Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketawadhu'an Para Ulama Dalam Menanggapi Kritik dan Menerima Kebenaran

Ada beberapa kisah para ulama yang mempunyai ketawadlu'an yang luar biasa. Inilah kisah ketawadhu'an para ulama dalam menanggapi kritik dan menerima kebenaran.


1. Kisah Imam Syafi'i

Diriwayatkan oleh Al-Buwaythi Murid senior Imam Asy-Syafi'i serta periwayat Madzhabnya bahwasanya Al-Imam Asy-Syaifi'i berkata:

"Sesungguhnya aku menulis kitab-kitab-ku ini berusaha agar benar sepenuhnya, meskipun begitu tidak menutup kemungkinan di sana terdapat sesuatu yang bertentangan dengan Kitabullah atau Hadist Rasulullah,

Allah berfirman:

"ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا".

Maka jika seandainya kalian mendapati didalamnya sesuatu yang bertentangan dengan kitabullah dan Suannah Rasulnya, sesungguhnya aku akan kembali (mengiktu) kitabullah dan Sunnah Rasullah"

صلى الله عليه وسلم.

Pernyataan ini menjelaskan bahwa untuk menetapkan sesuatu itu salah tidaklah sembarang harus dengan dalil yang jelas, sehingga beliau menegaskan jika kalian mendapatkan sesuatu yang bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, haruslah kembali pada kitabullah dan sunnah rosulullah.

Hikmahnya jika seandainya suatu kesalahan terbukti maka jangan segan-segan untuk kembali pada kebenaran. Hal ini menunjukkan bahwa Imam Syafi'i tawadlu'. karena tawadlu' adalah mau menerima kebenaran.

2. Kisah Izzudin bin Abdissalam


Suatu ketika Sulthan Ulama di masanya, Izzuddin bin Abdissalam pernah memberikan Fatwa kepada seseorang, tetapi setelahnya beliau menyadari bahwa fatwa tersebut keliru, maka beliaupun mengumumkan langsung di mesir cairo bahwa: 

"Siapa yang di fatwakan oleh fulan (Izzuddin bin abdissalam) dalam permasalahan ini maka harap jangan di amalkan karena itu keliru".

3. Kisah Sayyidina Umar bin Khattab

Suatu ketika sayyidina Umar berceramah di depan khalayak Ramai, lalu beliau menyampaikan: 


"Jangan kalian jadikan mahar putri kalian tinggi-tinggi, dan jika sampai padaku ada yang menjadikan mahar di atas mahar yang di berikan Rasulullah dulu (saat menikahi Istri-Istrinya) atau lebih dari mahar yang di terima Rasulullah (saat menikahkan putri-putrinya) maka lebihnya tersebut akan saya ambil dan saya letakkan di baitul mal!!."

Lalu beliaupun turun dari mimbar, tiba-Tiba seorang perempuan dari Suku Qurays menghadang beliau lalu mulai memberikan keritiknya dengan pembukaan yang sangat Tajam, wanita suku Qurays itu berkata: 

"Wahai Amirul Mukminin apakah Kitabullaah lebih berhak untuk di ikuti atau ucapanmu justru yang lebih berhak!?," 

Mendengar perkataan wanita itu, maka sayyidina Umarpun dengan spontan menjawab: "tentu pastinya Kitabullah yang lebih berhak di ikuti, apa yang terjadi (sehingga kamu bertanya seperti ini)?,"

Perempuan itupun mengatakan:

"Anda tadi melarang untuk menaikkan tinggi-tinggi mahar seoarang wanita sementara Allah berfirman Dalam Al-Qur'an :

(وآتيتم إحداهن قنطارا فلا تأخذوا منه شيئا)

"Dan jika kalian telah memberikan kepada salah satu mereka (perempuan) Mahar yang sangat tinggi maka janganlah kalian ambil kembali sedikitpun darinya".

Mendengar Hal tersebutpun Sayyina Umar langsung berkata untuk mengingatkan diri beliau: 

"Banyak orang yang lebih faqih dari umar, banyak orang yang lebih faqih dari Umar, banyak orang yang lebih faqih dari Umar".

Dan dalam riwayat lain beliau di ceritakan naik mimbar kembali dan menyampaikan:

"Wahai manusia sekalian, saya cabut ucapan saya tadi. dan Wahai manusia sekalian, lakukanlah pada mahar putri kalian sesuai kemauan kalian".

Di Kisah lain tentang shahabat Umar bin Khattab ini, kisah ini diriwayatkan dalam suatu kesempatan Sayyidina Umar menuliskan surat kepada Sahabat Abu Musa Al-Asy-ari yang diantara Isinya:

"Dan jangan pernah engkau tercegah disaat sudah memutuskan suatu keputusan (dalam penghakimanmu) dan setelah kamu pelajari lagi kembali dengan baik ternyata keputusan tersebut keliru, untuk kembali kepada kebenaran, karena kebenaran itulah yang menjadi dasar utama (tujuan) dan kembali kepada kebenaran lebih baik (dan selamat) daripada bertahan dalam kebathilan.

Kejadian ini di tanggapi oleh Al-Imam As-sarakhsy dengan mengatakan:

"Dan ini bukan untuk seorang Hakim saja secara Khusus, bahkan ini mencakup setiap orang yang menjelaskan kepada yang lainnya sesuatu dari urusan agama Islam, baik itu seorang Penceramah atau Mufti atau Qhodi (Hakim), jika ternyata ia mendapati dirinya keliru hendaklan ia sampaikan hal tersebut, karena tergelincirnya seorang Alim bisa menjadi sebab Fitnah antara manusia, dan sebagaimana di katakan: "jika seorang Alim tergelincir maka Alam juga ikut goncang bersamanya".

3. Kisah Abu Usman Al Maghriby


Al-Imam Ibnu furak mengabarkan bahwasanya Ia mendengar Abu Usman Al-Maghriby, bercerita: 

"Saya dahulu pernah meyakini Bahwasanya Allah berada pada Jihah (arah) namun setelah saya sampai ke baghdad keyakinan tersebut hilang dari hati saya, akhirnya saya pun menuliskan kepada sahabat-sahabat saya di Makkah: "sesungguhnya saya sekarang telah masuk kembali ke dalam agama Islam".

Lihatlah, inilah sifat ksatria para ulama dalam menerima kebenaran.

4. Kisah Imam Abu Hasan Al Asy'ary

Pada Awalnya Al-Imam Abul Hasan Al-Asy'ary adalah tokoh terkemuka di kalangan Muktazilah sebelum beliau menjadi Imam bagi Ahlussunnah Wal Jama'ah, lalu suatu saat beliau di sadarkan akan penyimpangan muktazilah, beliaupun merenungi dan mendalami hal tersebut di rumahnya. Perenungan itu selama 15 Hari tidak keluar Rumah, lalu setelahnya tiba-tiba saja beliau keluar menuju masjiid dan menaiki Mimbar lalu berkata: 


"Masyarakat sekalian, sesungguhnya aku tidak menemui kalian hari-hari ini karena aku sibuk merenungi dan mempelajari (tentang kebenaran yang sesungguhnya) dan saat itu belum tampak bagiku mana yang haq dan mana yang bathil, akupun meminta petunjuk kepada Allah, akhirnya Allah memberiku petunjuk pada keyakinan yang telah aku tuliskan pada Kitab-kitabku Ini. Dan pada sekarang ini (aku ingin mengumumkan) bahwasanya aku telah berlepas diri dari apa yang kuyakini dahulu sebagaimana aku melepaskan bajuku Ini, beliau-pun melepaskan bajunya dan melemparnya dan menyodorkan kepada Orang-orang karya yang telah ia Tulis dalam membela Ahlussunnah Wal Jam'ah."

Dengan sikap membela kebenaran tersebut, Abu hasan Al Asy'ari pun rela meninggalkan jabatan yang sudah diraihnya dengan ditunjukkan melepaskan jubahnya. Inilah sikap ksatria seorang ulama yang membela kebenaran.

5. Kisah Al Muzany

Al-Muzany bercerita: "Saya membacakan kitab Ar-Risalah (karya pertama Imam Syafi'i dalam Ushul fiqh) kepada Imam Asy-Syafi'i sebanyak 80 kali, maka setiap kalinya ia (Imam Syafi'i) selalu menjumpai kesalahan lalu berkata: "Allah tidak mengkehendaki ada kitab yang benar sepenuhnya (tanpa kesalahan sedikitpun saja) melainkan kitabnya (Al-quran)".

Kisah ini sama keadaannya dengan kisah pertama tadi, dan perlu diingat bahwa kesalahan itu ada tingkatannya, mulai dari tingkat kesalahan tulis, sampai kesalahan yang lebih tinggi. Dan tidak semua kesalahan parah luar biasa di dalam kitabnya Imam Syafi'i. 

Faedah: "Kalam Allah yang sesungguhnya bukan berupa huruf, suara dan bahasa, tetapi kalam yang tiada bermula dan juga tidak berakhir, tidak serupa dengan kalam makhluq dan tidak bisa di bayangkan. Adapun yang tertulis dalam mushaf Al Qur'an yang berupa huruf, suara dan bahasa maka itu adalah ungkapan bagi kalam Allah yang sebenarnya.

Ada kisah lagi Tentang Imam Syafi'i

Di saat Al-Imam Asy-Syafi'i Masih mondok di tempat Al-Imam Malik, pernah suatu hari seseorang mengadukan kejadian yang menimpanya kepada Imam Malik bahwa ia telah menjual seeokor burung Qumry (tekukur penyu/merpati eropa) dan ternyata orang yang membeli burung tersebut datang protes bahwa burung yang di beli itu ternyata tidak berkicau akhirnya kamipun adu mulut hingga saya mengatakan: "saya bersumpah Jika burung tersebut berhenti berkicau maka jatuh talak (cerai) Istri saya!", 

Imam Malik pun menegaskan bahwa Talak (cerai) istrinya telah jatuh (karena memang namanya kicau burung pasti ada diamnya), akhirnya orang tersebut-pun keluar dari tempat Imam Malik dalam keadaan bersedih, tetapi Imam Syafi'i yang mendengarkan kejadian itu pergi menghampiri pria tersebut lalu beliau mendalami maksud dari ucapan orang tersebut dan saat itu usia beliau baru 14 Tahun, beliaupun bertanya:

"Burung yang engkau jual tersebut apakah kicauannya lebih banyak dari diamnya?," 

pria itupun menjawab: "ya kicauannya lebih banyak dari diamnya".

Imam Syafi'i menanggapi: "kalau begitu istrimu belum cerai".

Singkat cerita hal tersebut-pun diadukan kepada Imam Malik dan beliau menyuruh Imam syafi'i untuk mengklarifikasi fatwa tersebut dan dengan Tawadhu'nya Imam syafi'i menjawab:

"Saya memahami jawaban tersebut dari Hadist yang anda ajarkan kepada saya: "bahwa suatu ketika Fathimah binti Qais meminta pendapat kepada Nabi Bahwa Ia telah dilamar oleh dua orang salah satunya bernama abu jahm dan singkat cerita Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم

Mengatakan Bahwa abu jahm itu tidak pernah menurunkan kayu dari pundaknya (artinya orangnya suka memukul maka jangan menikah dengannya)",

Imam Syafi'i melanjutkan:

"tentu Nabi tahu bahwa abu jahm butuh makan, tidur dan istirahat (yang pada kesempatan itu semua, dia akan meletakkan kayunya), maka jelas yang di maksud beliau adalah dalam banyak kesempatan ia tidak meletakkan kayu dari pundaknya, maka saya juga memaknai ucapan pria tersebut bahwa dalam banyak kesempatan burungnya selalu berkicau."

Imam Malik Ta'jub mendengar hal tersebut dan tidak mencela Imam Asy-Syafi'i sama sekali dalam fatwanya itu. Kedua Imam Besar ini sama-sama benarnya. Walaupun kelihatannya berselisih.

Dan masih banyak lagi kisah para ulama yang tawadlu dalam menerima kritik dan menerima kebenaran. Ada lagi dari kisah Harun Ar Rasyid.

Suatu ketika Harun Ar-Rasyid mengajak Imam Malik musyawarah dalam beberapa hal, diantaranya Harun Ar-Rasyid memberikan Usulan Agar Kitab beliau Al-Muwattha' di gantung saja di ka'bah dan ia (Harun Ar-Rasyid) akan menyuruh Ummat Islam untuk mengamalkan apa yang di dalamnya.

Imam Malik pun memberi tanggapan: 

"Wahai Amirul Mukminin, adapun penggantungan Kitab tersebut di Ka'bah, maka (perlu anda ketahui) bahwa Shahabat Rasulullaah saja terjadi perbedaan pendapat diantara mereka (apalagi diantara kita) dalam persoalan Furu' dan perbedaan ini telah mereka bawa ke berbagai penjuru dan setiap mereka memiliki sisi kebenarannya".

6. Kisah Al Hasan bin Ziyad

Di Riwiyatkan Oleh Ash-Shaimary bahwasanya Al-Hasan bin Ziyad Al-Lu'lu'iy (seoran tokoh besar dan juga teman dari Imam Abu Hanifah) di minta fatwa (jawaban) dalam satu permasalahan, beliapun memberi jawaban yang keliru, dan ia tidak ingat lagi siapa orang yang memita fatwa tersebut, akhirnya beliaupun menyewa seseorang untuk mengumumkan (ke jalan-jalan) :

"Al-Hasan bin Ziyad telah di tanya pada hari fulan tentang permasalah fulan maka siapa yang ia beri fatwa dalam masalah tersebut mohon konfimasi lagi", akhirnya diapun berdiam selama beberapa Hari tidak memberi fatwa (jawaban persolan agama) hingga akhirnya bertemu kembali dengan orang tersebut lalu ia jelaskan kekeliruannya dan jawaban yang benarnya".

Demikianlah beberapa kisah tentang sikap tawadlu'nya para ulama. Perlu diketahui bahwa ada qaidah yang harus tetap dipegang. Bahwa di dalam masalah Akidah maka harus dipegang dengan sekuat baja dan sekuat tenaga. Karena barang siapa yang menyimpang dari keyakinan akidah Ahlussunnah wal Jamaah maka ia telah menyelisihi akidah rasulullah. artinya ia telah keluar dari agama islam. 

Dan di dalam masalah fiqih, maka sikapi dengan bijaksana, karena memang terdapat perbedaan pendapat dari para Imam Mujtahid, seperti Imam Malik dan Imam Syafi'i yang sudah dikisahkan diatas.

Posting Komentar untuk "Ketawadhu'an Para Ulama Dalam Menanggapi Kritik dan Menerima Kebenaran"