Asyura Dalam Islam
Asyura dalam Islam
1. Penjelasan Keutamaannya dan Hukum Puasanya
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, orang yang jujur dan terpercaya, beserta keluarga dan para sahabatnya yang baik dan suci. Semoga Allah meridhai para Ummul Mukminin, Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali), para imam yang mendapat petunjuk (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad), serta seluruh para wali dan orang-orang shaleh.
Allah Ta’ala berfirman:
ولَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami: ‘Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dan ingatkanlah mereka tentang hari-hari Allah.’ Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang bersabar dan banyak bersyukur.” (QS. Ibrahim: 5)
Imam Muslim meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
أَفْضَلُ الصَّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”
Hadits ini dengan jelas menyatakan bahwa puasa sunnah yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram. Khususnya puasa Asyura, yaitu hari ke-10 bulan Muharram. Hari ini memiliki keutamaan yang agung dan kehormatan yang sudah ada sejak zaman dahulu. Puasa pada hari ini sudah dikenal di kalangan para nabi ‘alaihimussalam. Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaksanakannya — semoga Allah menambah kemuliaan dan penghormatan bagi mereka.
Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan:
مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُنَاسٍ مِنَ الْيَهُودِ قَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا مِنَ الصَّوْمِ؟ قَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي نَجَّى اللهُ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنَ الْغَرَقِ، وَغَرَّقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ، وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِيِّ، فَصَامَ نُوحٌ وَمُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى، وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ، فصام صلى الله عليه وسلم وأمرَ أَصْحَابَهُ بِالصَّوْمِ.اهـ
Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sekelompok orang Yahudi yang sedang berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya: “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari tenggelam, serta menenggelamkan Fir’aun. Ini juga hari ketika bahtera Nuh mendarat di Gunung Judy.” Maka Nabi Nuh dan Nabi Musa berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada mereka, dan aku lebih berhak untuk berpuasa pada hari ini.” Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa.
Dalam Shahih Bukhari:
هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبِ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ.اهـ
“Ini adalah hari Asyura. Allah tidak mewajibkan puasa padanya atas kalian, namun aku sedang berpuasa. Barangsiapa yang mau, silakan berpuasa, dan barangsiapa yang tidak mau, boleh tidak berpuasa.”
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ: وَسُئِلَ – أي رسول الله – عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ؟ فَقَالَ: “يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيةَ“. وكما يُسَنُّ صيامُ عاشوراءَ يُسَنُّ أيضًا صيامُ تاسوعاء ، وهو التَّاسِعُ من الْمُحَرَّم لقوله صلى الله عليه وسلم: “لَئِنْ بَقِيتُ إِلَىَ قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ ” رواه مسلم.
Dalam Shahih Muslim, dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura, beliau menjawab:
“Ia dapat menghapus dosa setahun yang lalu.”
Disunnahkan pula berpuasa pada hari Tasu’a (tanggal 9 Muharram), sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim). Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat sebelum tahun berikutnya.
Imam Syafi’i radhiyallahu ‘anhu dalam kitab Al-Umm dan Al-Imla’ menegaskan disunnahkannya puasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.
2. Anjuran Membaca doa Awal Tahun
Diriwayatkan dari Abdullah bin Hisyam --rodliyallahu 'anhu--, sesungguhnya ia berkata --yang maknanya--:
"Para Shohabat Rosulullah mengaji doa ini sebagaimana mereka mengaji Al Quran apabila memasuki bulan dan tahun baru."
اللّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ وَجِوَارٍ مِنَ الشَّيْطَانِ وَرِضْوَانٍ مِنَ الرَّحْمن
'Semoga Allah memasukkan tahun baru ini kepada kita dengan keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman, perlindungan dari syetan dan ridha dari Allah Yang Maha Rahman.' (Al Hafidh Ibnu Hajar --rohimahullah--, dalam Al Ishobah)
Di antara hal yang dianjurkan pada awal bulan Muharram adalah membaca doa masyhur akhir tahun dan awal tahun. Bacaannya, sebagaimana disebutkan oleh para ulama: terlebih dahulu membaca sebelum dua doa, yaitu:
Ayat al-Kursi tiga ratus enam puluh (360) kali dengan Basmalah setiap kali nya. Waktunya menjelang maghrib tanggal 1 Muharram sampai menjelang maghrib lagi mau tanggal 2 Muharram.
Kemudian membaca doa di akhir tahun (sebagai berikut), kemudian doa di awal tahun, dan kemudian berdoa dengan doa ini :
اللَّهُمَّ يَا مُحَوّلَ الْأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِي إِلَى أَحْسَنِ الْأَحْوَالِ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا مُتَعَالُ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Artinya: “Ya Allah Zat pemindah berbagai kondisi, pindahlah kondisiku pada kondisi terbaik dengan daya dan kekuatan-Mu, wahai Zat Yang Maha Agung dan Maha Tinggi. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan keselamatan kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”
Referensi: _Mujaarobaat as Sholihiin li Ad Diyarbiy_
Selain itu juga dianjurkan menulis Basmalah. Menulis Basmalah 113 kali di atas sebuah kertas dengan khot mushhaf. Untuk memperlancar rizki dan dibawa sebagai hirz. Waktunya dilakukan setelah Shubuh tanggal 1 Muharram. Referensi: asy Syarh al Kabir 'ala al Jaami' as Shoghiir li al Munaawiy.
3. Peristiwa-Peristiwa yang Terjadi di Hari Asyura
Hari kesepuluh Muharram, yaitu hari Asyura, penuh dengan kebaikan, keutamaan, peristiwa-peristiwa besar, pelajaran, kesabaran, dan hikmah. Hari ini dikenal baik di kalangan generasi terdahulu maupun kemudian.
Pada hari Asyura:
- Allah menerima taubat Nabi Adam ‘alaihissalam.
- Allah menyelamatkan Nabi Nuh ‘alaihissalam dan menurunkannya dari bahtera dalam keadaan penuh kemenangan.
- Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dari kekejaman Namrud.
- Allah mengembalikan Nabi Yusuf kepada Nabi Ya’qub ‘alaihimas salam.
- Allah menghilangkan penyakit Nabi Ayyub ‘alaihissalam.
- Allah menerima taubat kaum Nabi Yunus ‘alaihissalam.
- Allah mengeluarkan Nabi Yunus ‘alaihissalam dari perut ikan paus.
- Allah memenangkan Nabi Musa ‘alaihissalam atas Fir’aun yang zalim dan membelah lautan untuk Musa dan Bani Israil.
- Allah menganugerahkan kerajaan kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.
Pada hari Asyura, tepatnya hari Jumat pada tahun ke-61 Hijriyah, terjadi tragedi yang menyedihkan umat Islam, yaitu terbunuhnya cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Abdullah Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, putra Fatimah az-Zahra radhiyallahu ‘anhuma, di tangan kelompok yang zalim. Al-Husain syahid dalam usia 56 tahun. Kakeknya shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang dirinya dan saudaranya:
:”الحسنُ والحسينُ سيِّدا شبابِ أهلِ الجنّة”
“Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda penghuni surga.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Thabrani).
Beliau juga bersabda:
حسين منِّي وأنا من حسين
“Husain dariku dan aku dari Husain” — artinya: kecintaanku kepadanya sempurna, dan kecintaannya kepadaku pun sempurna.
Kita akan berhenti di sini untuk sekarang. Pada episode berikutnya dari serial “Asyura dalam Islam”, kita akan membahas tentang taubat Nabi Adam ‘alaihissalam pada tanggal 10 Muharram.
