Bulan Sya'ban diangkatnya Seluruh Amal Ibadah Manusia
Bulan Sya'ban adalah bulan antara bulan Rajab dan Bulan Ramadhan. Pada Bulan Sya'ban dikenal dengan bulan diangkatnya amal-amal. Lalu apa maksud dari diangkatnya amal-amal ini?
قَالَ: "ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ" أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ فِى شُعَبِ الإيِمَان.
ومعنى " تُرفَعُ فِيهِ الأَعمَالُ إِلَى رَبِّ العَالَمِينَ" أن الله تعالى يقبل أعمال العباد فيه. وليس المعنى أن الله في جهة فوق أو في مكان وترفع الأعمال إليه.
Dari Usamah Ibn Zaid رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata: Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan yang lain sebanyak yang engkau lakukan pada bulan Sya'ban".
Nabi ﷺ menjawab:
"Sya'ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia, yang tiba antara Rajab dan Ramadlan, bulan Sya'ban adalah bulan di mana amal-amal ibadah hamba diangkat ke suatu tempat yang dimuliakan Tuhan Pemilik alam semesta, maka aku suka amal ibadahku diangkat --yakni diterima oleh Allah-- dalam keadaan aku berpuasa." (HR an Nasa'i)
Jadi makna dari شعبان شهر ترفع فيه الأعمال adalah:
أي ترفع رفعًا جمليًّا الى مكان مخصوص في السماء وليس معناه أن الله يسكن السماء؛ فالله ليس حجمًا بالمرة، وهو موجود بلا مكان.
Yakni diangkat secara keseluruhan ke tempat yang dikhususkan dan dimuliakan yang berada di langit. Jadi bukan berarti Allâh bertempat di langit, sama sekali tidak demikian. Karena Allâh tidak benda yang memiliki ukuran, Allâh Ada Tanpa Tempat. Tidak serupa apapun.
الأَعْمَال تُرْفَع كُلَّ اثْنَيْن وخمِيْس
وفي شعبان ترفع الأعمال رفع جُمْلِيّ
ومعنى رفعا إجماليا
مجموع أعماله وحاله التي هو فيها للآن
Ada amal-amal yang diangkat di setiap hari senin dan kamis, dan di bulan Sya'ban diangkat secara keseluruhan, yaitu keseluruhan amal-amalnya dan keadaannya yang dialami hingga sekarang (yaitu selama setahun).
قال النووي"وقد يكون العرض في هذين اليومين ليباهي سبحانه بصالح أعمال بني آدم الملائكة كما يباهيهم بأهل عرفة ومباهاة الملائكة بهم عن أمره سبحانه وتعالى".
وقد يكون لتعلم الملائكة المقبول من الأعمال من المردود.
Al Imam An-Nawawi berkata: "Dan bisa jadi diperlihatkan (kepada malaikat) amal-amal yang diangkat pada hari senin dan kamis tersebut untuk memperlihatkan amal-amal sholih anak Adam kepada para malaikat. Hal ini juga Allâh memperlihatkan amal ibadah manusia pada hari arafah kepada para malaikat. Dan diperlihatkannya amal-amal tersebut adalah atas perintah Allâh Ta'ala.
Dan bisa juga agar para malaikat mengetahui amal-amal ibadah manusia yang diterima dan juga yang ditolak.
فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ مَا يَصُومُ فِي شَهْرِ شَعْبَانَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: "كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ"، أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ،
Nabi ﷺ banyak berpuasa di hari hari bulan Sya'bân. Diriwayatkan dari 'Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا berkata:
"(Pada bulan Sya'ban) Rosulullâh ﷺ berpuasa sampai-sampai kami (seolah-olah) mengatakan bahwa Nabi tidak akan berhenti berpuasa, dan beliau berbuka, dan juga beliau berbuka sampai-sampai orang (seolah-olah) mengatakan bahwa dia tidak akan berpuasa. Maka Saya tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa selama sebulan penuh kecuali bulan Ramadlan, dan tidak melihatnya lebih banyak berpuasa dalam bulan apapun selain bulan Sya'bân." (HR. Al Bukhariy dan Muslim).
وَأَمَّا حَالُ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِي شَعْبَانَ فَهُوَ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا دَخَلَ شَهْرُ شَعْبَانَ، أَقْبَلُوا عَلَى مَصَاحِفِهْمِ فَقَرَأُوهَا، وَأَخْرَجُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ لِيُعِينُوا غَيْرَهُمْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ فِي رَمَضَانَ.
وَتَرَكُوا الْكَثِيرَ مِنْ مَشَاغِلِ الدُّنْيَا، وَأَخَذُوا يَسْتَعِدُّونَ فِيهِ لاِسْتِقْبَالِ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأَكْثَرُوا فِيهِ مِنَ الصِّيَامِ وَالذِّكْرِ وَالْقِيَامِ، وَكَانُوا يَقُولُونَ عَنْ شَهْرِ شَعْبَانَ إِنَّهُ شَهْرُ الْقُرَّاءِ.
Adapun kebiasaan salafus shalih (umat Islam terdahulu sebelum tahun 300 H) pada bulan Sya'bân adalah bahwa mereka apabila bulan Sya'bân tiba, mereka akan segera memperhatikan mushaf-mushaf (Al Qur'an) mereka, lalu membacanya. Mereka juga mengeluarkan zakat harta (selain fitrah, seperti zakat perdagangan dan lainnya) mereka untuk membantu orang lain dalam taat kepada Allâh di bulan Ramadlan.
Mereka juga meninggalkan banyak kesibukan duniawi dan mulai mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadlan. Mereka memperbanyak puasa, dzikir, dan shalat malam pada bulan Sya'bân. Mereka juga mengatakan bahwa bulan Sya'bân adalah bulan para pembaca Al-Qur'an.
وَفِي هَذَا الشَّهْرِ الْكَريِمِ لَيْلَةٌ عَظِيمَةٌ بَرَكَاتُهَا، كَثِيرَةٌ خَيْرَاتُهَا هِيَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَقَدْ وَرَدَتْ فِي فَضِيلَتِهَا أَحَادِيثُ نَبَوِيَّةٌ عَدِيدَةٌ تَحُضُّ عَلَى اغْتِنَامِهَا وَالتَّعَرُّضِ لَهَا،
مِنْهَا مَا رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: "إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا"،
وَهَذَا الْحَدِيثُ وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا إِلاَّ أَنَّ الْعُلَمَاءَ قَدْ قَرَّرُوا أَنَّ الْحَدِيثَ الضَّعِيفَ يُعْمَلُ بِهِ إِنْ كَانَ فِيهِ حَثٌ عَلَى فَضَائِلِ الأَعْمَالِ وَانْدَرَجَ تَحْتَ أَصْلٍ صَحِيحٍ مِنْ أُصُولِ الشَّرْعِ،
Dan pada bulan yang mulia ini (Sya'bân) terdapat satu malam yang sangat agung dan penuh berkah, yaitu malam Nishfu Sya'ban (malam ke-15). Banyak hadits Nabi yang menjelaskan keutamaan malam ini dan mendorong kita untuk memanfaatkannya dan menghidupkannya (dengan banyak beramal sholih).
Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Nabi ﷺ, bahwa beliau ﷺ bersabda:
"إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا" (رواه ابن ماجه)
"Jika tiba malam Nishfu Sya'bân (pertengahan bulan Sya'bân), maka hidupkanlah (shalatlah dan beramal shalih) di malam harinya dan berpuasalah di siang hari (setelah malam)nya." (H.R. Ibnu Mâjah)
Meskipun hadits ini lemah, namun para ulama telah menetapkan bahwa hadits lemah dapat diamalkan jika isinya adalah tentang keutamaan amal dan termasuk dalam prinsip syariat yang shahih (dan tidak bertentangan dengan syariat).
كَذَلِكَ فَإِنَّ الإِمَامَ ابْنَ حِبَّانَ قَدْ صَحَّحَ بَعْضَ الأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي فَضِيلَةِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَأَوْرَدَهَا فِي صَحِيحِهِ، كَحَدِيثِ "يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ". وَرَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الأَوْسَطِ وَالْبَيْهَقِيُّ،
وَالْمُشَاحِنُ مَعْنَاهُ الَّذِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ مُسْلِمٍ ءَاخَرَ عَدَاوَةٌ وَحِقْدٌ وَبَغْضَاءُ، أَمَّا مَنْ سِوَى هَذَيْنِ فَكُلُّ الْمُسْلِمِينَ يُغْفَرُ لَهُمْ يُغْفَرُ لِبَعْضٍ جَمِيعُ ذُنُوبِهِمْ وَلِبَعْضٍ بَعْضُ ذُنُوبِهِمْ.
Demikian juga Al Imam Ibnu Hibban telah menshahihkan sebagian hadits-hadits yang diriwayatkan bab fadlilah malam nishfu Sya'bân dan beliau menyebutkannya dalam kitab shahih-nya, diantaranya hadits:
يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ والطَّبَرَانِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Allâh Ta'ala merahmati para hamba-Nya (dengan rahmat khusus yang disertai kemuliaan) di malam nishfu Sya’ban, maka Allâh mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang yang musyrik dan seorang muslim yang ada permusuhan ('adâwah), dendam (hiqd), serta kedengkian dan kebencian (baghdlâ') terhadap Muslim lain karena urusan duniawi (disebut Musyahin)”. (HR Ibnu Hibban, ath-Thabarani dan al-Baihaqi) --disebutkan dalam kitab Al-Mu'jam Al Awsath--
Oleh karenanya, hendaklah masing-masing kita memperbaiki hubungan dengan saudara sesama Muslim. Dan hendaklah setiap dari kita memaafkan, berlapang dada membuang dendam dan mengeluarkan serta membuang iri dan kebencian dari hati kita sebelum malam nishfu Sya’ban tiba. Dengan itu, semoga Allâh merahmati kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Aaamiiin.
Maka, kami sekeluarga memohon ketulusan hati saudara-saudaraku semua, guru, teman-temanku semua untuk berkenan memaafkan salah dan khilaf kami.
