Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Serampangan Menuduh Ahli Bid'ah, Sesat, Kufur Tanpa Dalil Syara'

 *Jangan Serampangan Menuduh Ahli Bid'ah, Sesat, Kufur Tanpa Dalil Syara'*


Ahlussunnah tidak mudah menuduh ahli bid'ah, sesat atau kufur pada orang lain tanpa bukti nyata yaitu dalil syara' karena akibatnya sangat fatal dan berbahaya bagi yang menuduh. Menuduh sembarangan berbalik pada diri sendiri. 

Dalam perkara zina saja, yang bukan urusan akidah, jika seseorang menuduh tanpa bukti dengan dalil syara' sudah sangat membahayakan penuduh. Oleh karenanya ada sumpah li'an yang sangat luar biasa dahsyat azabnya. Apalagi perkara aqidah, sungguh ini berakibat siksa pedih dan azab selamanya, jika mati belum bertaubat dengan bersyahadat masuk islam.

Setelah menyebut 42 (empat puluh dua) ajaran-ajaran pokok Ahlussunnah¹, Al Imam Abul Mudhoffar Al Asfaroyini --rahimahullah-- (w. 471 H), beliau menyebutkan prinsip yang ke-43 yakni: 

وأن تعلم أن من تدين بهذا الدين الذي وصفناه من اعتقاد الفرقة الناحية فهو على الحق وعلى الصراط المستقيم فمن بدعه فهو مبتدع ومن ضلله فهو ضال ومن كفره فهو كافر لأن من اعتقد أن الإيمان كفر وأن الهداية ضلالة وأن السنة بدعة كان اعتقاده كفرا وضلالة وبدعة 

"Dan hendaknya Anda mengetahui, barangsiapa telah menjadikan ajaran agama yang telah kami (para ulama) jelaskan, yakni akidahnya golongan yang selamat sebagai pedoman baginya, maka ia telah menetapi kebenaran dan berada pada jalan yang lurus. 

Maka, barangsiapa menyebut orang yang telah menjadikan akidah Ahlusunnah sebagai pedoman nya dengan sebutan ahli bid'ah, maka dia sendiri lah yang sebenarnya ahli bid'ah. Barangsiapa menjulukinya sesat, maka dia sendirilah yang sesat dan barangsiapa melabelinya (menuduh) kafir, maka dia sendiri lah yang kafir." 

Apa alasan logis (dalil aqli) nya? 

Al Asfaroyini menyebutkan,

" Karena siapa pun yang meyakini keimanan sebagai kekufuran (kebalikan keimanan), atau meyakini petunjuk sebagai kesesatan, sunnah sebagai bid'ah, maka keyakinannya sendiri itu lah yang sebenarnya merupakan kekufuran, kesesatan dan bid'ah dlolalah." 

Dengan kata lain, iman selamanya iman, benar selamanya adalah benar, salah selamanya juga salah. Tidak akan pernah berganti hakikat menjadi kebalikannya hanya karena tuduhan orang lain yang tidak mendasari nya dengan dalil syar'i; hanya menggunakan hawa nafsu (ahlul ahwa). 

Sedangkan dalil naqli prinsip Ahlusunnah yang ke- 43 ini adalah sabda Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam: 

من قال لأخيه المسلم يا كافر فقد باء به أحدهما²  

Al Asfaroyini, memungkasi ciri utama Ahlussunnah ini dengan ungkapan: 

" Kami (Ahlusunnah) tidak menyebut ahli bid'ah kecuali pada pihak yang menuduh kami Ahlusunnah sebagai ahli bid'ah. Kami tidak menyesatkan kecuali pada pihak yang menuduh sesat pada kami.  Dan kami tidak mengkafirkan kecuali pada pihak yang mengkafirkan --tanpa dalil, hanya berdasarkan hawa nafsu-- pada kami." 

Kesimpulan: 

1. Agar tidak mudah menuduh sesat, bid'ah, atau bahkan kufur pada pihak lain hendaknya seorang muslim benar-benar menjadi bagian dari Ahlusunnah Wal Jama'ah itu sendiri. Bukan hanya sebatas pengakuan, hawa nafsu (tanpa dalil naqli dan 'aqli). 

2. Siapapun yang menuduh pihak lain sebagai sesat, bid'ah atau kafir namun pada kenyataannya hal itu tidak ada pada pihak yang ia tuduh, maka sebutan itu secara otomatis kembali pada dirinya. Wal 'iyadzu billah. 

Bertaubat lah siapapun yang menuduh, memfitnah tanpa bukti pada seseorang yang pada kenyataannya adalah Sunni (Ahlussunah wal Jama'ah) sebagai sesat atau sebutan lainnya. Sebelum terlambat. Sebelum ajal menjemput. 

Sayangi Diri, Sayangi Orang Lain 

Tindakan mengeluarkan seorang yang pada kenyataannya berpaham Ahlussunnah wal Jama'ah (Sunni; Firqoh Najiyah; golongan yang selamat) dari Aswaja atau --sebaliknya-- memasukkan seseorang yang bukan sunni menjadi bagian dari Ahlussunnah wal Jama'ah adalah dua tindakan yang sangat berbahaya. 

Alih alih mengetahui ajaran golongan yang bertentangan dengan ajaran Aswaja (firoq syadzdzah) agar dapat dibantahnya berdasarkan ajaran ulama Ahlussunah itu sendiri agar orang lain tidak terjerembab ke dalam ajaran menyimpang tersebut. Ajaran Aswaja pun mereka tak mengetahui nya dengan baik berdasarkan dalil naqli dan 'aqli. 

Dengan ketidaktahuannya terhadap ilmu-ilmu Ahlussunnah apakah ia yakin bahwa ia menyayangi diri sendiri agar selamat? Dan yang tidak melakukan bantahan, padahal mampu, terhadap paham yang menyempal dari Ahlussunnah agar orang awamm (ka mitslii; seperti saya) selamat dari aliran yang menyimpang, dapat disebut sayang pada orang lain?

Karena bermodal kefanatikan belaka, bukan berdasarkan dalil yang memadai, olehnya justru lawan akan dianggapnya kawan, kawan disikapinya sebagai lawan. Tanpa sadar ia menjadi musuh bagi sendiri dan menjadi fitnah (musibah) bagi orang lain. 

Ulama menyebutkan, 

أهل السنة والجماعة منصورون بالأدلة 

" Ahlussunnah wal Jama'ah mendapatkan pertolongan Nya karena kuat nya dalil naqli dan 'aqli --yang Allah karunikan pada mereka yang dipahami dengan tepat--." 

Mari sayangi diri dan orang lain dengan mengaji ilmu-ilmu Ahlussunnah.

Sumber rujukan: 

¹) lihat hal. 153 dst dalam At Tabshir li Abil Mudhoffar Al Asfaroyini, penerbit Alamul Kutub, Beirut, tahqiq Prof. Dr. Syaikh Kamal Al Husaini, cetakan pertama tahun 1983 R. 

Diantara yang menjadi ajaran pokok Ahlusunnah adalah 1. meyakini bahwa seluruh alam adalah makhluk (diciptakan dan mempunyai permulaan), 2. Makhluk pasti ada pencipta nya (Kholiq), 3. Kholiq pasti Maha Esa,.... dsb hingga 48 ciri utama. 

²) Ibid, hal.180. 

³ أخرجه البخاري عن أبي هريرة وفي المعجم الكبير للطبراني زيادة إن كان الذي قيل له كافرا  فهو كافر ورجع إلى من قال 

Intaha

Allah Ada Tanpa Tempat

Posting Komentar untuk "Jangan Serampangan Menuduh Ahli Bid'ah, Sesat, Kufur Tanpa Dalil Syara'"