Shalat Ar Raghaib Bid'ah Munkar dan Hadits-hadits Palsu di Bulan Sya'ban
Ada beberapa hadits palsu tentang bulan Sya'ban yang tidak boleh dinisbatkan kepada Rasûlullâh ﷺ, seperti berikut:
Maknanya:
*“Rajab adalah bulannya Allah, Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku”*,
Hadits ini adalah tidak memiliki asal menurut ulama hadits.
قال الحافظ الزين العراقي في شرح الترمذي: حديث ضعيف جدًا هو من مرسلات الحسن رويناه في كتاب الترغيب والترهيب للأصفهاني ومرسلات الحسن لا شيء عند أهل الحديث ولا يصح في فضل رجب حديث اهـ.
*Al-Imam al-Hafdih Zainuddin al-‘Iraqiy* dalam kitabnya “Syarh at-Tirmizdi” mengatakan :
“Hadits ini adalah hadits yang sangat dha’if sekali, dia termasuk hadits yang diriwayatkan dalam kitab “Mursalat al-Hasan”, kami meriwayatkan hadits itu dalam dalam kitab “at-Targhib wa at-Tarhib” karya al-Ashfahaniy, dan sesungguhnya kitab “mursalat al-hasan” *tidak dianggap sama sekali oleh ahli hadits*, dan *tidak ada yang shahih* hadits tentang pengkhususan keistimewaan bulan rajab”.
وقال الحافظ ابن حجر في كتابه تبيين العجب فيما ورد في رجب: رواه أبو بكر النقاش المفسر، وسنده مركب، ولا يعرف لعلقمة سماع من أبي سعيد، والكسائي المذكور في السند لا يُدرى من هو، والعهدة في هذا الإسناد على النقاش.
وأبو بكر النقاش ضعيف متروك الحديث قاله الذهبي في الميزان.
والنقاش هذا هو مؤلف كتاب “شفاء الصدور”، قال الخطيب الحافظ أبو بكر بن ثابت البغدادى فى تاريخه: بل هو شقاء الصدور ثم ذكر كلام الناس فى النقاش واتهامهم له بالوضع وقال إن أحاديثه مناكير.
*Al-Hafidh Ibnu Hajar al-‘Asqalani* dalam kitabnya “Tabyîn al-‘Ujab Fî Mâ Warada Fî Rajab”, menerangkan:
*“hadits itu diriwayatkan oleh Abu Bakr an-Naqqâsy al-mufassir, dan sanadnya murokkab (*dibuat-buat*), dan sama sekali tidak pernah diketahui bahwa ‘Alqamah pernah mendengar hadits itu dari Abu Sa’id, dan al-Kisâiy yang disebutkan namanya dalam deretan sanadnya sama sekali tidak diketahui siapa dia yang dimaksud (yakni tidak diketahui maksud perawi itu al-Kisâ’iy yang mana ??), dan yang diketahui dalam sanad hadit ini adalah disematkan kepada an-Naqqâsy.
Sedangkan Abu Bakr an-Naqqâsy sendiri adalah seorang yang dho’if dan riwayat *haditsnya matruk (tertolak)*, sebagaimana dinyatakan oleh adz-dzahabiy dalam kitabnya “al-Mizaan”*
An-Naqqâsy di sini adalah pengarang kitab “Syifâ’ ash-Shudûr”, namun *al-Imam al-Khathib al-Hafidh Abu Bakr ibn Tsabit al-Baghdadi* dalam kitab “Tarikh”nya mengatakan:
*“akan tetapi kitabnya itu adalah jadi “kesengsaraan hati”* (yakni bukan obat hati), kemudian beliau menyebutkan penilain orang-orang ahli ilmu tentang an-Naqqâsy dan penyematan mereka kepadanya bahwa dia adalah orang yang maudhu’ (pemalsu hadits), beliau *berkata: “hadits-hadits riwayat an-Naqqâsy adalah hadits-hadits munkar”*.
وقال طلحه بن محمد بن جعفر الحافظ : كان النقاش يكذب فى الحديث.
*Al-Imam al-Hafidh Thalhah ibn Muhammad ibn Ja’far* mengatakan: “adalah si an-Naqqâsy ini *berbuat dusta dalam periwayatan Hadits*”.
وقال البرقانى: كل أحاديثه منكر والكسائي هذا غير معروف اهـ.
Al-Barqānī berkata: "Semua haditsnya munkar, dan al-Kisā’ī ini tidak dikenal.’”
وقال الحافظ السيوطي في الجامع الصغير: ضعيف رواه أبو الفتح بن الفوارس في أماليه عن الحسن مرسلاً.
*Al-Imam al-Hafidh as-Suyuthi* dalam kitabnya al-Jami’ ash-Shaghir mengatakan:
“hadits ini adalah dha’if, ia diriwayatkan oleh Abu al-Fath ibn al-Fawaris dalam kitabnya “al-Amaliy” dari al-Hasan secara mursal”.
وقال العجلوني في كشف الخفاء: رواه الديلمي وغيره عن أنس مرفوعا لكن ذكره ابن الجوزي في الموضوعات بطرق عديدة، وكذا الحافظ ابن حجر في كتاب تبيين العجب فيما ورد في رجب.اهـ
هذا الحديث جاء من طريق أبي سعيد الخدرى و أنس بن مالك فأما حديث أبى سعيد الخدرى رضى الله عنه فأخرجه ابن الجوزى فى الموضوعات وابن عراق فى التنزيه من طريق محمد بن حسن النقاش حدثنا أحمد بن العباس الطبرى حدثنا الكسائي حدثنا…. إلى أن انتهى عند أبى سعيد الخدرى وذكر الحديث قال ابن الجوزى: هذا حديث موضوع على الرسول صلى الله عليه وسلم والكسائى لا يعرف والنقاش متهم.اهـ
*Al-‘Ajlûniy* dalam kitabnya “Kasyf al-Khafâ’” mengatakan:
“hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailami dan lainnya dari Anas secara marfu’, akan tetapi ia disebutkan oleh Ibn al-Jauziy dalam kitabnya “al-Mudhu’at” *(kitab tentang hadits-hadits palsu)* dengan beberapa jalur, demikian juga disebutkan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitabnya “Tabyîn al-‘Ujab Fîma> Warada Fî Rajab”.
Hadits tentang rajab yang menyebar ini diklaim bahwa ia diriwayatkan dari jalur Abu Sa’id al-khudri dan Anas ibn Malik.
Adapun yang disematkan bahwa ia dari riwayat Abu Sa’id al-Khudri semoga Allah meridhainya, maka ia disebutkan oleh Ibn al-Jauzi dalam kitabnya “al-Maudhu’at”, dan disebutkan oleh Ibn ‘Irâq dalam kitabnya “at-Tanzîh” dari jalur Muhammad ibn Hasan an-Naqqâsy bahwa dia berkata:
*“telah berkata kepada kami Ahmad ibn ‘Abbas ath-Thabari, dia berkata: telah berkata kepada kami *al-Kisai’iy*, dia berkata…………..(dan seterusnya) sampai ujung riwayat habis pada Abu Sa’id al-Khudriy, lalu *an-Naqqa>sy* menyebutkan haditsnya*….,
al-Imam Ibnu Jauzi setelah membeberkan apa yang diriwayatkan oleh an-Naqqâsy ini lalu mengomentari: *“Hadits ini adalah palsu (maudhu’) yang disematkan kepada Rasulullah, al-Kisâ’I di sini tidak diketahui kejelasan siapa orangnya, sedang an-Naqqâsy sendiri adalah orang yang dicap pendusta dalam riwayat”*.
Demikian juga seperti hadits:
رجب شَهرُ الاستِغْفَارِ وشعبانُ شهرُ الصلاةِ ورَمضانُ شهرُ القرءَانِ فَاجْتَهِدُوا رَحِمَكُمُ اللهُ
Maknanya:
"Rajab adalah bulan istighfar, Sya'ban adalah bulan shalawat nabi, dan Ramadlân adalah bulan Al Qur'an, maka bersungguh-sungguhlah kalian رَحِمَكُمُ اللهُ"
Ini juga hadits palsu. Tidak ada asalnya, menurut para ulama hadits.
Dan diantara yang mereka dustakan atas Rosulullah, adalah perkataan mereka:
"Ketika datangnya bulan rajab: "Barangsiapa yang memberi kabar gembira kepada manusia tentang Rajab, maka ia diharamkan atas api neraka".
"Ketika datangnya bulan Sya'bân: "Barangsiapa yang memberi kabar gembira kepada manusia tentang bulan Sya'bân, maka ia diharamkan atas api neraka".
"Ketika datangnya bulan Ramadlân: "Barangsiapa yang memberi kabar gembira kepada manusia tentang bulan Ramadlân, maka ia diharamkan atas api neraka".
Semua ini adalah dusta dan pengakuan palsu atas nama Rasulullâh. Dan ini bertentangan dengan syariat, artinya seandainya orang kafir yang memberi kabar gembira tentang bulan bulan tersebut, maka ia masuk surga --Na'udzubillâh--. Kebodohan yang sudah parah.
Siapa yang berdusta atas nama Rasulullâh maka dia telah bersiap masuk neraka. --Na'udzubillâh--.
Amal shalih yang paling utama setelah iman adalah shalat. Dalam hadits, Rasulullâh ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ". (سنن التّرمذيّ)
Maknanya:
Shalat merupakan perkara pertama yang dimintai pertanggung-jawaban pada seorang hamba di hari kiamat kelak. Jika shalat baik, maka baik pula seluruh perbuatannya. Jika ia rusak, maka kerusakan (ketidaksempurnaan pahala) akan menimpa seluruh perbuatannya.
Maka disini ada pengagungan terhadap shalat terutama pada shalat fardlu 5 waktu. Karena kedudukannya yang mulia.
كان رسول الهدى صلّى اللهُ عليهِ وسلّمَ إذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلّى ، ( أي إذا نابَهُ وألَمَّ به أمر شديد صلى) أخرجه أحمد، وأبو داود.
Rasulullâh ﷺ memberikan teladan apabila menghadapi suatu masalah berat atau sangat berat, beliau mendirikan sholat, ini yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud.
Dalam redaksi hadits lainnya, Rasulullâh ﷺ bersabda:
*" وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاةِ "* أخرجه أحمد في مسنده والنسائي والبيهقي في السنن وصححه الحاكم في المستدرك وغيرهم.
Maknanya:
"Dan dijadikanlah penyejuk hatiku di dalam shalat" (H.R. Ahmad, An-Nasai, al Baihaqiy dan lainnya)
Dalam redaksi hadits lainnya, Rasulullâh ﷺ bersabda:
وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ (رواه مسلم)
Maknanya:
"Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam” (HR Muslim).
Hendaklah diketahui bahwa menghidupkan malam dengan amalan sunnah karena Allâh Ta'ala adalah termasuk perkara yang dianjurkan, baik dengan shalat, berdzikir, berdoa, atau amal sholih lainnya. Ini haruslah disertai dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi perkara yang diharamkan.
Diantara hal yang perlu diperhatikan adalah yang diterangkan oleh al Imam An-Nawawi dalam kitab al Majmu' Syarh al Muhadzdzab, disebutkan:
قال النووي في المجموع: الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب وهي ثنتى عشرة ركعة تصلى بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة في رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب وإحياء علوم الدين ولا بالحديث المذكور فيهما فإن كل ذلك باطل ولا يغتر ببعض من اشتبه عليه حكمهما من الأئمة فصنف ورقات في استحبابهما فإنه غالط في ذلك وقد صنف الشيخ الإمام أبو محمد عبد الرحمن بن اسماعيل المقدسي كتابا نفيسا في إبطالهما فأحسن فيه وأجاد رحمه الله. اهـ
"Shalat yang dikenal dengan *shalat ar-Raghaib*, yaitu dua belas rakaat yang dikerjakan antara Maghrib dan Isya' pada malam Jumat pertama bulan Rajab, serta *shalat pada malam Nisfu Sya'ban sebanyak seratus rakaat*. Kedua shalat ini adalah bid'ah dan munkar yang buruk sekali. Janganlah tertipu dengan penyebutannya dalam kitab Qut al-Qulub dan Ihya' 'Ulum ad-Din, serta jangan tertipu dengan hadits yang disebutkan di dalamnya, karena semuanya batil (tidak sah). Jangan pula tertipu dengan sebagian ulama yang keliru dalam memahami hukum keduanya, sehingga mereka menulis lembaran-lembaran tentang sunnahnya kedua shalat tersebut, karena mereka telah salah besar dalam hal itu. Dan telah menyusun Syekh al-Imam Abu Muhammad 'Abd ar-Rahman bin Isma'il al-Maqdisi sebuah kitab yang berharga dalam membatalkan keduanya, maka ia telah berbuat baik dan tepat di dalamnya, semoga Allah merahmatinya."
Jadi, di malam nishfu Sya'ban haruslah beramal dengan didasari ilmu. Orang yang beramal tanpa ilmu maka tertolak.
*Tidak ada hadits shahih bahkan dhaif yang menganjurkan shalat secara khusus di malam nishfu Sya'ban*. Yang ada justeru hadits-hadits maudhu’ (palsu), seperti hadits :
مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً يَقْرَأُ فىِ كُلِّ رَكْعَةٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ثَلاَثِيْنَ مَرَّةً لَمْ يَخْرُجْ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ
“Siapa yang shalat di malam nishfu Sya’ban sebanyak dua belas rakaat, di setiap rakaat ia membaca qulhu 30 kali, niscaya ia tidak akan keluar (meninggalkan dunia ini) sebelum ia melihat posisinya di surga nanti.”
Hadits ini dihukumi palsu oleh Imam Ibnu al-Jauzi dan Imam as-Suyuthi rahimahumallah.
Imam al-‘Iraqi dalam kitabnya al-Mughni (takhrij hadits-hadits dalam Ihya` Ulumuddin) mengatakan :
حديث صلاة نصف شعبان حديث باطل
“Hadits shalat (khusus tersebut) di nishfu Sya’ban adalah batil.”
Imam Ibnu Shalah juga berpendapat yang sama:
أما الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب فهي بدعة وحديثها موضوع وما حدث إلا بعد الأربعمائة من الهجرة
“Adapun shalat yang dikenal dengan shalat ar-raghaib, ini adalah bid’ah (munkar) dan haditsnya maudhu’. Praktek shalat ini baru terjadi tahun 400 H”.
Abdullâh Al Ghumâriy dalam kitabnya "Husn al Bayân fî Lailah an-Nishf min Sya'bân", menegaskan:
لم ترد صلاة معينة فـي ليلة النصف من شعبان من طريق صحيح ولا ضعيف وإنما وردت أحاديث موضوعة مكذوبة. ولم يثبت عن النبيّ ﷺ شيء منها وإنما للمسلم الذي يريد الخير أن يصلـي فـي هذه الليلة ما قُدّر له من الركعات النوافل من غير تقييد بعددٍ معينٍ أو هيئة خاصة بهذه الليلة.
"Tidak ada riwayat tentang shalat khusus pada malam nishfu Sya'ban dari jalur yang shahîh maupun dla'îf, justru hadits-hadits seperti itu adalah palsu dan dusta. Tidak ada riwayat yang sah dari Nabi ﷺ tentang shalat khusus tertentu pada malam Nishfu Sya'ban. Namun, seorang muslim yang ingin berbuat baik dapat melakukan shalat sunnah pada malam itu dengan jumlah rakaat yang diinginkan tanpa harus terikat dengan jumlah rakaat tertentu atau tata cara khusus yang hanya berlaku pada malam itu."
Yakni kita diperbolehkan sholat sunnah yang telah disyariatkan dan sudah ijma para ulama, seperti sholat tahajjud, shalat witir, atau pun sholat muthlaq serta lainnya yang warid.
