kepalamu".

As Syaikh al Akbar Muhyidin Ibnu Arabi berkata:

من قال بالحلول فدينه معلول وما قال بالاتحاد إلا أهل الإلحاد

"Barang siapa berkata dengan hulul maka agamanya cacat, dan tidaklah berkata dengan al ittihad kecuali ahl al ilhad (kafir)"

⛔️ Perkataan ما في الجبة الا الله adalah perkataan kufur karena menunjukkan makna hulul. Namun jika orang yang mengatakannya memahami perkataan tersebut dengan pemahaman yang tidak sesuai dengan makna yang sebenarnya, misalnya dia memahaminya dengan bahwa segala yang ada adalah terjadi dengan kehendak Allah maka orang tersebut tidak kufur. 

Tetapi dia harus diberitahu makna yang sebenarnya dan bahwa perkataan itu adalah perkataan yang kufur. 

وقال في لوائح الأنوار: من كمال العرفان شهود عبد ورب، وكل عارف نفي شهود العبد في وقت ما فليس هو بعارف، و إنما هو في ذلك الوقت صاحب حال وصاحب الحال سكران لا تحقيق عنده، فظهر مما ذكر أن المراد بوحدة الوجود والاتحاد في مذهب القوم ليس على الظاهر المتوهم، وإذا كانت عبدة الأوثان يقولون ما نعبدهم إلا ليقربنا إلى الله زلفى ولم يقولوا هم الله كيف يظن ذلك بالعارفين وإنما المراد قول العارف:

وعلمك أن كل الأمر أمر  

          هو المعنى المسمى باتحاد

“Pengarang kitab Lawaaihu al-Anwar berkata: Sebagian dari tanda sempurnanya kema’rifatan adalah syuhudu ‘abdin wa rabb. Setiap Arif (orang yang ma’rifat) yang menafikan syuhudul abdi pada waktu tertentu, maka ia bukanlah dinamakan sebagai Arif, tetapi hanya disebut sebagai Shohibul haal. Shohibul haal adalah orang yang mabuk, yang tidak memiliki tahqiq.

Dari penjelasan yang telah disebutkan, menjadi jelaslah bahwa apa yang dimaksud dengan Wahdatul Wujud dan al Ittihad dalam madzhab tasawuf adalah bukanlah hanya sekedar menggunakan parameter apa yang dhohir yang dipersangkakan. Apabila para penyembah berhala mengatakan: kami tidak menyembah berhala ini kecuali hanya menjadikannya sebagai lantaran agar kami dapat mendekatkan diri kepada Allah, mereka tidak mengatakan bahwa berhala-berhala itu adalah Allah. Bagaimana mungkin orang yang meyakini hulul dan al-ittihad dianggap sebagai orang-orang yang ma’rifat (Arifin). Tetapi yang dimaksud adalah perkataan al-‘Arif:

وعلمك أن كل الأمر أمر       

          هو المعنى المسمى باتحاد

"Pengetahuan  anda bahwa segala sesuatu adalah sesuatu itu, inilah makna yang dinamakan sebagai al-Ittihad".

Catatan

Paham al Ittihad bertentangan dengan firman Allah ta'ala:

الحمد لله رب العالمين

"Segala puji bagi Allah, tuhan alam semesta"

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa Allah itu ada dan alam juga ada. Alam itu bukan Allah dan Allah itu bukan alam. 

  • Allah adalah pencipta alam semesta
  • Allah adalah pemilik alam semesta
  • Allah adalah pengatur alam semesta

Jika perkataan yang sharih (jelas) menunjukkan makna hulul dan Ittihad diucapkan oleh seseorang maka:

  • Jika yang mengucapkannya itu dalam keadaan berakal dan sadar maka dia jatuh pada kekufuran 
  • Jika yang mengucapkannya adalah seorang wali yang sedang dalam keadaan jadzab (hilang akal karena wijdan) maka dia tidak jatuh pada kekufuran. 

Tetapi kita harus melarangnya untuk mengucapkannya dan tidak membiarkannya bergumul dengan masyarakat, karena dikhawatirkan ucapan tersebut akan diikuti oleh orang-orang Awam.

Intaha.

Posting Komentar untuk "Kesesatan Keyakinan Tanaskhil Arwah"