Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimanakah cara memandikan jenâzah yang sempurna

 Ngaji Soal Jawab Bab Jenazah 38


*38.  Soal:*

Bagaimanakah cara memandikan jenâzah yang sempurna ?

*Jawab:*

Cara yang paling sempurna dalam memandikan jenâzah adalah menambah perkara sunnah selain perkara yang wâjibnya, ada beberapa cara disebutkan oleh para ulamâ', di antara tata caranya adalah sebagai berikut:

1. Ditutup aurat mayit, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

2. Kemudian, terlebih dahulu dibersihkan badan mayit sebagaimana telah disebutkan.

3. Ditekan perutnya secara perlahan dan diurut-urutkan ke bawah untuk mengeluarkan sisa kotorannya, kemudian disucikan.

4. wâjib menggunakan alas tangan saat menggosok aurat mayit, terutama kemaluannya, kecuali pemandi adalah pasangan halal di masa hidup mayit.

5. Setelah tubuh mayit dibersihkan dan disucikan dari kotoran dan najis,  kemudian mayit diwudhu'kan, dan yang mewudhu'kan mayit cukup niat karena Allâh mewudhu'kan mayit ini, tidak disyaratkan niat khusus.

6. Kemudian mayit dîmândikan mandi jenâzah, dan di sini, air yang digunakan adalah air yang dicampur dengan daun sidr atau daun lainnya.

7. Dengan diawali menyiram atau membasuh kepalanya dengan air tersebut, kemudian membasuh janggut mayit laki-laki jika ada.

8. Setelah membasuh bagian kepala, lalu membasuh selurûh badan mayit, dari leher hingga kaki, disunnahkan membasuh bagian kanannya terlebih dahulu, bagian depan dan belakangnya, baru kemudian bagian kiri, juga bagian depan dan belakangnya, masing-masing tiga kali - tiga kali siraman.

9. Disunnahkan menyisir rambut mayit dan janggut mayit laki-laki yang berjanggut, dengan perlahan menggunakan sisir yang jarang (tidak rapat) agar tidak tercabut rambutnya, jika ada rambutnya yang rontok saat dîmândikan, maka rambut itu dikumpulkan, dibersihkan dengan air suci mensucikan dan dimasukkan ke dalam kafan saat mengafani mayit.

10. Disunnahkah memperbanyak siraman seperlunya untuk membersihkan badan si mayit, dimana Siraman-siraman ini disunnahkan ganjil.

11. Setelah mayit dîmândikan dengan air yang dicampur daun sidr (daun bidara) atau semisalnya itu, maka disiram dengan air bersih yang murni (tidak campuran).

12. Setelah disiram dengan air bersih yang murni untuk menghilangkan bekas air yang dicampur buga di atas, lalu ditutup dengan menyiram selurûh tubuh mayit menggunakan air bersih yang dimasukkan ke dalamnya sedikit kapur barus untuk sekedar mewangikan air, hingga rata sebanyak tiga kali siraman ke semua bagian badan mayit.

*PERHATIKAN:*

Harus diperhatikan, bahwa membasuh wajah mayit saat mewudhu’kannya dan memandikannya, jangan menyiramkan langsung air ke muka mayit dalam keadaan telentang, akan tetapi dengan cara lainnya selain menyiram langsung wajah mayit.

Kemudian, Jangan sampai air yang diberi kapur tersebut berubah menjadi air kapur, jika ini dilakukan, kemudian disiramkan ke mayit, maka siraman ini tidak sah, dan harus dihilangkan dengan disiram menggunakan air tawar yang suci mensucikan.

Maka perkara ini haruslah diperhatikan agar kapur itu hanya sedikit saja, sekedar untuk mewangikan air, tidak sampai merubahnya menjadi air kapur, sebagaimana dalam Hadîts Riwâyat al-Bukhâri, Rasûlullâh ﷺ bersabda kepada perempuan-perempuan yang memandikan jenâzah putri beliau:

وَاجْعَلْنَ فِي الآخِرَةِ كَافُوْرًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُوْرٍ (رواه البخاري)

Maknanya: "dan kalian jadikanlah pada siraman terakhir sedikit dari kapur" (H.R. al-Bukhâri)

Dan masih ada lagi tata cara yang afdhol untuk memandikan jenâzah muslim, dapat dipelajari dalam kitâb-kitâb fiqih besar para ulamâ’ haqiqi.

13. Setelah itu maka dipersiapkan untuk dikafani.

Intaha

Bersambung

Allah Ada Tanpa Tempat

Posting Komentar untuk "Bagaimanakah cara memandikan jenâzah yang sempurna"