Hadits-hadits Palsu tentang Bulan Rajab
Hadits-hadits palsu tentang bulan Rajab
Barangsiapa berfatwa tanpa ilmu maka dia akan binasa dan membinasakan orang-orang yang mengikutinya.
Bulan Rajab adalah bulan baik, bulan mulia, dianjurkan memperbanyak amalan keta’atan di dalamnya, baik puasa, shalat sunnah, wirid dan lainnya, sebagaimana layaknya semua bulan-bulan Qamariyah.
Namun, sama sekali tidak shahih dan tidak benar ungkapan yang menyebar di kalangan sebagian masyarakat yang dianggap hadits, diantaranya:
1. Tidak benar jika Nabi dan para sahabatnya menjuluki bulan Rajab dengan الأصب (bulan yang dicurahkan rezeki dengan deras di dalamnya).
Bahkan kemarin ada kasus di hari jumat saat khutbah jumat, seorang takmir masjid mengkomando dengan speaker untuk wirid dengan suara jahr bacaan;
أحمد رسول الله محمد رسول الله
Sampai sampai khutbah jumat terganggu karena ada dua speaker (khotib dan takmir). Dzikir tersebut, katanya dapat fadhilah tidak akan kehabisan uang seumur hidup.
Bacaan dzikir tersebut bersumber dari Fatwa Habib Salim bin Abdullah As-Syathiri tentang hal ihwal amalan kaya di Jum'at terakhir bulan Rajab :
قد جاء فى كنز النجاح والسرور ان من قرأ فى آخر جمعة من رجب والخطيب على المنبر أحمد رسول الله محمد رسول الله خمسا وثلاثين مرة لا تنقطع الدرهم من يده تلك السنة.
Maka dalam hal ini, karena memakai speaker yang dipimpin oleh takmirnya maka menjadi ibadah yang rusak karena mengganggu khutbah jumat. Disamping itu juga, walaupun misalnya tidak sampai mengganggu khutbah jumat, juga termasuk ibadah yang tidak ada dasarnya. Karena Nabi tidak pernah menjuluki bulan Rajab dengan الأصب (bulan yang dicurahkan rezeki dengan deras di dalamnya).
2. Tidak benar perkataan sebagian orang yang dinisbatkan kepada Nabi secara DUSTA: "Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan yang lain seperti keutamaan al Qur'an atas seluruh kalam."
Hal itu, Karena Ramadhan adalah bulan yang paling utama secara mutlak.
3. (hadits palsu) yang berbunyi bahwa: Barangsiapa yang mengucapakan “selamat dan semoga mendapat keberkahan" kepada orang-orang dengan masuknya bulan Rajab ini maka niscaya Allah mengharamkannya masuk neraka”,
Yakni mereka mengatakan bahwa Nabi bersabda barangsiapa yang ketika memasuki bulan rajab kemudian mengucapkan selamat memasuki bulan rajab dan semoga mendapat keberkahan bulan rajab kepada orang-orang niscaya dia tidak akan masuk neraka, selamat dari masuk neraka hanya cukup mengucapkan ini kepada orang-orang. (Na’udzubillâh)
ini adalah kedustaan terhadap Nabi Muhammad ﷺ, dan barangsiapa yang menyebarkan perkataan menyimpang ini maka sama saja dia dengan telah menolong dalam penyebaran kedustaan terhadap Rasulullah ﷺ, dia telah mencelakakan dirinya sendiri dan juga orang lain jika sampai mereka membenarkannya.
4. Hadits palsu alias tidak shahih apa yang mereka sebut hadits “Rajab adalah bulan yang diistimewakan Allah”, kata mereka “رَجَبٌ شَهْرُ الله”.
Begitu juga tidak benar hadits yang mereka sebarkan, kata mereka Nabi bersabda:
رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي
Maknanya: “Rajab adalah bulannya Allah, sya’ban adalah bulanku dan ramadhan adalah bulan umatku”, ini adalah tidak memiliki dasar.
قال الحافظ الزين العراقي في شرح الترمذي: حديث ضعيف جدًا هو من مرسلات الحسن رويناه في كتاب الترغيب والترهيب للأصفهاني ومرسلات الحسن لا شيء عند أهل الحديث ولا يصح في فضل رجب حديث اهـ.
Al-Imam al-Hafdih Zainuddin al-‘Iraqiy dalam kitabnya “Syarh at-Tirmizdi” mengatakan :
“Hadits ini adalah hadits yang sangat dha’if sekali, dia termasuk hadits yang diriwayatkan dalam kitab “Mursalat al-Hasan”, kami meriwayatkan hadits itu dalam dalam kitab “at-Targhib wa at-Tarhib” karya al-Ashfahaniy, dan sesungguhnya kitab “mursalat al-hasan” tidak dianggap sama sekali oleh ahli hadits, dan tidak ada yang shahih hadits tentang pengkhususan keistimewaan bulan rajab”.
Demikian juga, Al-Hafidh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya “Tabyîn al-‘Ujab Fî Mâ Warada Fî Rajab”, mengungkapkan:
“hadits itu diriwayatkan oleh Abu Bakr an-Naqqâsy al-mufassir, dan sanadnya murokkab (*dibuat-buat), dan sama sekali tidak pernah diketahui bahwa ‘Alqamah pernah mendengar hadits itu dari Abu Sa’id, dan al-Kisâiy yang disebutkan namanya dalam deretan sanadnya sama sekali tidak diketahui siapa dia yang dimaksud (yakni tidak diketahui maksud perawi itu al-Kisâ’iy yang mana ??), dan yang diketahui dalam sanad hadit ini adalah disematkan kepada an-Naqqâsy, sedangkan Abu Bakr an-Naqqâsy sendiri adalah seorang yang dho’if dan riwayat haditsnya matruk (tertolak), sebagaimana dinyatakan oleh adz-dzahabiy dalam kitabnya “al-Mizaan”*
An-Naqqâsy di sini maksudnya adalah pengarang kitab “Syifâ’ ash-Shudûr”, namun al-Imam al-Khathib al-Hafidh Abu Bakr ibn Tsabit al-Baghdadi dalam kitab “Tarikh”nya mengatakan:
“akan tetapi kitabnya itu adalah jadi “kesengsaraan hati” (yakni bukan obat hati), kemudian beliau menyebutkan penilain orang-orang ahli ilmu tentang an-Naqqâsy dan penyematan mereka kepadanya bahwa dia adalah orang yang maudhu’, beliau berkata: “hadits-hadits riwayat an-Naqqâsy adalah hadits-hadits munkar”.
وقال طلحه بن محمد بن جعفر الحافظ : كان النقاش يكذب فى الحديث.
Al-Imam al-Hafidh Thalhah ibn Muhammad ibn Ja’far mengatakan: “adalah dahulu si an-Naqqâsy ini berbuat dusta dalam periwayatan Hadits”.
Al-Imam al-Hafidh as-Suyuthi dalam kitabnya al-Jami’ ash-Shaghir mengatakan:
“hadits ini adalah dha’if, ia diriwayatkan oleh Abu al-Fath ibn al-Fawaris dalam kitabnya “al-Amaliy” dari al-Hasan secara mursal”.
Al-Imam al-‘Ajlûniy dalam kitabnya “Kasyf al-Khafâ’” mengatakan:
“hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailami dan lainnya dari Anas secara marfu’, akan tetapi ia disebutkan oleh Ibn al-Jauziy dalam kitabnya “al-Mudhu’at” (kitab tentang hadits-hadits palsu) dengan beberapa jalur, demikian juga disebutkan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitabnya “Tabyîn al-‘Ujab Fîma> Warada Fî Rajab”.
Hadits tentang rajab yang menyebar ini diklaim bahwa ia diriwayatkan dari jalur Abu Sa’id al-khudri dan Anas ibn Malik.
Adapun yang disematkan bahwa ia dari riwayat Abu Sa’id al-Khudri semoga Allah meridhainya, maka ia disebutkan oleh Ibn al-Jauzi dalam kitabnya “al-Maudhu’at”, dan disebutkan oleh Ibn ‘Irâq dalam kitabnya “at-Tanzîh” dari jalur Muhammad ibn Hasan an-Naqqâsy bahwa dia berkata:
“telah berkata kepada kami Ahmad ibn ‘Abbas ath-Thabari, dia berkata: telah berkata kepada kami *al-Kisai’iy, dia berkata…………..(dan seterusnya) sampai ujung riwayat habis pada Abu Sa’id al-Khudriy, lalu an-Naqqa>sy menyebutkan haditsnya*….,
al-Imam Ibnu Jauzi setelah membeberkan apa yang diriwayatkan oleh an-Naqqâsy ini lalu mengomentari: “Hadits ini adalah palsu (maudhu’) yang disematkan kepada Rasulullah, al-Kisâ’I di sini tidak diketahui kejelasan siapa orangnya, sedang an-Naqqâsy sendiri adalah orang yang dicap pendusta dalam riwayat”.
4. Dan masih banyak lagi... Hadits palsu diatas itu yang sering beredar di Indonesia.
Hadits-hadits palsu bisa dibaca di kitab “al-Maudhu’at”, ditulis oleh Ibn al-Jauzi rahimahullâh.
Intaha
Allâh Ada Tanpa Tempat
