Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makna Bait Ke 12 Nadhom Aqidatul Awamm

 Ngaji Kitab Aqidatul Awam 12


قال المؤلف رحمه الله تعالى :

وجائز في حقهم من عرض # بغير نقص كخفيف المرض

"Dan jaiz bagi para Nabi sifat kemanusiaan dengan tanpa mengurangi (derajat kenabian) seperti sakit yang ringan".

Penjelasan

As Syaikh Ahmad al Marzuki selanjutnya menjelaskan tentang sifat jaiz bagi para Nabi (sifat yang secara akal mungkin saja ada dan terjadi pada para Nabi). Sifat jaiz bagi para Nabi adalah sifat-sifat kemanusiaan yang tidak mengurangi derajat kenabian mereka. Seperti sakit yang ringan, menikah, makan dan minum. 

Sedangkan sifat-sifat kemanusiaan yang mengurangi derajat kenabian adalah mustahil bagi para nabi*. Sifat-sifat kemanusiaan yang mustahil bagi para nabi, karena menurunkan derajat kenabian adalah seperti:

1. Penyakit yang berat dan menjijikkan, sehingga umatnya menjauhi dan lari dari dakwah mereka. 

*Perhatian*:

Waspadalah terhadap *kisah dusta* yang berkembang di masyarakat tentang Nabi Ayyub 'alayhissalam. Diceritakan dalam kisah tersebut bahwa Nabi Ayyub sakit kulit yang sangat parah di sekujur badannya, sehingga kulitnya membusuk dan penuh dengan belatung. Ketika belatung tersebut jatuh, nabi Ayyub mengembalikannya seraya berkata: "makanlah dari rizki Allah". Karena itu, semua masyarakat menjauhinya, bahkan nabi Ayyub diasingkan dari masyarakat bersama istrinya.

Kisah ini bertentangan dengan sifat jaiz bagi para Nabi. Dan juga Al Quran Surat Al Furqon ayat 20; Allah Ta'ala berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّآ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً  اَتَصْبِرُوْنَۚ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًا ۔

*Kisah nabi Ayyub yang benar*;

bahwa beliau memang sakit, tetapi sakitnya ringan dan tidak separah seperti yang diceritakan dalam kisah di atas. Hanya saja sakit beliau berlangsung sangat lama, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

كان بلاء أيوب ثمانية عشر عاما

"Sakitnya Nabi Ayyub itu 18 tahun".

Dalam waktu tersebut nabi tetap tabligh kepada ummatnya. Hanya karena sakit yang lama itulah nabi kelihatan lebih tua dari usianya.

_Kita saja kalo sakit misal 7 hari, wajah sudah pucat alias kurang seger._ 

Meskipun begitu, nabi Ayyub tetap bersabar dalam menerima taqdir Allah yang berupa musibah tersebut. Sehingga Allah menyembuhkannya. Allah berfirman:

 إِنَّا وَجَدۡنَـٰهُ صَابِرࣰاۚ

[Surat Shad 44]

"Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar" 

Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda : 

"Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi. Dan seseorang akan diberikan cobaan sesuai dengan kesalehan agamanya."

Nabi Ayyub diberikan ujian penyakit selama 18 tahun, bukan penyakit yang menjijikkan dan TANPA keluar ulat/belatung darinya, dan beliau senantiasa sabar dan tidak menentang takdir Allah.

Nabi Ayyub juga tidak pernah mengembalikan belatung ke dalam badannya, agar memakan dagingnya, karena ini bertentangan firman Allah ta'ala:

 وَلَا تُلۡقُوا۟ بِأَیۡدِیكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ

[Surat Al-Baqarah 195]

"Dan janganlah kalian jatuhkan diri kalian pada kerusakan".

*Do'a Nabi Ayyub*

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”

*Catatan:*

Penyakit yang merendahkan derajat kenabian adalah mustahil di derita oleh seorang nabi, sebab hal itu bertentangan dengan tujuan diutusnya seorang Nabi, yaitu untuk berdakwah pada umatnya. 

2. *Sabqul lisan* (terpleset lidah), yaitu mengucapkan perkataan yang tidak diinginkan, yakni apabila seseorang ingin mengatakan A tetapi yang keluar dari lisannya adalah B tanpa dikehendaki.

Sabq al-Lisan (mengatakan sesuatu tidak seperti yang diinginkan dalam hati untuk diucapkan) dalam urusan syara’ maupun urusan kehidupan manusia biasa sehari-hari. 

Secara akal, jika ada seorang nabi yang sabqul lisan dalam berbicara, maka kebenaran apa yang diucapkannya menjadi diragukan. Jika sabda seorang nabi sampai kepada umatnya, mereka akan mengatakan: "mungkin saja perkataan ini dia ucapkan dalam keadaan sabqul lisan". 

3. Pedal (tidak fashih dan tidak jelas dalam berbicara).

*Tidak benar* jika dikatakan bahwa nabi Musa itu pedal dalam berbicara akibat dari memakan bara api ketika kecil di hadapan Fir'aun.

Allah ta'ala berfirman:

وَأَخِی هَـٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّی لِسَانࣰا فَأَرۡسِلۡهُ مَعِیَ رِدۡءࣰا یُصَدِّقُنِیۤۖ إِنِّیۤ أَخَافُ أَن یُكَذِّبُونِ

[Surat Al-Qashash 34]

"Nabi Musa berkata: Saudaraku Harun lebih fasih lisannya dari pada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantu untuk membenarkanku, aku khawatir mereka mendustakanku".

Kisah yang benar, bahwa akibat dari memakan bara di waktu kecil, Nabi Musa pelan dalam berbicara, tetapi tetap jelas, fasih dan memahamkan.

Maksud dari surat Al Qashash 34 itu lebih fasih, yaitu Nabi Musa itu fasih namun ada yang lebih fasih lagi yaitu Nabi Harun. Namun setelah berdoa sebagaimama surat Thaha 25-28, Nabi Musa dan Nabi Harun sama fasihnya. 

Yaitu Setelah beliau menerima wahyu, beliau berdoa kepada Allah agar menghilangkan ikatan pada lisannya, dan Allah mengabulkan do'a beliau, sehingga beliau lancar dalam berbicara.

Allah ta'ala berfirman, menceritakan perkataan nabi Musa:

قَالَ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِی صَدۡرِی ۝  وَیَسِّرۡ لِیۤ أَمۡرِی ۝  وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةࣰ مِّن لِّسَانِی ۝ 

[Surat Tha-Ha 25 - 28]

"Nabi Musa berkata: Wahai Tuhanku lapangkanlah dadaku dan permudahlah urusanku dan lepaskanlah ikatan di lidahku"

Jadi kalo orang biasa saja pedal bicaranya itu sulit dipahami bagaimana dengan nabi, maka mustahil dan *TIDAK benar* Nabi Musa Pedal atau cedal.

4. Cacat Fisik yang permanen seperti buta, tuli, pincang dan semacamnya.

Kisah Nabi Ya'qub, beliau buta hanya beberapa waktu, tidak sepanjang hidupnya. Hal ini, Karena kesedihan yang mendalam dan banyak menangis atas nabi Yusuf, mata beliau menjadi memutih dan buta. Tetapi *setelah bertabarruk dengan baju nabi Yusuf* dan mengetahui bahwa Yusuf masih hidup, Allah mengembalikan penglihatan beliau seperti semula.

Allah ta'ala berfirman, menceritakan perkataan nabi Yusuf:

ٱذۡهَبُوا۟ بِقَمِیصِی هَـٰذَا فَأَلۡقُوهُ عَلَىٰ وَجۡهِ أَبِی یَأۡتِ بَصِیرࣰا

[Surat Yusuf 93]

"(Nabi Yusuf berkata) Pergilah kalian dengan membawa gamisku ini dan letakkanlah pada muka ayahku, niscaya dia akan melihat" 

Kisah ini Nabi Ya'qub bertabarruk ini juga menjadi dalil diperbolehkannya untuk bertabarruk.

5. Pikun (mudah lupa).

Tidak ada Nabi yang pikun. Adapun lupa dalam batas kewajaran mungkin saja terjadi, seperti yang terjadi pada Rasulullah, beliau pernah lupa jumlah rekaat shalat, beliau mengucapkan salam setelah dua rekaat, sehingga sebagian sahabat bertanya apakah beliau sedang mengqoshor sholat.

Seorang nabi tidak pernah lupa terhadap wahyu yang diperintahkan untuk menyampaikannya pada umatnya. Adapun setelah disampaikan, mungkin saja lupa, tetapi kemudian ingat lagi.

6. Gila

Tidak ada seorang nabi pun yang pernah gila. Adapun pingsan maka itu mungkin saja terjadi pada seorang nabi, seperti ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sakit menjelang wafatnya, Rasulullah ﷺ sempat pingsan karena menahan rasa sakit.

7. Terpengaruh sihir pada akalnya

Adapun terpengaruh sihir pada jasadnya maka mungkin saja terjadi, sebagaimana pernah dialami Rasulullah ﷺ.

8. Jubn (takut yang berlebihan) atau pengecut.

Seluruh para nabi adalah pemberani, tidak ada yang penakut atau pengecut. Bahkan nabi Muhammad adalah makhluk yang paling pemberani. Dan diberi kekuatan yang setara dengan 40 orang laki-laki terkuat.

Sedangkan rasa takut biasa (sifat manusia), maka tidak mustahil bagi para Nabi seperti menjauh dari ular berbisa ketika tiba-tiba mendekat ke seseorang. Atau sejenisnya.

Jadi sangat mustahil bagi para Nabi: 

  • berbohong, berkhianat, 
  • ar-Radzalah; perangai (akhlak) orang-orang  yang rendah dan hina, tidak ada di antara para nabi yang rendah dan hina; mencuri pandang terhadap perempuan ajnabiyyah dengan syahwat misalnya, juga tidak ada di antara para nabi yang mencuri walau hanya satu biji anggur. 
  • as-Safa-hah; melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hikmah, jadi tidak ada di antara para nabi yang safih; mengucapkan perkataan yang keji dan  dipandang buruk. 
  • al Baladah (bebal). Jadi tidak ada di antara para nabi yang bebal dan tidak mampu menegakkan hujjah terhadap orang yang menentangnya, juga tidak ada yang lemah pemahamannya, tidak memahami suatu perkataan dari kali pertama (disampaikan), kecuali setelah diulang untuknya berkali-kali. 
  • setiap perkara yang Munaffir (menjauhkan orang) dari menerima dakwah mereka. Seperti penyakit-penyakit yang menjijikkan seperti keluarnya ulat dari badan.

Posting Komentar untuk "Makna Bait Ke 12 Nadhom Aqidatul Awamm"