NEWS

Sullamut Taufiq 07 Allah Pencipta Segala Sesuatu

 Catatan Kitab Sullamut Taufiq Eps. 07 Allah Pencipta Segala Sesuatu

قَالَ المُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللّٰه: فهو القَدِيمُ وما سِواهُ حادِثٌ، وهو الخالِقُ وما سِواهُ مَخْلُوقٌ،

وكَلامُهُ قَدِيمٌ [أي بِلا ابْتِداءٍ] كَسائِرِ صِفاتِهِ، لِأنَّهُ سُبْحانَهُ مُبايِنٌ لِجَمِيعِ المَخْلُوقاتِ في الذّاتِ والصِّفاتِ والأفْعال، سُبْحانَهُ وتَعالَى عَمّا يَقُولُ الظّالِمُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا.

"Maka hanya Dia (Allah) saja yang qodīm (ada tanpa permulaan), sesuatu selain-Nya adalah hādits (berpermulaan yaitu dulu tidak ada, kemudian ada), hanya Dia (Allah) saja al Khāliq (pencipta), sesuatu selain-Nya adalah makhluk (diciptakan)".


Hati-hati dengan Keyakinan para filsuf (orang yang menekuni Ilmu Filsafat), yang mana mereka meyakini bahwa alam ini adalah qodîm Azali (adanya tanpa permulaan), sama dengan Allah. Artinya mereka menyerupakan bahwa alam semesta dan Allah sama-sama tidak memiliki permulaan. Keyakinan filsuf ini adalah keyakinan yang bathil (keyakinan yang bertentangan dengan Aqidah Islam).

Dalam ilmu tauhid (ilmu aqidah) istilah Qadîm dan azali maknanya sama yaitu ada tanpa permulaan, istilah hádits maknanya adalah sesuatu yang memiliki permulaan. Istilah ini harus difahami.

Jadi dalam membaca kitab berbagai disiplin ilmu terlebih dahulu kita harus memahami istilah-istilahnya, jika kita tidak memahami istilah-istilahnya maka kita tidak akan bisa memahami kitab itu.

Para filsuf terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Filsuf mutaqaddimin (generasi awal) seperti Aristoteles. Mereka mengatakan bahwa alam ini Qadîm (tidak memiliki permulaan) baik jenis maupun individu-individunya. Misalnya: termasuk bagian dari alam ini adalah manusia, jadi jenisnya adalah manusia dan individu-individunya adalah Ahmad, Ali, Muhammad, Zaid dll. Jadi menurut Filsuf mutaqaddimin seperti Aristoteles, baik jenis dan orang-orangnya, kedua-duanya Qadîm tidak berpermulaan.

2. Filsuf mutaakhkhirin (generasi akhir). Mereka mengatakan bahwa alam ini qodîm (tidak memiliki permulaan) tetapi hanya pada jenisnya saja adapun individu-individunya adalah hâdits (meiliki permulaan). Misalnya: termasuk bagian dari alam ini adalah manusia, jadi jenisnya adalah manusia dan individu-individunya adalah Ahmad, Ali, Muhammad, Zaid dll. Jadi menurut Filsuf mutaakhkhirin bahwa jenis manusia adalah qodîm, tetapi orang-orangnya (seperti Ahmad, Ali, Muhammad, Zaid dll) adalah hâdits (meiliki permulaan)

Kedua keyakinan filsuf ini adalah sama-sama sesat, karena menurut keyakinan Ahlussunnah wal jama'ah adalah tidak ada yang qadîm (adanya tanpa permulaan) kecuali hanya Allah.

Diantara para ulama yang membantah keyakinan filsuf ini adalah al Imam Badruddin az Zarkasyi dalam kitab Tasynîful masâmi' syarh Jam'ul Jawâmi', beliau mengutip ijma' tentang kekufuran dua golongan filsuf ini. Setelah beliau menceritakan dua golongan filsuf ini, beliau mengatakan:

وَضَلَّلَهُمُ المُسْلِمُوْنَ وَكَفَّرُوْهُم

"Umat Islam telah menyesatkan dan telah mengkafirkan mereka (dua golongan filsuf ini)"

Dua golongan filsuf ini sesat dan kafir menurut ummat Islam karena telah menyekutukan Allah dengan alam. Menyamakan Allah dengan Alam. Mereka meyakini bahwa Allah dan Alam sama-sama Qadîm (ada tanpa permulaan).

Disini perlu ditegaskan bahwa hanya Allah saja yang qodīm azali (ada tanpa permulaan), sesuatu selain-Nya (alam semesta ini) adalah hādits (berpermulaan yaitu dulu tidak ada, kemudian ada).

Ada seorang yang bernama Ibnu Taimiyah yang diikuti oleh kelompok Wahabi pada masa sekarang, dalam hal ini Ibnu Taimiyah mengikuti keyakinan para filsuf mutaakhkhirin, Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa jenis alam semesta ini adalah Qadîm azali (ada tanpa permulaan) sedangkan individu-individu dari alam semesta ini hâdits (memiliki permulaan).

Ini salah satu dari sekian banyak penyimpangan Ibnu Taimiyah dalam masalah aqidah yang menentang ijma' (konsesus) ummat Islam.

Ahlussunnah wal-Jama'ah meyakini bahwa tidak ada pencipta (Dzat yang mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada) kecuali hanya Allah. Ini harus diingat dan tetap diyakini selamanya.

Allah ta'ala berfirman :

(وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا)

"Dan Dia (Allah) yang telah menciptakan segala sesuatu" [Surat Al-Furqan 2]

(هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللّٰهِ)

"Tidak ada pencipta selain Allah" [Surat Fathir 3]

(قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ)

"Katakanlah Allah adalah pencipta segala sesuatu" [Surat Ar-Rad 16]

Maka segala sesuatu selain Allah, dari dzarroh (benda terkecil) sampai dengan Arsy (benda terbesar), Allah yang menciptakannya dari tidak ada menjadi ada. Allah yang menciptakan manusia, Allah yang menciptakan perbuatan manusia, Allah yang menciptakan kebaikan, Allah yang menciptakan keburukan, Allah yang menciptakan makhluk yang paling mulia yaitu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, Allah juga yang menciptakan iblis Laknatullah Alaihi, Allah yang menciptakan keimanan dan kekufuran, Allah yang menciptakan keta'atan dan kemaksiatan, tidak ada pencipta selain hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Termasuk perbuatan yang dilakukan manusia, misalnya kita berbicara, maka Allah yang menciptakan perbuatan bicara itu pada diri kita, misalnya kita berjalan, maka Allah yang menciptakan perbuatan berjalan pada diri kita, misalnya kita makan maka Allah yang menciptakan perbuatan makan pada diri kita.

Ketika kita melakukan suatu perbuatan maka yang mengadakan perbuatan itu pada diri kita adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala, baik perbuatan itu adalah perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk.

Allah berfirman:

(وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ)

"Dan Allah yg telah menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan" [Surat Ash-Shaffat 96]

Allah pencipta kebaikan dan keburukan. Allah ta'ala berfirman :

(مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ)

"Aku berlindung dari keburukan sesuatu yang telah Allah ciptakan" [Surat Al-Falaq 2]

Perbuatan yang terjadi dengan kehendak kita (yaitu perbuatan ikhtiariah) seperti makan, minum,berjalan, maupun perbuatan yang terjadi tanpa kehendak kita seperti tubuh gemetar, maka semuanya Allah yang menciptakannya. Allah yang menciptakan manfaat, dan Allah yang menciptakan madharrat.

Thobi'ah atau Tabiat (sifat yang Allah ciptakan pada benda) tidak menciptakan sesuatu. Misalnya tabiat api adalah membakar, tabiat pisau adalah memotong, tetapi api tidak menciptakan terbakar, Allah yang menciptakan api, Allah yang menciptakan sifat membakar pada api, Allah yang menciptakan terbakar.

Nabi Ibrahim Alaihissalam dilemparkan oleh orang-orang kafir kedalam api yang sangat besar, sangking besarnya api tersebut mereka tidak bisa memasukkan Nabi Ibrahim Alaihissalam kedalam api itu, sehingga mereka harus melemparkan Nabi Ibrahim Alaihissalam kedalam api dari jauh, tetapi Nabi Ibrahim Alaihissalam sama sekali tidak terbakar, karena api tidak bisa menciptakan terbakar, yang menciptakan terbakar adalah Allah.

Ketika api disentuhkan kepada benda, kemudian Allah menciptakan terbakar, maka terbakar. Tetapi jika api disentuhkan kepada sesuatu benda, dan Allah tidak berkehendak untuk menciptakan terbakar, maka tidak terbakar. Nabi Ibrahim Alaihissalam tidak terbakar, karena Allah tidak menciptakan terbakar ketika badan Nabi Ibrahim Alaihissalam dimasukkan ke dalam api.

Nabi Ismail Alaihissalam disembelih oleh ayahnya Nabi Ibrahim Alaihissalam atas perintah Allah. Nabi Ibrahim tidak ragu untuk melaksanakan perintah Allah tersebut, Nabi Ismail juga tidak ragu untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Mereka ridho dalam melaksanakan perintah Allah. Pisau sudah di gorok ke leher Nabi Ismail tetapi leher Nabi Ismail tidak terputus, sampai Nabi Ismail mengatakan: "wahai Ayahku jika tidak bisa maka tancapkan saja pisaunya (ke leher)". Kemudian turun Malaikat Jibril Alaihissalam membawa Qibas sebagai penggantinya.

Pisau yang tajam tidak mampu memotong leher Nabi ismail karena tabiat pisau adalah memotong tetapi tidak menciptakan terpotong. Allah tidak berkehendak menciptakan terpotong maka leher Nabi Ismail tidak terpotong. Segala sesuatu yang terjadi diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Ahlussunnah meyakini bahwa manusia memiliki kehendak (masyi'ah) meskipun kehendak manusia itu di bawah kehendak Allah, maka ini yang membedakan ahlussunnah dengan kelompok Jabbariyyah.

Allah berfirman:

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ۝٢٩

Kalian tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. [Surat At-Takwir 29]

Misalnya Jika manusia berkehendak (A), dan Allah berkehendak (A) maka kehendak manusia akan terjadi karena sesuai dengan kehendak Allah. Jika manusia berkehendak (A) dan Allah berkehendak (B), maka yang terjadi adalah (B) karena kehendak manusia di bawah kehendak Allah. Tunduk terhadap kehendak Allah subhanahu wa ta'ala.

Segala sesuatu yang terjadi dengan kehendak Allah. Allah yang menciptakannya, jika Allah tidak menciptakannya maka tidak terjadi meskipun manusia itu menghendakinya.

Kelompok Jabbariyyah mengatakan bahwa manusia tidak punya kehendak sama sekali (seperti bulu yang diterpa angin), atau diperumpamakan manusia ini seperti wayang yang tergantung kepada dalangnya. Ini perbedaannya dengan Ahlus sunnah Wal jamaah.

Sedangkan ahlussunnah Waljamaah mengatakan semua yang terjadi pada manusia tergantung kepada kehendak Allah dan tergantung pada penciptaan Allah, akan tetapi Allah memberikan kehendak pada manusia, Allah menciptakan kehendak pada diri manusia. Maka ketika manusia mengarahkan kehendaknya kepada suatu perbuatan, maka dia berarti telah melakukan KASAB.

Allah berfirman:

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ

[Surat Al-Baqarah Ayat 286]

Kasab adalah mengarahkan kehendak yang ada pada diri seseorang kepada suatu perbuatan dan Allah yang menciptakan perbuatan tersebut. Misalnya saya punya kehendak, kemudian saya mengarahkan kehendak saya untuk membaca, maka Allah yang menciptakan perbuatan membaca pada diri Saya, dengan itu berarti saya telah melakukan kasab. Jika kehendak kita ini kita Arahkan kepada perbuatan yang baik seperti shalat, membaca al-quran, shodaqoh dan Allah menciptakan perbuatan itu, maka berarti kita telah berkasab baik, dan akan mendapatkan pahala dari kebaikan yang telah dikasabkan. Tetapi jika kehendak yang ada pada diri kita ini kita arahkan kepada perbuatan-perbuatan yang buruk, maka berarti kita telah berkasab buruk, dan akan mendapat siksa (azab) atas keburukan yang telah dikasabkan.

Di akhirat nanti manusia iakan mempertanggungjawabkan perbuatan yang terjadi dengan kasabnya.

Jika ada yang bertanya bahwa perbuatan buruk seseorang misalnya kekufuran, maksiat adalah Allah yang menciptakannya, tetapi kenapa di akhirat nanti tetap di azab padahal Allah yang menciptakannya pada diri orang tersebut?

Jawabannya: Benar Allah yang menciptakan perbuatan buruk yang dilakukan oleh seseorang, tetapi perbuatan buruk itu terjadi dengan kasab orang tersebut (yaitu dengan kehendaknya yang diarahkan kepada perbuatan buruk tersebut).

Hati-hati dengan kelompok HTI (Hizbut Tahrir), kelompok ini selain menentang negara, juga memiliki aqidah yang menyimpang. Diantara penyimpangan aqidah kelompok HTI ini adalah mereka meyakini bahwa perbuatan manusia yang ikhtiyariyah (terjadi dengan kehendak manusia) bukan diciptakan oleh Allah, bukan dengan takdir Allah, tetapi manusia sendiri itu yang menciptakannya. Ini adalah pemahaman aqidah qodariyah pada masa lalu yang telah dicela oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebelum kemunculan kelompok Qodariyah tersebut karena beliau mengetahuinya dari Wahyu, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الأُمَّةِ، إِنْ مَرِضُوا فَلا تَعُودُوهُمْ، وَإِنْ مَاتُوا فَلا تَشْهَدُوهُمْ

"Qodariyah adalah majusinya umat ini (ummat dakwah), jika mereka sakit maka janganlah kalian jenguk mereka dan apabila mereka mati jangan saksikan jenazahnya" HR Abu Dawud

Keyakinan kelompok Qodariyah mirip dengan keyakinan majusi. Orang majusi meyakini ada Tuhan pencipta kebaikan dan ada Tuhan pencipta keburukan. Kelompok Qodariyah meyakini bahwa Allah pencipta kebaikan saja, sedangkan pencipta keburukan bukan Allah, tetapi makhluk itu sendiri. Sebagian mereka mengatakan bahwa Allah pencipta perbuatan yang idtirariyah (yang terjadi tanpa kehendak manusia), Adapun perbuatan yang ikhtiyariyah (terjadi dengan kehendak manusia) maka manusia itu sendiri yang menciptakannya. Ini adalah keyakinan-keyakinan menyimpang dari kelompok Qodariyah (HTI).

Aqidah yang benar adalah Allah pencipta segala sesuatu. Segala sesuatu yang terjadi Allah yang menciptakannya.

 وكَلامُهُ قَدِيمٌ [أي بِلا ابْتِداءٍ] كَسائِرِ صِفاتِهِ

"Kalam Allah qadîm (ada tanpa permulaan) sebagaimana sifat-sifat Allah yang lainnya"

Ahlussunnah wal-Jama'ah meyakini bahwa seluruh sifat Allah itu qadîm/azaliy (tidak berpermulaan) dan abadi (tidak berpenghabisan) serta tidak berubah-ubah.

Di antara sifat Allah adalah al-kalam (Allah Maha berfirman), sehingga seperti halnya sifat-sifat yang lain, kalam Allah juga Qadîm/azali dan abadi (tidak berpermulaan dan tidak berpenghabisan).

Jika Kalam Allah tidak berpermulaan dan tidak berpenghabisan, maka kalam Allah bukan bahasa, bukan huruf dan bukan suara. Kalam Allah bukan bahasa Arab, bahasa Ibrani, bahasa Suryani atau bahasa-bahasa yang lain. Kalam Allah bukan huruf hijaiyah, huruf latin, huruf jawa atau jenis huruf yang lain. Karena semua bahasa, suara, dan huruf pasti berpermulaan dan berakhiran, terputus-putus, dan itu disebut dengan kalam yang hâdits (yang berpermulaan).

Bagaimana dengan al-Quran, Zabur yang asli, Taurat yang asli dan Injil yang asli? Al-Qur'an terdiri dari 30 juz, memiliki permulaan dengan surat al-Fatihah, diawali basmalah, dan diakhiri dengan surat an-Nas, berupa bahasa Arab, dengan huruf hijaiyyah, dan apabila dibaca maka bersuara. Bagaimana dengan ini?

Jawabannya adalah Kitab-kitab tersebut juga disebut kalam Allah, tetapi bukan sifat kalam Allah, karena sifat kalam Allah itu bukan bahasa bukan huruf dan bukan suara. Kitab-kitab tersebut adalah ibarah (ungkapan) dari kalam Allah yang merupakan sifat-Nya.

Pendekatannya seperti ini: Misalnya seseorang menulis kata "API" dipapan tulis, maka tulisan kata api tersebut bukanlah api yang sebenarnya, tetapi ungkapan yang menunjukkan adanya api yang sebenarnya (hakikatnya). Misalnya seseorang menulis lafdzul jalalah (lafadz اللّٰه) dipapan tulis, maka tulisan lafadz tersebut boleh kita katakan Allah, dengan pengertian ini adalah tulisan yang mengungkapkan dzat Allah yang azali dan abadi, tidak berarti bahwa tulisan lafadz jalalah itu adalah tuhan yang kita sembah.

Kalam Allah memiliki dua pengertian:

1. Kalam adz-Dzati, yaitu kalam Allah yang merupakan sifat Dzat Allah yang bukan berupa bahasa, bukan huruf dan bukan suara.

2. Adakalanya ketika kita sebut kalam Allah maka yang dimaksud adalah lafdz al munazzal (lafadz yang diturunkan) kepada sebagian para Nabi, berupa bahasa, berupa huruf dan suara, ada yang berbahasa Arab seperti Al-quran, ada yang berbahasa Ibrani seperti Taurat yang asli, ada yang berbahasa suryani seperti Injil yang asli.

Semua kitab-kitab tersebut juga disebut sebagai kalam Allah dengan makna lafadz yang diturunkan (lafdz al munazzal) kepada sebagian para Nabi, karena merupakan ibarah (ungkapan) dari kalam Allah adz-Dzati (Kalam Allah yang Qadîm/ azali), Abadi, dan karena ia bukan karangan malaikat Jibril ataupun Nabi Muhammad.

Hati-hati dengan kelompok sesat Musyabbihah (seperti orang-orang Wahhabi pada masa sekarang), mereka mengatakan kalam sama dengan makhluk yaitu berupa bahasa, berupa huruf, berupa suara.

Ada kelompok sesat lainnya yang mengatakan bahwa Allah tidak mempunyai sifat kalam, Al-quran bukan kalam Allah dll, seperti kelompok Muktazilah.

Dua kelompok ini menyimpang. Didalam al qur'an Allah berfirman:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا [النساء:164]

"Dan Allah benar-benar telah memperdengarkan kalam-Nya yang bukan berupa bahasa, bukan huruf dan bukan suara, pada nabi Musa"

Orang yang pernah mendengar sifat kalam Allah (Kalam adz-Dzati) yang bukan bahasa,bukan huruf dan bukan suara, adalah:

1. Nabi Musa, karena itu Nabi Musa bergelar Kalimullah (pernah memdengar kalam Allah yang azali dan abadi). Nabi Musa mendengar kalam Allah ketika beliau berada di bukit thur sina.

2. Nabi Muhammad mendengar kalam Allah ketika beliau Mi'raj, ketika beliau berada diatas langit ke 7.

Maka ini menunjukkan bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak berada di langit ataupun di bumi, karena keyakinan kita adalah bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk, baik Dzat, Sifat, maupun perbuatan-Nya.

Dzat makhluk artinya jisim/badannya. Sedangkan dzat Allah artinya hakekat Allah dan tidak ada yang mengetahui hakekat Allah kecuali hanya Allah, karena hakekat Allah bukan berupa jisim. Sifat makhluk adalah sifat yang hâditsah (baharu, berpermulaan dan berubah-ubah). Sedangkan sifat Allah adalah azaliyah (tidak berpermulaan) dan abadiyah (tidak berpenghabisan); tidak berubah-ubah.

Perbuatan makhluk adalah perbuatan yang hâditsah ( baharu dan berpermulaan), Allah yang telah menciptakannya pada makhluk. Sedangkan perbuatan Allah itu azali dan abadi; bukan makhluk.

Allah maha suci dari yang dikatakan oleh orang-orang dzalim. Orang dzalim yang dimaksud di sini adalah orang kafir. Karena kekufuran adalah kedzaliman yang paling besar. Allah taala berfirman:

وَاْلكَافِرُوْنَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

“Dan orang-orang kafir, mereka adalah orang-orang yang dzalim” [Q.s al-Baqarah: 254)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar