NEWS

Ilmu itu Tidak Sama dengan Kebodohan

 Ilmu itu tidak seperti kejahilan. Ilmu, bagi orang yang mengamalkan ilmunya dengan ikhlas, akan mengantarkannya ke surga. Sedangkan kejahilan bukanlah alasan (udzur) bagi manusia. Betapa banyak masalah, perkataan, perbuatan, dan keyakinan yang jika dilakukan atau terjatuh ke dalamnya oleh seseorang yang jahil, maka ia akan termasuk orang-orang yang binasa, dan hal itu akan mengantarkannya ke neraka—wal ‘iyadzu billah.


Maka waspadalah terhadap perkataan rusak yang diucapkan oleh sebagian orang. Mereka mengatakan:

 الجاهل معذور

 “Orang yang jahil itu dimaafkan.” 

Perkataan ini secara mutlak merupakan kerusakan yang sangat besar dan bahaya yang besar. 

Perhatikan bahwa Allah Ta'ala memuji ilmu. Rasulullah ﷺ memuji ilmu. Para nabi ‘alaihimushshalatu wassalam juga memuji ilmu dan datang membawa ilmu. Karena itu Allah berfirman dalam Al-Qur’anul Karim:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah (Wahai Muhammad) Tidaklah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (bodoh)” (Q.S. Az Zumar 9)

Allah memuji para ulama yang shaleh dan memuji mereka. Allah juga berfirman dalam Al-Qur’anul Karim:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya orang yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya (selain para nabi) hanyalah para ulama (Orang yang berilmu)”

Artinya, para ulama yang shaleh adalah orang-orang yang paling takut kepada Allah dibandingkan yang lain, karena mereka telah belajar dan mengetahui kebenaran, sehingga mereka takut kepada Allah, takut berbuat dosa-Nya. Mereka beriman kepada pertanyaan (di alam kubur), hisab (perhitungan amal), dan penyajian amal. Mereka beriman bahwa setelah mati ada kebangkitan, penghimpunan (di Padang Mahsyar), surga, dan neraka. Maka mereka ini lebih takut kepada Allah daripada manusia lainnya.

Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku dan saudari-saudariku, kita harus belajar.

Sebagai contoh, perhatikan ayat yang baru saja kita jelaskan dan tafsirkan tadi. Maknanya adalah bahwa para ulama adalah orang yang paling takut kepada Allah dibandingkan yang lain. Namun ada salah seorang yang mengaku sebagai ahli ilmu, padahal ia adalah penyeru kepada kesesatan. Ia berkata: “Allah malu kepada para ulama.” Maha Suci Allah dari itu! Ia telah mendustakan Al-Qur’an. Allah berfirman: 

فلا تضربوا لله الأمثال

“Maka janganlah kamu membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah.”

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala maha suci dari segala sifat makhluk. Karena sifat malu (haya’) dan rasa malu pada hakikatnya adalah rasa canggung dan pengaruh kejiwaan, yaitu emosi psikis. Hal ini mustahil bagi Allah. Ini mustahil atas Allah ‘Azza wa Jalla.

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk belajar dan mengamalkan ilmu ini sebelum terlambat (sebelum ajal datang).

Barangsiapa yang menganggap bahwa kejahilan adalah udzur  bagi manusia, maka seolah-olah ia berkata: “Untuk apa Allah menciptakan neraka?” Seolah-olah ia berkata: “Janganlah kalian belajar.” Seolah-olah ia berkata: “Allah mengutus para nabi tanpa ada manfaatnya”—wal ‘iyadzu billah.

Barangsiapa yang menganggap bahwa kejahilan lebih baik daripada ilmu, maka ini adalah kandungan makna dari apa yang ia katakan. Dan ini merupakan pendustaan terhadap agama serta realita yang ada.

Oleh karena itu, waspadalah terhadap aqidah-aqidah dan perkataan-perkataan yang rusak yang dapat mengeluarkan seseorang dari agama, seperti orang yang meyakini bahwa Allah mengubah kehendak-Nya, atau meyakini bahwa kehendak Allah muncul secara bertahap, yaitu kehendak-Nya bersifat baru dan terjadi sesuatu demi sesuatu. Ini adalah penyerupaan (tasybih) Allah dengan makhluk-Nya.

Begitu pula orang yang meyakini bahwa ilmu Allah itu bertambah atau diperbarui — yaitu dulu Allah tidak mengetahui suatu perkara, kemudian setelah perkara itu terjadi, barulah Allah mengetahuinya. Ini juga merupakan penisbatan kejahilan kepada Allah dan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya. Dan ini adalah pendustaan terhadap Islam.

Demikian pula keyakinan sebagian orang yang mengatakan bahwa semua agama itu sama saja. Tidak ada keistimewaan bagi Islam dan tidak ada kelebihannya atas agama-agama lainnya menurut klaim orang ini. Mereka berkata: “Yang penting adalah kemanusiaan dan pergaulan, bukan agamanya,” menurut anggapan mereka. Mereka mengatakan semua agama sama atau setara. Padahal ini bertentangan dengan firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama yang benar dan diridloi oleh Allah hanyalah Islam.”

Ini (orang yang mengatakan bahwa semua agama sama) adalah pendustaan terhadap firman Allah Ta’ala:

وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Dan Aku (Allah) telah ridha Islam sebagai agama bagi kalian.”

Agama yang haq, yang diturunkan dari langit (hanya satu-satunya), yang benar, yang diterima dan diridloi oleh Allah, yang Allah ridhai untuk hamba-hamba-Nya, dan yang Dia perintahkan mereka untuk mengikutinya, yang dibawa oleh semua nabi — dari Adam, Ibrahim, Musa, Isa, hingga Muhammad shallallahu ‘alaihim wa ‘ala nabiyyina afdhalush shalati wassalam — adalah Islam. Karena Allah berfirman: “Dan Aku (Allah) telah ridha Islam sebagai agama bagi kalian.”

Begitu pula orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, lalu ia meyakini bahwa Allah seperti awan ini, seperti kabut ini, seperti air ini, seperti awan-awan ini, atau ia meyakini bahwa Allah seperti udara yang menyebar di tempat-tempat, di angkasa, atau di lembah-lembah — maka orang ini bukanlah termasuk kaum Muslimin (Mereka telah Kafir), karena ia telah mendustakan firman Allah:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”

Barangsiapa yang meyakini bahwa Allah adalah ruh, atau jasad, atau tubuh, atau meyakini bahwa Allah bertempat di Arsy, atau di langit, maka ia telah mendustakan firman Allah Ta’ala:

فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ

“Maka janganlah kamu membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah.”

Saudara-saudaraku dan saudari-saudariku,  

Ilmu. Ilmu. Ilmu.  

Itulah jalan menuju surga dan keselamatan bagi siapa yang memilikinya dan mengamalkannya dengan ikhlas.

Semoga Allah menganugerahkan kepada saya dan kepada kalian semua ilmu, serta kemampuan mengamalkan ilmu tersebut dengan ikhlas. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.  

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه الطيبين الطاهرين. 

فائدة عظيمة يقول الله عز وجل في القرآن الكريم قل هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون. العلم ليس كالجهل. العلم لمن عمل به مع الإخلاص أوصله إلى الجنة. والجهل ليس عذرا للإنسان. وكم من مسائل وكلمات وأعمال واعتقادات من عملها أو وقع فيها لو كان جاهلا صار من الهالكين وتؤدي به إلى جهنم والعياذ بالله تعالى. 

فاحذروا من هذه المقولة الفاسدة التي يقولها بعض الناس. يقولون الجاهل معذور. هذا الكلام إطلاقه فساد عظيم وخطر كبير. لذلك ربنا مدح العلم. والرسول عليه الصلاة والسلام مدح العلم. والأنبياء عليهم الصلاة والسلام مدحوا العلم وجاءوا بالعلم. لذلك قال ربنا في القرآن الكريم قل هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون. إذا مدح العلماء الصلحاء وأثنى عليهم. وقال ربنا في القرآن الكريم إنما يخشى الله من عباده العلماء. يعني العلماء الصلحاء هم أشد خشية لله من غيرهم لأنهم تعلموا وعرفوا الحق فيخافون الله ويخشونه آمنوا به وبكتابه وبرسوله. آمنوا بالسؤال والحساب وعرض الأعمال. آمنوا بأنه بعد الموت بعث وحشر وجنة ونار. فهؤلاء يخشون الله أكثر من غيرهم من الناس. 

ومن هنا يا إخواني ويا أخواتي لابد لنا وأن نتعلم. فمثلا انظروا هذه الآية التي شرحناها الآن وفسرناها ما معناها أن العلماء هم أشد خشية لله من غيرهم. أحد أدعياء العلم وهو داع للضلالة. قال الله يستحيي من العلماء حاشا لله. كذب القرآن. الله يقول فلا تضربوا لله الأمثال. فربنا سبحانه وتعالى منزه عن صفات المخلوقين. لأن الحياء والاستحياء حقيقته هو الخجل والتأثر النفسي هو الانفعالات النفسانية. وهذا مستحيل على الله. وهذا مستحيل على الله عز وجل. لذلك يجب علينا أن نتعلم وأن نعمل بهذا العلم قبل فوات الأوان. فالذي يعتبر أن الجهل عذر للإنسان كأنه يقول لماذا خلق الله النار؟ كأنه يقول لا تتعلموا. كأنه يقول الله بعث الأنبياء من غير فائدة والعياذ بالله. الذي يعتبر أن الجهل أفضل من العلم. هذا مؤداى معنى ما قاله. وهذا تكذيب للدين والواقع. إذا احذروا من العقائد والكلمات الفاسدة المخرجة من الدين. كمن يعتقد أن الله يغير مشيئته أو يعتقد أن الله تحدث له مشيئة شيء بعد شيء. يعني مشيئته حادثة تحدث شيئا بعد شيء. هذا تشبيه لله بخلقه. كذلك الذي يعتقد أن الله علمه يتجدد. لم يكن عالما بهذا الأمر. ثم بعد ما حصل هذا الأمر علم الله به. هذا أيضا نسبة الجهل إلى الله. وتشبيه لله بخلقه. وهو تكذيب للإسلام. 

كذلك اعتقاد بعض الناس أن الأديان متساوية. لا فرق للإسلام ولا فضل له على بقية تلك الأديان بزعم هذا القائل. ويقولون المهم الإنسانية والمعاملة وليس الدين على زعمهم. ويقولون كل الأديان سواء أو متساوية. وهذا ضد الآية الكريمة إن الدين عند الله الإسلام. هذا تكذيب لقول الله تعالى ورضيت لكم الإسلام دينا. فالدين الحق السماوي الصحيح المقبول الذي رضيه الله لعباده وأمرهم باتباعه، وجاء به كل الأنبياء من آدم إلى إبراهيم إلى محمد وموسى وعيسى عليهم الصلاة والسلام هو الإسلام لأن الله قال ورضيت لكم الإسلام دينا. 

كذلك من شبه الله بخلقه فاعتقده كهذا الغيم أو كهذا الضباب أو كهذا الماء أو كهذه الغيوم، أو اعتقده كالهواء انتشر في الأماكن أو في الفضاء أو في الوديان، فهذا ليس من المسلمين لأنه كذب قول الله ليس كمثله شيء. من اعتقد أن الله روح أو جسد أو جسم أو تحيز في العرش أو في السماء كذب قول الله تعالى فلا تضربوا لله الأمثال فلا تضربوا لله الأمثال. 

إخواني وأخواتي العلم. العلم العلم. طريق الجنة والنجاة لمن حصله وعمل به مع الإخلاص. رزقني الله وإياكم التعلم والعمل بالعلم مع الإخلاص. إنه على كل شيء قدير. والحمد لله رب العالمين. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar