Bersiwak dan Kesunnahannya - Kitab Matan al Ghoyah wa at Taqrib
Ngaji Matan Abi Syuja' (Matn al Ghoyah wa at Taqrib) 13
قال المؤلف رحمه الله تعالى:
(فَصْلٌ) وَالسِّوَاكُ مُسْتَحَبٌّ فِى كُلِّ حَالٍ إِلَّا بَعْدَ الـزَّوَالِ لِلصَّائِمِ وَهُوَ فِى ثَلاثَةِ مَواضِعَ أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا عِنْدَ تَغَيُّرِ الْفَمِ مِنْ أَزْمٍ وَغَيْرِهِ وَعِنْدَ الْقِيَامِ مِنَ الـنَّوْمِ وَعِنْدَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلاةِ.
“Bersiwak hukumnya sunnah dalam setiap keadaan kecuali setelah condongnya matahari (waktu zawal) bagi orang yang berpuasa. Bersiwak sangat disunnahkan pada tiga tempat:
- saat berubahnya bau mulut disebabkan lamanya diam dan lainnya,
- saat terbangun dari tidur dan
- saat hendak melaksanakan shalat.”
Penjelasan
Definisi As Siwak ( السواك ) Secara bahasa artinya menggosok atau alat bersiwak. Sedangkan secara istilah artinya menggunakan kayu arak atau selainnya untuk menggosok gigi.
Alat besiwak dianjurkan dari kayu arak dan boleh dari setiap sesuatu yang suci dan kasar, tidak harus dari kayu seperti ujung lengan baju.
Rasûlullâh ﷺ bersabda:
السِّواكُ مَطْهَرَةٌ للفَمِ مَرْضَاةٌ للرَّبِّ
“Siwak mensucikan mulut dan menyebabkan ridlonya Allah.” (H.R. Al Bukhoriy)
Hukum bersiwak bagi orang yang berpuasa:
1. Sebagian ulama madzhab Syafi'i mengatakan makruh bersiwak setelah tergelincirnya matahari bagi orang yang berpuasa. Hadits:
لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum menurut Allah daripada minyak misik.” (H.R. Al Bukhariy)
Awas!!:
أمّا الخَلُوف بفتح الخاء فهو الذي يعد ثُمَّ يُخلِف
Al khaluf artinya orang yang berjanji kemudian mengingkarinya (suka mengingkari janji).
2. Sebagian ulama’ madzhab Syafi'i yang lain menguatkan pendapat yang mengatakan tidak makruh atau tetap sunnah bersiwak bagi orang yang berpuasa secara mutlak. Imam An Nawawi (w676 h) mentarjih hukum siwak setelah dzuhur bagi orang yang berpuasa adalah tetap sunnah, tidak makruh (kifayatul akhyar (1/30, cet dki-jkt)
ثَبَتَ فِى حَدِيثٍ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ اسْتَاكَ بَعْدَ الظُّهْرِ وَهُوَ صَائِمٌ.
Karena terdapat sebuah hadits tsabit yang diriwayatkan Ibnu Hibban menerangkan bahwa Rasûlullâh ﷺ pernah bersiwak setelah tergelincirnya matahari (setelah dzuhur) saat beliau berpuasa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وضوء" وفي روايةٍ "عندَ كُلِّ صَلاةٍ"،
“Seandainya Aku tidak takut memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak wudlu'" dan di riwayat lain "hendak shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beberapa keadaan yang sangat dianjurkan untuk bersiwak:
1. Ketika berubahnya bau mulut, baik disebabkan lamanya diam, makan makanan yang meninggalkan bau tidak sedap seperti bawang putih, bawang bombai dan selainnya.
2. Setelah bangun dari tidur
3. Ketika hendak melaksanakan shalat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"رَكعتَانِ بِسوَاكٍ خَيرٌ مِن سَبعِينَ رَكعَةً بدونِ سِواكٍ". رواه الدّارقطنيُّ .
"رَكعتَانِ بِسوَاكٍ أفضل مِن سَبعِينَ رَكعَةً بدونِ سِواكٍ" رواه البيهقي.
“Dua roka’at dengan siwak pahalanya lebih utama dari 70 roka'at tanpa siwak.” (HR. ad-DaruQuthniy dan al Baihaqiy)
4. Ketika hendak berwudlu.
Waktunya adalah setelah membasuh dua telapak tangan. Sebagian ulama menyebutkan bahwa waktunya sebelum membasuh dua telapak tangan.
5. Ketika hendak tayammum.
6. Ketika hendak membaca al Qur'an
7. Ketika gigi mulai menguning
8. Ketika hendak thawaf
9. Ketika hendak tidur
10. Ketika sakarat al maut
Cara bersiwak yang disunnahkan:
Dengan menggunakan tangan kanan dan berjalan menyamping, dimulai dari sisi kanan paling samping. Kemudian mengusapkannya pada langit-langit mulut dengan lembut, lisannya dan ujung gigi grahamnya.
Di antara manfaat siwak adalah:
1. Membersihkan mulut,
2. Menguatkan gusi,
3. Melipatgandakan pahala,
4. Memutihkan gigi,
5. Membantu mengeluarkan huruf-huruf dari makhrajnya dengan benar,
6. Mengingatkan akan syahadat saat menghadapi kematian,
7. Membantu keluarnya ruh (dengan mudah),
8. Menguatkan kecerdasan dan penglihatan,
9. serta menjadi sebab bertambahnya rezeki dengan izin Allah.
Disunnahkan juga memotong kuku jika sudah panjang. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: الْخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ
“lima hal termasuk dari kesucian; berkhitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, menggunting kumis, dan memotong kuku.” HR. at Tirmidzi
Disunnahkan juga memakai celak. Rasulullah ﷺ bersabda:
رُوِيَ عن عِكْرِمَة عنِ ابنِ عبَّاسٍ رضي الله عنهما أن النبيَّ ﷺ قال: (اكْتَحِلُوا بالإثمِدِ فإنَّهُ يَجْلُو البَصَرَ ويُنبِتُ الشَّعْر) رواه الترمذي في الشمائل
“Pakailah celak dari itsmid, karena sungguh dia mencerahkan pengelihatan dan menumbuhkan bulu mata.” HR. at Tirmidzi
