Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membongkar Kesesatan Wahhabi: 9 Point Utama dan mendasar

 Membongkar Kesesatan Wahabi


Kemunculan orang-orang yang beraqidah tasybih-tajsim di tengah masyarakat muslimin di dunia manapun, termasuk di negeri nusantara yang saat ini, yang mana sebagian besar mereka ada pada *kelompok wahhabi*. Mereka adalah para pengikut Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi an-Najdi, Bin Baz, al-Utsaimin, Jamel Zeeno, Albani, Yusuf al-Qardhawi dan lainnya....

Dapat Dipastikan kehadiran mereka menimbulkan keretakan ukhuwwah islamiyyah diantara ummat Islam, muncul kekacauan dan bahkan terjadi kekerasan, pengeboman, terorisme, pertumpahan darah bahkan pembunuhan.

Hal ini sudah terjadi di banyak tempat di berbagai daerah di banyak negara yang mayoritas ummat Islamnya beraqidah tanzih (tawhid): Ahlussunnah wal-Jama'ah (Asya'irah-Maturidiyah).

*Ingatlah...*

Bahwa saat ini sudah muncul beberapa kelompok dan orang yang menyebarkan kesesatan. Di antaranya ada kelompok yang mengatakan bahwa Allah ada di atas arsy (wahabi), ada kelompok yang mengatakan bahwa perbuatan ikhtiyar manusia tidak diciptakan Allah (Mu'tazilah), ada kelompok yang mengatakan bahwa ada nabi lagi setelah diutusnya Nabi Muhammad (Ahmadiyah) dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan lain, seperti hulul dan lainnya.

Agar mengetahui siapa saja mereka, maka dari guru guru kami, untuk memperdalam terlebih dahulu dan mengajarkan Aqidah Ahlussunnah Waljamaah. Tentunya menyebarkan Aqidah ini, seseorang harus terlebih dahulu untuk mempelajari ilmu agama kepada ulama' yang tsiqat (kredibel / ahli di bidangnya). 

Di antara point terpenting dari Aqidah Ahlussunnah wal jamaah adalah meyakini bahwa *ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH*. karena dengan keyakinan inilah seseorang akan selamat dari kekalnya dia jika masuk neraka. Artinya jika seseorang meyakini bahwa Allah ada di atas langit atau bersemayam di atas arsy, maka dia kekal di neraka. Na'uudzu billaah min dzaalik. 

Lalu siapa sebenarnya wahabi? Mu'tazilah? Ahmadiyah? Hulul? 

Pada kali ini, akan dibahas bab kesesatan wahabi. Maka simak baik baik. Agar jangan sampai keliru pemahamannya. Jika tidak paham atau masih kurang mengerti maka bertanyalah.... Bisa di grup ini atau lewat wapri (wa pribadi). 

*Awas*:

Bab kesesatan wahabi ini butuh konsentrasi tinggi untuk memahaminya. Maka harus dibaca berulang-ulang agar bisa memahaminya. 

*Sejarah munculnya kesesatan aqidah*

Setelah tahun 260 H menyebarlah bid'ah beberapa kelompok yang berlawanan dengan aqidah Rasulullah dan para shahabatnya, diantaranya *Mu'tazilah, Khawarij, Musyabbihah/Mujassimah dan lainnya.* 

Maka dua Imam yang agung pada zaman itu, yaitu Imam al-Asy'ari (wafat: 324 H) dan Imam al-Maturidi (wafat: 333 H) -radhiyallaahu 'anhumaa- menjelaskan : 

1. Aqidah Islam yang diyakini Rasulullah -shallallaahu 'alayhi wa sallam-, para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, 

2. dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (baik dari al-Qur'an maupun al-Hadits), 

3. mengemukakan dalil-dalil aqli (argumen rasional) dan 

4. disertai bantahan-bantahan (rudud) terhadap asy-syubuhat; 

syubhat-syubhat (yaitu sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal/perkara yang sebenarnya) dari kelompok-kelompok yang menyalahi aqidah Rasulullah -shallallaahu 'alayhi wa sallam- dan juga menyalahi aqidah para shahabatnya.  

Karena itulah selanjutnya setelah berhasil menenggelamkan kesesatan-kesesatan tersebut sebutan *AHLUSSUNNAH WAL-JAMA'AH* dinisbatkan kepada kedua imam Ahlussunnah wal-Jama'ah ini beserta para pengikutnya hingga zaman ini. (Golongan Asya'irah/Asy'ariyyah dan Golongan Maturidiyyah).

*Munculnya Ibnu Taimiyah Penyebar Mujassimah*

Ibnu Taimiyah ini (661-728 H), menjadi penyebar ajaran mujassimah. Buktinya adalah Ulama Besar ahli tafsir alquran dengan Maknanya, ahli hadits, bergelar MUJTAHID (seperti imam 4 mazhab) yang Hidup Sejaman Ibnu Taimiyah, mengkafirkan Ibnu Taimiyah. Dan semua kesesatan Ibnu Taimiyah ditulis di Kitab yang berjudul *Ad Durrah al Mudliyyah Fi ar Radd Ala Ibn Taimiyah"*, artinya "Mutiara yang bersinar dalam bantahan terhadap Ibnu Taimiyah".

Beliau adalah Qadli al Qudlat al Imam al Hafizh al Mufassir al Mujtahid

Ali ibn Abdil Kafi as Subki (w 756 H)

Seorang ulama besar yang telah mencapai derajat mujtahid mutlaq. Hidup semasa dengan Ibnu Taimiyah dan telah mengkafirkan Ibnu Taimiyah karena kesesatan-kesesatannya.

Dan banyak sekali ulama' sezaman dengan Ibnu Taimiyah sepakat mengkafirkan Ibnu Taimiyah. 

Kemudian Ibnu Taimiyah ini dihukum penjara seumur hidup dan mati dalam penjara. Setelah itu para ulama berjuang melawan dan menghapus kesesatan yang di bawa oleh Ibnu Taimiyah tersebut. Dan menegakkan Ahlussunnah wal Jamaah yang dibersihkan oleh para ulama dari kalangan Imam Asy'ari dan Imam Maturidiy.

*Lahirnya Ajaran Wahabi*

WAHABI adalah ajaran yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman at-Tamimi (1115-1206 H / 1703-1792 M) dari Najd, Semenanjung Arabia. 

Setelah ajaran musyabbihah - mujassimah yang disebarkan ibnu taimiyah diberantas oleh para ulama aswaja. 

Setelah ratusan tahun berlalu, ajaran ibnu taimiyah ini dihidupkan kembali lagi oleh Muhammad bin Abdul Wahab dengan membawa pemikiran baru dan dengan mengatas namakan Islam, dan hingga kini pun kita masih merasakan kericuhan yang telah mereka timbulkan sejak dulu, bahkan semakin hari bahaya pemikiran mereka semakin bertambah-tambah. 

Pemikiran sesat ini pada awalnya muncul dari wilayah Najd, sebagai bukti kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

بِهَا يَطْلَعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ (رواه البخاري)

Maknanya: “Dari sana (Najad) akan muncul tanduk setan (pimpinan orang sesat)”  (Riwayat al-Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

مِنْهَا يَخْرُجُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ (رواه الترمذي)  

Maknanya: “Dari sana (Najad) akan lahir tanduk setan”  (Riwayat at-Turmuzdi)

Oleh karena begitu kentalnya pemikiran sesat di hati mereka dengan mengatas namakan Islam, mereka sanggup secara mutlak mengkafirkan semua orang yang tidak sealiran dengannya, bahkan berfatwa halal darahnya (boleh membunuh orang yang tidak sealiran dengannya)

*Aqidah dan ajaran sesat wahabi*

Islam ini sejatinya agama yang cinta damai dan menentramkan. Tetapi semenjak muncul aliran sesat wahabi, Islam yang damai dan tentram menjadi tercemari oleh mereka. 

Ajaran yang di usung oleh wahabi sejatinya *bukan ajaran Islam*, karena mereka telah membuat ajaran baru berdasarkan pemikiran mereka sendiri dan bertentangan dengan ajaran ulama terdahulu. Namun *liciknya* mereka mendakwakan diri dengan slogan "kembali kepada Qur'an dan sunnah" atau "mengikut manhaj salaf". 

Padahal Qur'an dan sunnah jauuuuh sekali dari apa yang mereka dakwakan.  Mereka sama sekali tidak mengikut dan tidak mengenal mazhab, dalam perkara furu' syar'i maupun ushul syar,'i. Bahkan ada diantara mereka yang sampai menghukum kufur ulama mazhab, wal'iyadzubillah. 

*Awas:*

Seandainya diantara mereka ada yang mengambil fatwa ulama mazhab (baik Imam Hanafi, Maliki, Syafi'i, atau hanbali), maka sejatinya ini hanya kedok belaka untuk mengelabuhi agar seolah-olah mereka bermazhab. Padahal sebenarnya mereka hanya memilih fatwa yang sesuai hawa nafsu mereka saja. Karena bukti dari hawa nafsu mereka adalah memvonis selain ajaran mereka adalah ahlul bid'ah yang mereka sesatkan.

*Perhatian*:

Oleh karena itu, para ulama' Ahlussunnah wal-Jama'ah. Diantaranya dituturkan oleh :

1. Imam al Hafizh Ibnu Hajar al 'Asqalani dalam Kitab Fath al-Bari Syarh Shahih al Bukhari, 

2. Syekh Muhammad Nawawi al-Asy'ari asy-Syafi'i al-Bantani al-Jawi dalam mukaddimah Kitab Maraqi al-Ubudiyyah.

Mengatakan:

"Termasuk di antara perkara yang difardhukan oleh syara' adalah menyebarkan aqidah Ahlussunnah wal-Jama'ah dan *memperingatkan masyarakat luas dari orang-orang yang menyalahinya; menjelaskan dan tahdzir; mewaspadai dari paham-paham sesat di tengah masyarakat saat ini, seperti aqidah dan ajaran kelompok radikal wahabi musyabbihah-mujassimah, mu'tazilah, qadariyyah, syi'ah, ahmadiyah, hizbuttahrir, hizb al-ikhwan para pengikut Sayyid Quthb, sufi-sufi gadungan dan kelompok-kelompok lainnya yang menyalahi ushul i'tiqad ulama' salaf; prinsip-prinsip dasar aqidah Ahlussunnah wal-Jama'ah (al-Asya'irah-al-Maturidiyyah)*".

Lalu Apa Aqidah sesat Wahabi dan ajarannya?

Pada intinya, wahabi mengikuti aqidahnya Ibnu Taimiyah, yaitu *aqidah mujassimah-musyabbihah*.

Para tokoh utama ulama madzhab Syafi’i (Syafi’iyyah) menyatakan kekufuran Mujassimah/Musyabbihah (sebagaimana keyakinan yang ditulis oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dan para pengikutnya dari kalangan wahabi zaman ini dan yang sejalan dengan aqidah tajsim dan tasybih mereka). 

(Disebutkan oleh Imam al-Hafizh an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh  al-Muhadzdzab, juz 4, hlm 253, Syekh Taqiyyuddin al-Hushni dalam kitab Kifayah al-Akhyar, juz 1, hlm 495, Syekh as-Sayyid al-Bakri ad-Dimyathi dalam Hasyiyah I’anah ath-Thalibin, juz 2, hlm 47, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam kitab Sabil al-Muhtadin, juz 2, hlm 39).

*Awas Hati-hati*:

IBNU QAYYIM AL JAUZIYYAH ini berbeda orang dengan IBN AL JAUZIY. 

*Ibn al-Jauziy* adalah al-Imam al-Hafizh Abdurrahman ibn Abi al-Hasan al-Jauzi (w 597 H), *Imam Ahlussunnah terkemuka*, ahli hadits, ahli tafsir, dan seorang teolog (ahli ushul) terdepan. Beliau bermadzhab Hanbali.

Adapun *Ibn Qayyim al-Jauziyyah* ini adalah Muhammad ibn Abi Bakr az-Zar’i (w 751 H) *murid dari Ibn Taimiyah* yang dalam keyakinannya persis sama dengan Ibn Taimiyah sendiri. dua-duanya orang sesat dan menyesatkan.

Di antara kesesatannya Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, yaitu:

  1. Orang yang tawassul dengan Nabi atau orang-orang saleh adalah orang musyrik, 
  2. Perjalanan untuk ziarah ke makam Rasulullah adalah perjanan maksiat, 
  3. Berkeyakinan Allah duduk di atas arsy,
  4. Berkeyakinan bahwa neraka akan punah dan siksaan terhadap orang-orang kafir di dalamnya akan habis, dan berbagai lainnya. semua ini dia tuliskan dalam karya-karyanya sendiri...

*Aqidah Tri Tauhid Wahabi*

WAHABI adalah aliran yang dasarnya adalah aqidah mujassimah & musyabbihah. Dan dasar aqidah diambil dari aqidah yang dibuat oleh ibnu taimiyah, Yaitu aqidah Tri Tauhid.

Aqidah yang dibuat oleh Ibnu Taimiyah (abad ke 7 H) ini belum pernah ada sebelumnya. Tidak ada siapapun dari para ulama sebelumnya yang telah membagi tauhid kepada 3 bagian, yaitu tauhid Uluhiyah, Rububiyah dan asma' wa ash-sifat. 

Dengan aqidah buatannya ini, Ibnu Taimiyah mengkafirkan umat islam hanya karena tawasul dan tabarruk dengan para Nabi dan orang-orang shaleh. Menurut Ibnu Taimiyah, orang-orang yang bertawassul dan tabarruk ini adalah orang-orang yang tidak paham tauhid uluhiyyah, mereka hanya menerapkan tauhid rububiyyah saja. 

Tauhid rububiyyah adalah pengakuan bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu. 

Tauhid Uluhiyyah adalah beribadah hanya kepada Allah saja.

*Awas*:

Dari sini sekilas tampak benar, tetapi ternyata menghancurkan umat islam. Karena orang islam yang bertawasul, menurut Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya (wahabi) tidak menerapkan tauhid uluhiyah, sehingga seluruh umat islam yang bertawasul dikafirkan oleh wahabi. Padahal, --masih menurut Ibnu Taimiyah--, pengakuan terhadap tauhid rububiyyah seperti itu tidak hanya oleh orang-orang islam saja, tetapi juga diakui oleh orang-orang kafir dan musyrik. (Ibnu Taimiyah, "Fatawa Ibn Taimiyah, j.14, hal.380).

Sehingga menurut wahabi, berdasarkan tauhid rububiyyah ini, fir'aun itu lebih islami daripada orang-orang yang bertawassul dan bertabarruk. Na'udzubillah min dzalik.

Yang lebih parah lagi adalah kreasi Ibnu Taimiyah dalam menetapkan Tauhid asma' wa ash-sifat. Tujuan utamanya adalah untuk menegaskan bahwa teks-teks mutasyabihat, baik dalam Al Qur'an maupun dalam hadits-hadits Nabi tidak boleh dipahami dengan takwil. Ibnu Taimiyah mewajibkan memahami nash-nash mutasyabihat dengan makna dzahirnya atau makna literalnya. Dari sinilah, wahabi menjisimkan dan mentasybihkan Allah. 

Dan berkembang istilah baru dikalangan wahabi yaitu *"Al Mu'awwil Mu'ath-thil"*, artinya orang yang melakukan takwil adalah orang yang telah menafikan, mengingkari dan mendustakan teks-teks syari'at. Dan dianggap kafir oleh wahabi. Dan para pengikut Ibnu Taimiyah ini begitu gigih menentang pemberlakuan takwil.

Sehingga, al Hasil, dengan dasar Tri Tauhid ini, Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya kemudian mengkafirkan seluruh orang islam, kecuali kelompok mereka sendiri yang sepaham dan sejalan dengan pembagian tauhid tersebut.

Dan celakanya, Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri wahabi) ini sepenuhnya mengikuti Aqidah Tri Tauhid bahkan juga menghidupkan faham faham ekstrim Ibnu Taimiyah (seperti menghalalkan darah orang yang menentang ajaran wahabi).

*Kerancuan Tri Tauhid*

*Perhatian*:

Membaca ini perlu hati-hati dan diulang-ulang agar dapat dipahami. 

Jika tidak paham, bertanyalah!

*Agar lebih jelas kerancuan Tri Tauhid*, maka kita sebut pengikut Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab dengan *At-Taimiyyun, dan atau Wahhabiyyah*. Mereka ini mengatakan bahwa:

"Orang-orang kafir musyrik adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dari segi tauhid rububiyyah, mereka hanya tidak mentauhidkan Allah dari segi tauhid uluhiyyah saja."

Maka menurut at-Taimiyyun, orang-orang kafir musyrik adalah para ahli tauhid rububiyyah. Adapun bahwa mereka disebut kafir --menurut atTaimiyyun-- adalah karena mereka membuat wasilah-wasilah (perantara) untuk mendekatkan kepada Allah. Yaitu dengan cara menyembah berhala-berhala. (Ini jelas rancu)

Lalu --disinilah letak exstrimisme-- dengan dasar keyakinan inilah, at Taimiyyun kemudian mengatakan bahwa orang-orang mukmin yang membuat wasilah-wasilah kepada Allah dengan jalan mencari berkah kepada para Nabi atau para wali mereka juga sama adalah orang-orang kafir musyrik. (Rancu kedua; mengkafirkan orang islam)

At Taimiyyun menganggap sama orang kafir musyrik dengan orang islam yang bertawassul, yaitu dikafirkan. Lalu untuk menguatkan tuduhannya, at Taimiyyun banyak mengutip ayat ayat al Qur'an yang turun untuk orang kafir, lalu oleh mereka diberlakukan terhadap orang-orang islam. (Disini rancu, menempatkan ayat ayat tidak pada tempatnya).

*Dan kesimpulan puncak at Taimiyyun atau wahhabiyyah, mengatakan bahwa:

"Orang islam yang melakukan tawassul, atau istighotsah (meminta pertolongan) dengan para nabi, wali, atau malaikat, serta tabarruk (mencari berkah) dengannya adalah orang kafir".*

Dari sini dapat dipahami? 

*9 Point Utama dan mendasar kesesatan Ajaran Wahhabi*

Sedikitnya ada 9 point utama dan mendasar tentang kesesatan ajaran wahabi, point-point ini sangat kuat dan sangat logis dalam membongkar kedok faham pembagian tauhid menjadi tiga macam.

*(Satu):*

Sebelum Ibnu Taimiyah tidak pernah dikenal adanya pembagian tauhid kepada tauhid Uluhiyyah, Rububiyyah dan al-Asma’ wa ash-Shifat. Logikanya, orang-orang mukmin sebelum abad tujuh hijriyah; --yaitu masa sebelum datangnya Ibnu Taimiyah sendiri--, adalah orang-orang yang tidak mengenal pembagian tauhid kepada Uluhiyyah, Rububiyyah dan al-Asma’ wa ash-Shifat ini. Itu artinya dalam pandangan Ibn Taimiyah mereka adalah orang-orang yang tidak benar dalam keimanannya, karena mereka tidak membeda-bedakan tauhid Uluhiyyah dan tauhid Rububiyyah. Tentu logika seperti ini tidak sehat. 

Seandainya ditanya mana dalilnya pembagian tauhid menjadi tiga, tentu dapat dipastikan mereka (taimiyyun dan wahabi) akan kebingungan dan berasalan yang tidak nyambung.

*(Dua):*

Al-Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam madzhab Hanbali, --di mana Ibnu Taimiyah dan pengikutnya (at-Taimiyyun) mengaku bermadzhab Hanbali-- tidak pernah mengatakan bahwa tauhid terbagi kepada tiga macam; Uluhiyyah, Rububiyyah dan al Asma' wa ash-Shifat. Al-Imam Ahmad tidak pernah mengatakan bahwa orang-orang musyrik adalah orang-orang ahli tauhid dari segi tauhid Rububiyyah. Al-Imam Ahmad juga tidak pernah mengatakan bahwa orang-orang mukmin yang tidak mengetahui tauhid Uluhiyyah maka mereka sama dengan orang-orang musyrik kafir. 

Sesungguhnya akidah Al-Imam Ahmad telah dibukukan oleh para pengikutnya dari orang-orang alim terkemuka dan orang orang shaleh. 

Silahkan diperiksa, misal kitab Manaqib al-Imam Ahmad karya al-Imam al-Hafizh Ibnul Jawzi, atau kitab-kitab lainnya dari ulama madzhab Hanbali terkemuka sebelum Ibnu Taimiyah; anda tidak akan mendapatkan satupun pernyataan al Imam Ahmad yang menetapkan tauhid terbagi kepada Uluhiyyah, Rububiyyah dan al-Asma' wa ash-Shifat.

*(Tiga):*

Para sahabat Rasulullah, --yang notebene orang orang yang hidup bersama Rasulullah, mereka mendengar dan melihat apa yang diajarkan oleh Rasulullah--, tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan bahwa tauhid terbagi kepada tiga macam; Uluhiyyah, Rububiyyah dan al-Asma‟ wa ash Shifat. 

Silahkan diperiksa seluruh kitab-kitab hadits. Dapat dipastikan bahwa tidak akan menemukan seorangpun dari sahabat Rasulullah mengatakan bahwa Abu Lahab, --seorang yang dilaknat oleh Allah dalam al-Qur‘an-- adalah sebagai orang yang mengetahui tauhid Rububiyyah. Sebaliknya, yang ada dalam hadits adalah ketika sahabat Mu‘ad ibn Jabal diutus oleh Rasulullah untuk berdakwah di wilayah Yaman, Rasulullah berkata kepadanya:

ادْعُهُمْ إلَى شهَادَةِ أنْ لا إلهَ إلاّ اللهُ وأنَّ محمّدًا رَسُولُ الله (رواه البُخَاريّ وغيْرُه) 

“Ajaklah mereka untuk bersaksi “La Ilaha Illallâh” (tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah)... (HR. al-Bukhari dan lainnya). 

Rasulullah tidak berkata kepada sahabat Mu’adz; “Suruhlah mereka juga bersaksi “La Rabba Illallah”. Rasulullah tidak pernah berkata kepada Mu’adz; “Hendaklah mereka bersaksi dengan dua tauhid sekaligus; tauhid Uluhiyyah dan tauhid Rububiyyah. Karena tidak cukup hanya dengan salah satu tauhid saja, tetapi juga harus dengan keduanya”. Demikian pula Rasulullah tidak berkata kepada Mu’adz: “Mereka adalah para ahli tauhid Rububiyyah, maka yang hendaknya engkau serukan kepada mereka hanya tauhid Uluhiyyah”. 

Jadi, Ibnu Taimiyah ini membuat hal yang baru dalam aqidah. Dan itu menyalahi aqidah rosulullah. 

*(Empat):*

Tidak ada satupun hadits Rasulullah menetapkan pembagian tauhid kepada tauhid kepada Uluhiyyah, Rububiyyah dan al-Asma’ wa ash-Shifat. Sebaliknya, ada banyak hadits-hadits Rasulullah yang memberikan pemahaman bahwa kata al-Ilah memiliki makna yang sama dengan kata ar-Rabb. Dalam sebuah hadits mutawatir yang sangat populer, Rasulullah bersabda:

أُمِرْتُ أن أُقَاتِلَ النّاسَ حَتّى يَشْهَدُوا أن لا إلهَ إلاّ الله وأني رَسولُ الله (روَاهُ البُخاري وَغيرُه)

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah (Ilah) kecuali Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah”. (HR. al-Bukhari dan lainnya). 

Tidak ada satupun hadits mengatakan bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah sebagai orang-orang ahli tauhid dari segi tauhid Rububiyyah, mereka hanya tidak mengetahui tauhid Uluhiyyah. Juga tidak ada satupun hadits menetapkan bahwa orang-orang kafir tersebut sama dengan orang-orang Mukmin dari segi tauhid Rububiyyah. 

*(Lima):*

Jika seorang kafir hendak masuk Islam maka jalannya hanyalah satu. Mengucapkan dua kaliamat syahadat dengan mulutnya (dan bukan dari pengakuan orang lain, siapapun dia) dan meyakini maknanya dengan hatinya. Seorang yang semula kafir dengan hanya mengucapkan:

أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إلا الله وأشْهَدُ أنّ محمدا رَسُولُ الله

maka ia dihukumi Mukmin Muslim. demikian pula seandainya ia mengucapkan “La Rabba Illallah...” maka syahadat-nya dapat dianggap cukup. Demikian dikatakan oleh para Ulama kita. 

Oleh karena kata Ilah dan kata Rabb memiliki makna yang sama. Al-Ilah artinya; Tuhan yang berhak disembah. Demikian pula makna al-Rabb. 

Dalam hal ini, tidak dikatakan kepada orang kafir yang mau masuk Islam tersebut; 

"ber-syahadat-lah engkau dari segi tauhid Uluhiyyah saja, tidak usah ber-syahadat dari segi tauhid Rububiyyah, karena engkau telah meyakininya”. 

Tidak demikian.

*(Enam):*

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa di antara bentuk fitnah kubur adalah pertanyaan dua Malaikat Munkar dan Nakir kepada mayit. Di antara yang ditanyakan oleh Malaikat terhadap mayit di dalam kubur adalah “Man Rabbuka?”. (HR. Abu Dawud, Ahmad dan lainnya). 

Dipahami dari hadits ini beberapa perkara; 

(1). Seandainya semua orang, baik yang mukmin maupun yang kafir, sama-sama telah meyakini tauhid Rububiyyah, seperti yang diyakini oleh at-Taimiyyun, maka pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir; “Man Rabbuka?” di dalam kubur *menjadi sia-sia*, tidak bermanfaat (Tahshil al-Hashil). 

Untuk apa? 

Bukankah semuanya telah mentauhidkan Allah dari segi tauhid Rububiyyah? 

Bukankah seharusnya Munkar dan Nakir bertanya; Man Ilahuka? 

Tentu pemahaman semacam ini rusak.

(2). Di atas keyakinan at-Taimiyyun, seandainya-pun Malaikat Munkar dan Nakir bertanya dengan; 

“Man Rabbuka?”, 

maka berarti itu tidak cukup. Tetapi juga seharusnya bertanya dengan; 

“Man Ilahuka?”. 

Karena menurut at-Taimiyyun kata Rabb dan kata Ilah memiliki makna yang berbeda. Tetapi tidak ada satupun hadits yang meriwayatkan dengan pertanyaan ganda seperti itu. 

(3). Jawaban mayit mukmin shaleh terhadap pertanyaan tersebut adalah; “Allah Rabbi”. Jawaban ini tidak dibantah oleh Munkar dan Nakir. Misalkan, dengan dikatakan kepada mayit tersebut; “Itu hanya tauhid Rububiyyah! Mana tauhid Uluhiyyah-nya?”. 

Munkar dan Nakir tidak berkata: “Jawabanmu terkait dengan tauhid Rububiyyah, keyakinan itu semua orang memilikinya. Engkau seharusnya menjawab Allah Ilahi!!”. Munkar dan Nakir juga tidak meminta dari mayit tersebut untuk mengucapkan dua-duanya sekaligus; “Allah Rabbi, Allah Ilahi”. Karena Rabbi dan Ilahi itu memiliki makna yang sama. 

Dari sini kelihatan jelas kesesatan aqidah tri Tauhid at Taimiyyun dan wahabiyyun. Sangat amat buruk. Bid'ah dlolalah.

*(Tujuh):*

Kitab suci al-Qur’an yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun tidak pernah mencatatkan pembagian tauhid kepada Uluhiyyah, Rububiyyah dan al-Asma’ wa ash-Shifat. Tidak ada penyebutan dalam al-Qur’an bahwa Fir’aun dan Haman, dua manusia yang sangat durhaka, telah meyakini tauhid Rububiyyah. Atau sebaliknya, bahwa orang yang tidak mengetahui tauhid Uluhiyyah maka ia sama kafirnya dengan Fir’aun dan Haman atau lebih parah dari keduanya. 

Kalimat tauhid yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah “La Ilaha Illah”, yaitu dalam QS. Muhammad: 19. Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلاَّاللهُ (سورة محمد: 19)

Dalam ayat ini Allah memerintah Nabi kita; Muhammad untuk menetap dan memegang tegung keyakinan tauhid bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Kata “fa’lam” dalam ayat ini adalah dalam makna “fatsbut”; artinya “Tetaplah engkau”. Kata “La Ilaha Illallah” maknanya sama dengan kata “La Rabba Illallah”. Karena itu, di dalam al-Qur’an tidak ada ayat yang menyebutkan bahwa kalimat “La Ilaha Illallah” saja tidak cukup, tetapi harus diikutkan dengan kalimat “La Rabba Illallah”. Dan ini berlaku dalam seluruh ayat-ayat tauhid.

Dari sini jelas, Aqidah Tri Tauhid menyalahi Al Qur'an. Paham? 

*(Delapan):*

Dalam ayat lain tentang bahwa seluruh para Nabi dan Rasul menyeru kepada kalimat tauhid, Allah berfirman:

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ (سورة الأنبياء: 25)

“Dan tidaklah Kami (Allah) mengutus dari sebelumu (wahai Muhammad) dari seorang Rasul kecuali Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Aku, maka hendaklah kalian beribadah kepada-Ku” (QS. al-Anbiya: 25). 

Itulah kalimat tauhid; La Ilaha Illallah. Sangat jelas dalam ayat ini bahwa seruan seluruh para Nabi kepada umat manusia ini adalah agar meyakini La Ilaha Illallah. Yang juga maknanya adalah La Rabba Illallah. Karena kata al-Ilah dan kata ar-Rabb bagi Allah memiliki makna yang sama; yaitu “Yang disembah dengan haq” (al-Ma’bud Bi Haqq).

*(Sembilan):*

Para pengikut Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdil Wahhab adalah orang-orang yang paling getol menyematkan kata “bid’ah” (tabdi’), “sesat” (tadzlil), “fasiq” (tafsiq) terhadap perkara apapun; hanya karena perkara tersebut tidak ada di zaman Rasulullah dan para sahabatnya. Tidak segan mengatakan bahwa semua perkara semacam itu tempatnya adalah neraka. Saklek, mereka mengatakan setiap pelaku bid’ah adalah orang sesat, dan setiap orang sesat bertempat di neraka.

Timbul pertanyaan sederhana; apakah mereka berani mengatakan Ibnu Taimiyah seorang yang sesat? Bukankah Ibnu Taimiyah orang yang pertamakali merintis pembagian tauhid kepada Uluhiyyah, Rububiyyah dan al-Asma’ wa ash-Shifat? 

Ke sembilan point adalah point utama dan mendasar dalam rangka membongkar, dan masih banyak lagi bantahan bantahan fatwa wahabi yang seringkali ngawur. 

*Sesungguhnya tumpuan dan pondasi pokok dari ajaran-ajaran Ibnu Taimiyah adalah berangkat dari pemahaman tiga tauhid ini*. Faham ekstrim apapun dari Ibnu Taimiyah, seperti pernyataannya bahwa Allah punya bentuk dan ukuran, Allah bersifat dengan sifat-sifat benda; seperti gerak, turun, naik, datang, bertempat, duduk, dan lainnya.

Lalu pernyataannya bahwa Allah memiliki anggota-anggota badan, kemudian pernyataan ektrim lainnya; seperti bahwa perjalanan (safar) untuk tujuan ziarah ke makam Rasulullah adalah perjalanan maksiat sehingga tidak boleh melakukan qashar shalat karenanya, juga pernyataan Ibnu Taimiyah bahwa tawassul dan tabarruk dengan para Nabi atau para Wali adalah perbuatan syirik, dan berbagai faham ekstrim lainnya; semua itu sesungguhnya kembali kepada pemahaman pembagian tauhid kepada Uluhiyyah, Rububiyyah dan al-Asma’ wa ash-Shifat ini.

*Maka ketahuilah!!*

Para ulama kita (ulama ahlussunnah wal jama'ah) yang hidup semasa dengan Ibnu Taimiyah dan Muhammad ibn Abdul Wahhab, atau yang datang sesudah keduanya, telah banyak menuliskan bantahan terhadap faham-faham ekstrim keduanya.

Seandainya para ulama kita dahulu mengetahui betapa besar akibat dari faham yang dirintis oleh Ibnu Taimiyah dan Muhammad ibn Abdul Wahhab di kemudian hari setelah masa mereka; maka tulisan-tulisan bantahan dari para ulama kita akan jauh lebih banyak dan lebih kuat lagi terhadap berbagai faham dua orang kotroversial ini.

Intaha

Bersambung

Allah Ada Tanpa Tempat

Posting Komentar untuk "Membongkar Kesesatan Wahhabi: 9 Point Utama dan mendasar"