NEWS

Meluruskan Kesalahan-Kesalahan Dalam Kitab Tafsir Jalalain

Dalam kitab Nurul Ain fi Bayan Akhta' Tafsir al-Jalalayn (Cahaya Mata dalam Menjelaskan Kesalahan-Kesalahan Tafsir al-Jalalayn), 


Muallif menjelaskan bahwa Al-Muhaddits Abdullah bin Muhammad Siddiq al-Ghumari al-Hasani al-Idrisi berkata dalam kitabnya Bida' at-Tafasir [829] disebutkan:

«Tafsir al-Jalalayn cenderung mengikuti riwayat-riwayat Israiliyyat.»

Dalam Juz Pertama kitab Tafsir al-Jalalayn, kesalahannya terdapat dua tempat:

1. Pada firman Allah Ta'ala dalam tafsir Surah Al-A'raf:  

{فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ}

Penulis (Tafsir Jalalayn) berkata tentang Surat Al-A'raf ayat 190 tersebut yaitu: Artinya Nabi Adam dan Hawa menyetujui Iblis dalam perintahnya kepada mereka untuk menamai anak yang lahir dengan nama “Abdul Harits”.

Bantahan:

Ini adalah sesuatu yang tidak layak bagi Nabi Adam dan Hawa. Mustahil seorang nabi tertipu oleh setan sampai melakukan perbuatan syirik. Mustahil bagi seorang nabi untuk berbuat syirik kepada Allah, baik sebelum maupun sesudah kenabian. Ini adalah ijma’ umat Islam tanpa ada perselisihan. Selain itu, Ibu Hawa adalah seorang waliyyah (perempuan shalihah yang menjadi wali Allah), ia juga tidak mungkin tertipu oleh setan seperti itu. Allah Ta'ala berfirman tentang wali-wali-Nya:  

{أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ} 

(Q.S. Yunus: 62)

Makna yang benar dari ayat tersebut (Q.S. Al-A'raf: 190) adalah bahwa ayah dan ibu dari keturunan Adam dan Hawa (yaitu generasi setelah Nabi Idris) ada yang melakukan syirik. Bukan Adam dan Hawa sendiri. Hal ini ditunjukkan oleh akhir ayat: {فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ} yang menggunakan bentuk jamak.

Imam an-Nasafi dalam tafsirnya berkata: “جعلا له شركاء - Jaa’la lahu syurakaa’” artinya anak-anak mereka (setelah Nabi Idris) menjadikan sekutu bagi Allah. Ini adalah bentuk hadsful mudhaf (menghilangkan mudhaf). Begitu pula “في ما ءاتاهما - fima aataahuma” artinya apa yang diberikan kepada anak-anak mereka.

Dalilnya adalah penggunaan dhamir jamak pada {يُشْرِكُونَ}, sedangkan Nabi Adam dan Hawa bersih dari kesyirikan.

Kesimpulan maknanya: Sebagian manusia setelah Nabi Idris melakukan kesyirikan kepada Allah. dan firman Allah: 

فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

yakni Allah menyucikan diri-Nya dari apa yang mereka persekutukan itu. Meskipun ayat ini menggunakan bentuk jamak, yang dimaksud bukan Nabi Adam dan Hawa, karena keduanya terbebas dari syirik.

Kemudian, 

2. Di antara yang tidak memiliki dasar adalah tafsir Surah Yusuf ayat:  

{وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ}

(Q.S. Yusuf: 24)

Penulis (Tafsir Jalalayn) berkata: Maksudnya adalah berhubungan badan, yaitu berniat berzina.

Bantahan:

Ini adalah kesesatan dan kesalahan yang sangat buruk, yang bertentangan dengan kesucian para nabi. Mustahil seorang nabi berniat berzina, sebagaimana mustahil ia melakukannya. Ini merupakan pencemaran dan penghinaan terhadap martabat kenabian.

- Imam al-Hafizh Abu al-Faraj Ibnul Jauzi dalam tafsirnya Zad al-Masir [830] berkata: “Tidak sah apa yang diriwayatkan dari sebagian mufassir bahwa ia (Nabi Yusuf) membuka celana dan duduk di tempat laki-laki (siap berhubungan). Karena jika demikian, itu menunjukkan tekad (azm /azam), padahal para nabi terjaga (ma’shum) dari tekad berzina (perbuatan dosa besar).”

- Al-Fakhr ar-Razi berkata: “Nabi Yusuf alaihis salam terbebas dari perbuatan bathil dan niat yang diharamkan. Ini adalah pendapat para peneliti di kalangan mufassir dan ahli kalam, dan kami berpendapat demikian serta membelanya.” [831].

- Abu Hayyan al-Andalusi dalam tafsirnya an-Nahr al-Madd [832] berkata: “Yang kami katakan adalah bahwa Nabi Yusuf alaihis salam sama sekali tidak pernah berniat (tidak ada niatan sama sekali), bahkan ia dicegah oleh adanya penglihatan burhan (bukti) dari Tuhannya.” 

Beliau juga berkata: “Ketahuilah, orang-orang yang terkait dengan peristiwa ini adalah Nabi Yusuf, perempuan itu, suaminya, para perempuan, dan para saksi. Tuhan semesta alam telah bersaksi akan kesuciannya dari dosa, dan Iblis pun mengakui kesuciannya dari maksiat. Jika demikian, maka tidak ada lagi keraguan bagi seorang muslim dalam perkara ini.”

Bukti-bukti kesucian Yusuf:

- Yusuf sendiri berkata: “هي راودتني عن نفسي - Dia (zulikho )yang menggodaku untuk diriku” dan “ربِّ السجن أحبّ إليّ مما يدعونني إليه - Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya.”

- Adapun penjelasan bahwa perempuan itu (istri pembesar) telah mengakui perbuatannya, adalah karena ia sendiri telah berkata kepada para perempuan: “ولقد راودته عن نفسه فاستعصم - Dan sungguh aku telah merayunya (merayu nabi Yusuf) untuk menundukkan dirinya, tetapi ia menolak (menjaga diri).” Dan ia juga berkata: “الآن حصحص الحق أنا راودته عن نفسه وإنّه لمن الصادقين - Sekarang jelaslah kebenaran itu. Akulah yang merayunya untuk menundukkan dirinya, dan sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang benar.”

- Pengakuan suaminya. Adapun penjelasan bahwa suami perempuan itu (Al-Aziz) telah mengakui hal tersebut, adalah dengan perkataannya: “إنّه من كيدكنّ إنّ كيدكن عظيم يوسف أعرض عن هذا واستغفري لذنبك - Sesungguhnya ini termasuk dari tipu daya kalian. Sesungguhnya tipu daya kalian memang besar. Yusuf, berpalinglah dari hal ini. Dan mintalah ampunan bagi dosamu, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang bersalah.”

- Kesaksian saksi dari keluarganya berdasarkan robekan baju dari belakang. Adapun mengenai saksi (bukti), maka firman Allah Ta’ala: {Dia (Yusuf) berkata: 

قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ *وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Dia yang merayuku untuk menundukkan diriku.” Dan seorang saksi dari keluarganya (istri Al-Aziz) memberi kesaksian: “Jika bajunya koyak di bagian depan, maka perempuan itu benar dan dia (Yusuf) termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika bajunya koyak di bagian belakang, maka perempuan itu dusta dan dia termasuk orang-orang yang benar.”}* (Q.S. Yusuf:26-27)  Dan ternyata baju gamisnya koyak dari belakang — yaitu dari arah punggung (dari belakang).

- Kesaksian Allah, Adapun kesaksian Allah Ta’ala mengenai hal itu, adalah firman-Nya:

 {كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ}

«Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.» (Q.S. Yusuf: 24) Maka Allah Ta’ala telah bersaksi dalam ayat ini dengan Al-Mukhlashin "orang-orang yang ikhlas" berkali-kali.

- Pengakuan Iblis bahwa ia tidak mampu menyesatkan hamba-hamba Allah yang ikhlas, yakni para Nabi dan Nabi Yusuf termasuk di antara para Nabi Allah. 

{قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأَُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ *إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ *}

{Ia (Iblis) berkata: “Demi kekuasaan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.”}* Maka Iblis mengakui bahwa ia tidak mampu menyesatkan orang-orang yang ikhlas (al-mukhlashīn). Sedangkan Nabi Yusuf termasuk golongan mereka yang ikhlas, sebagaimana firman Allah Ta’ala: 

{…إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ *}

{…Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.} 

Oleh karena itu, ini merupakan pengakuan dari Iblis bahwa ia tidak berhasil menggoda Yusuf dan tidak mampu menyesatkannya dari jalan petunjuk.

– Dan ia juga berkata dalam tafsirnya dengan redaksi sebagai berikut [(833)]: “Yang dimaksud adalah bahwa beliau Nabi Yusuf ‘alaihissalam berniat untuk mendorongnya (perempuan itu) menjauh dari dirinya dan mencegahnya dari perbuatan keji tersebut. Karena ‘hamm’ (هم) artinya adalah kemauan. Maka wajib memahaminya sesuai dengan niat yang layak bagi setiap Nabi. 
Keinginan perempuan itu (yaitu Zulaikha, istri Al-Aziz) adalah untuk memperoleh kenikmatan dan kesenangan (seksual). Sedangkan yang layak bagi seorang Rasul yang diutus kepada manusia adalah niat untuk mencegah orang yang bermaksiat dari kemaksiatannya, serta untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. 
Dikatakan juga kata: ‘هممت بفلان’ dalam bahasa arab dan maksud dari orang arab bisa artinya aku berniat memukulnya dan mendorongnya (menjauhkannya).”

Jika ada yang mengatakan: “Maka menurut penafsiran ini, tidak tersisa lagi faedah bagi firman Allah:

{…لَوْلاَ أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ}

{…seandainya ia tidak melihat bukti dari Tuhannya}.”

Kami jawab: Bahkan di dalamnya (Ayat tersebut) terdapat faedah yang paling agung, dan penjelasannya dari dua segi:

Yang pertama: Bahwa Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam bahwa seandainya ia berniat mendorongnya (perempuan itu) dengan keras, niscaya perempuan itu akan membunuhnya atau akan menyuruh membunuhnya. Maka Allah Ta’ala mengajarkan kepadanya bahwa menahan diri dari memukulnya adalah lebih utama, sebagai bentuk menjaga jiwa dari kebinasaan/pembunuhan.

Yang kedua: Bahwa seandainya Nabi Yusuf ‘alaihissalam sibuk mendorong dan menolaknya, mungkin saja perempuan itu akan berpegangan kepadanya, sehingga bajunya robek dari bagian depan. Dengan demikian, saksi akan memberikan kesaksian yang memberatkannya (Yusuf) di hadapannya dengan tuduhan pengkhianatan. Padahal jika bajunya robek dari belakang, maka perempuan itulah yang menjadi pihak yang berkhianat. Oleh karena itu, Allah Ta’ala mengajarkan kepadanya makna ini, sehingga sudah semestinya beliau tidak sibuk mendorong dan menolaknya, melainkan beliau berpaling darinya. Akhirnya (dalam persidangannya), kesaksian saksi menjadi bukti yang kuat baginya atas kesuciannya dari perbuatan maksiat.

Dari apa yang telah disebutkan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memelihara para Nabi dari perbuatan-perbuatan keji (الرذائل) dan menyucikan mereka darinya. Adapun Nabi Yusuf ‘alaihissalam, beliau sama sekali tidak menginginkannya untuk dirinya, tidak berkeinginan untuk melakukannya, dan tidak pernah berniat (hamm) untuk itu. Inilah yang layak bagi Nabi Yusuf ‘alaihissalam, yaitu seorang yang hatinya terpaut dengan cinta kepada Allah, pengagungan dan ketakwaan kepada-Nya, sebagaimana saudara-saudaranya para Nabi yang lain. Dan inilah keyakinan (aqidah) kaum Muslimin.

– Dan sebagian ulama berkata dalam menafsirkan ayat: 

{…وَهَمَّ بِهَا لَوْلاَ أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ} .

Penjelasan terbaik yang dikemukakan adalah: Sesungguhnya jawaban “لولا” (seandainya tidak) itu mahdzuf (disembunyikan), yang ditunjukkan oleh kalimat sebelumnya. Artinya: Seandainya ia tidak melihat bukti dari Tuhannya, niscaya ia akan berniat (melakukannya). Maka tidak terjadi darinya niat berzina sama sekali, karena Allah Tabāraka wa Ta‘ālā telah memperlihatkan kepadanya bukti-Nya.

Sebagaimana kamu katakan kepada temanmu: 

«زرتك لولا أمطرت»

“Aku akan mengunjungimu, seandainya tidak hujan.” Maka kunjungan itu tidak terjadi karena turunnya hujan. 

Maka perkataan bahwa Sayyidina Yusuf ‘alaihissalam berniat berzina dengan istri Al-Aziz (yaitu berniat melakukan perbuatan tersebut) adalah perkataan yang bathil dan tidak berdasar sama sekali, bertentangan dengan petunjuk Al-Qur’an, mengandung celaan dan penodaan terhadap seorang Nabi dari para Nabi, serta merupakan tuduhan yang bathil menurut dalil naqli (teks syar’i) dan aqli (akal). Di dalamnya terdapat kesesatan yang nyata.

---

Dalam Juz Kedua kitab Tafsir al-Jalalayn, kesalahannya terdapat dua tempat:

Dan di antara yang tidak memiliki dasar (tidak shahih) adalah apa yang terdapat dalam juz kedua dari tafsir ini, karena di dalamnya terdapat dua kesalahan besar:

Yang pertama: Dalam tafsir Surah Al-Hajj pada firman Allah Ta’ala:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلاَ نَبِّيٍ إِلاَّ إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ

(Q.S. Al-Hajj: 52).

Penulis (dalam tafsir al jalalayn) berkata: “Rasulullah ﷺ pernah membaca dalam Surah An-Najm di hadapan majelis orang-orang Quraisy, setelah ayat ‘Maka apakah kamu telah melihat (berhala-berhala) Al-Lat dan Al-Uzza, dan Manat yang ketiga yang paling besar?’ — syetan melemparkan kata-kata pada lisannya tanpa sepengetahuan beliau ﷺ (sabq lisan): ‘Mereka itulah burung-burung gagak yang tinggi, dan sesungguhnya syafaat mereka sangat diharapkan.’ Orang-orang Quraisy pun gembira karenanya. Mereka berada dekat dengan beliau bersama kaum muslimin, dan mereka berkata: ‘Belum pernah disebutkan kebaikan bagi tuhan-tuhan kami sebelum hari ini.’ Kemudian Jibril datang dan berkata kepadanya: ‘Ini bukan dari Al-Qur’an.’ Rasulullah ﷺ pun bersedih, lalu Allah menurunkan ayat ini  {وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ… *} . sebagai hiburan baginya…”

Bantahan:

Riwayat ini tidak shahih. Mustahil bagi Rasulullah ﷺ membaca sesuatu yang bukan Al-Qur’an sambil menyangka bahwa itu adalah Al-Qur’an, karena beliau ma’shum (terpelihara) dari hal tersebut. Al-Fakhr Ar-Razi berkata: “Orang yang meyakini bahwa syetan telah mengalirkan ucapan pada lisan Nabi ﷺ berupa pujian terhadap berhala-berhala yang tiga (Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat) dengan kalimat ‘Mereka itulah burung-burung gagak yang tinggi, dan sesungguhnya syafaat mereka sangat diharapkan’ — maka ia telah KAFIR. Karena mustahil Allah membiarkan syetan mengalirkan pujian terhadap berhala pada lisan Nabi-Nya.”

Tafsir yang benar: Setiap nabi membacakan (ayat-ayat) kepada kaumnya, kemudian syetan melemparkan kepada manusia ucapan yang bukan dari apa yang dibacakan nabi, yaitu syetan menambahkan ucapannya sendiri di atas ucapan nabi untuk menipu manusia seolah-olah nabi yang mengucapkannya, sehingga mereka terfitnah. Lalu Allah menghapus apa yang dilemparkan syetan dan meneguhkan apa yang dibacakan nabi. Ini adalah ujian dari Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Tidak ada dalam kitab yang mu’tabar (terpercaya) bahwa syetan melemparkan ucapan pada lisan para nabi. Jika hal itu terjadi, niscaya hilang kepercayaan terhadap ucapan mereka, dan orang-orang akan berkata: “Barangkali ini dari lemparan ucapan syetan.” Oleh karena itu, hal tersebut mustahil terjadi.

An-Nasafi berkata dengan redaksinya [(834)]: “Karena Allah Ta’ala berfirman dalam sifat wahyu yang diturunkan kepada beliau ﷺ: ‘Tidak akan datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan dari depan maupun dari belakang’, dan firman-Nya: «إنا نحن نزّلنا الذكر وإنّا له لحافظون» ‘Sesungguhnya Kami yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya’.”

Jadi tertolak dan batil riwayat tersebut yang ada di kitab tafsir jalalain tersebut. Dan setelah terbantahkan berbagai kemungkinan, maka tidak tersisa kecuali satu penjelasan saja, yaitu: Beliau ﷺ diam sejenak setelah membaca “dan Manat yang ketiga yang paling besar”, lalu syetan berbicara dengan kalimat-kalimat tersebut menyambung bacaan Nabi ﷺ. Sehingga sebagian orang -dari kalangan musyrik- menyangka bahwa Nabi  ﷺ lah yang mengucapkannya. Ini adalah “ilqa’ (lemparan ucapan) dalam bacaan Nabi ﷺ”. Dan syetan memang bisa berbicara pada zaman Nabi ﷺ dan suaranya bisa terdengar oleh manusia. Dalilnya: Telah diriwayatkan bahwa ia (syaithan) berteriak pada hari Uhud: “Ketahuilah, Muhammad telah terbunuh!” Dan pada hari Badar ia (syaithan) berkata: “Tidak ada yang dapat mengalahkan kalian hari ini dari manusia, dan aku adalah tetangga (pelindung) kalian.” .

Yang kedua: Dalam tafsir Surah Shad ayat 23 mengenai “na’jah” (kambing betina) yang disebutkan dalam ayat:  

إِنَّ هَذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِي نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ

Penulis (dalam kitab tafsir al jalalayn) berkata: “Untuk mengingatkan Nabi Dawud ‘alaihissalam atas apa yang telah ia lakukan. Ia memiliki sembilan puluh sembilan istri, lalu ia menginginkan istri seorang laki-laki yang hanya memiliki satu istri saja. Kemudian ia menikahinya dan menggaulinya.”

Kemudian ia menafsirkan firman Allah {…dan Dawud menyangka bahwa Kami telah mengujinya} dengan berkata: “Kami masukkan dia ke dalam musibah karena cintanya kepada perempuan tersebut.”

Bantahan:

Penulis telah berbuat buruk dengan ucapannya bahwa kata “النعجة” adalah istri seseorang yang disukai Dawud, lalu ia melakukan tipu daya dengan mengirim suaminya ke medan perang agar terbunuh di sana, kemudian Dawud mengambil istrinya. Ini tidak layak bagi kedudukan seorang Nabi (bahkan jika orang biasa saja yang bukan nabi dan rasul akan hina).

Imam Al-Hafizh Ibnul Jauziy berkata dalam tafsirnya setelah menyebutkan kisah DUSTA ini tentang Sayyidina Dawud: “Ini tidak shahih dari jalur periwayatan dan tidak boleh dari segi makna, karena para nabi terjaga (munazzah - suci dari sifat hina dan tercela tersebut) darinya. Adapun istighfar Dawud kepada Tuhannya, maka itu karena ia memutuskan perkara antara dua orang hanya dengan mendengar dari salah satunya sebelum mendengar dari yang lain.”

Yang dimaksud dengan “النعجة” dalam ayat ini adalah hewan kambing betina yang sebenarnya, bukan perempuan. Meskipun orang Arab kadang menggunakan kata na’jah sebagai kiasan untuk perempuan, tetapi tidak boleh menafsirkan na’jah dalam ayat ini sebagai perempuan.

Faedah:  

Seandainya seorang raja di bumi melakukan hal itu terhadap temannya atau seorang panglima tentaranya karena tertarik pada istrinya agar bisa menguasainya setelah suaminya terbunuh, niscaya manusia akan jijik kepadanya. Lalu mengapa sebagian orang berani mengatakan terhadap para Nabi Allah hal-hal yang tidak layak bagi mereka? Padahal para nabi adalah suri teladan bagi manusia. Allah telah menghiasi mereka dengan sifat-sifat terpuji dan memelihara mereka dari sifat-sifat tercela.

Peringatan Penting:  

Di antara yang harus diwaspadai adalah kitab “Qishashul Anbiya” karya Ats-Tsa’labi, karena di dalamnya terdapat kisah-kisah semacam ini dan bahkan lebih banyak lagi berupa cerita-cerita dusta yang tidak memiliki dasar. Seperti kisah yang diceritakan bahwa cacing-cacing berguguran dari tubuh Ayyub ‘alaihissalam saat sakitnya, lalu beliau mengembalikannya ke tubuhnya sambil berkata: “Makanlah, Allah telah menjadikanku makananmu.” Dan konon daging Ayyub putus-putus dan membusuk, sehingga penduduk desa mengusirnya, meletakkannya di tempat sampah, dan membuatkan pondok kecil untuknya. Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan.

Para ulama Islam telah bersepakat bahwa para Nabi Allah adalah manusia pilihan ciptaan Allah, mereka adalah orang-orang alim, bijaksana, dan ma’shum dengan pemeliharaan Allah atas mereka. Mustahil bagi seorang nabi untuk menyakiti dirinya sendiri (karena menjaga diri dan martabat adalah sesuatu yang disepakati oleh semua syariat para nabi dan oleh akal sehat). Mustahil pula mereka terkena penyakit-penyakit yang menjijikkan yang membuat orang menjauh dari mereka. Kisah tersebut tidak boleh dinisbatkan kepada seorang nabi pun, kisah itu adalah DUSTA. Kisah ini juga terdapat dalam sebagian tafsir yang tidak mu’tabar (tidak terpercaya).

Sesungguhnya Nabi Ayyub ‘alaihissalam diuji Allah dengan ujian yang berat. Penyakitnya berlangsung selama delapan belas tahun, ia kehilangan hartanya dan keluarganya, kemudian Allah menyembuhkannya, memberi kekayaan, dan menganugerahinya banyak keturunan. Adapun lamanya penyakit Ayyub selama delapan belas tahun, maka itu disebutkan dalam Shahih Ibnu Hibban. 

BErikut adalah kitab arabnya:

نور العين في بيان أخطاء تفسير الجلالين

قال المحدث عبد الله بن محمد صديق الغماري الحسني الإدريسي في كتابه «بدع التفاسير» ما نصه[(829)]: «تفسير الجلالين ينساق مع الإسرائيليات».

* في الجزء الأول من كتاب «تفسير الجلالين» هناك موضعان:

* عند قول الله تعالى في تفسير سورة الأعراف {فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلاَ لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ *} .

يقول الكاتب: أي أن ءادم وحواء وافقا إبليس في أمره لهما بتسمية المولود الذي يأتيهما «عبد الحارث».

الرد:

هذا شىء لا يليق بآدم وحواء أن ينخدعا للشيطان إلى حد الإشراك، فيستحيل على نبي من الأنبياء أن يشرك بالله قبل النبوة وبعدها، وذلك متفق عليه بلا خلاف في عقيدة المسلمين. ثم إنّ حواء وليّة من الوليّات أيضا لا تنخدع بهذا للشيطان، فالله تبارك وتعالى يقول في أوليائه {أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ *} [سورة يونس] .

والمعنى الصحيح لهذه الآية أن الأب والأم من ذرية ءادم وحواء (أي من بعد نبي الله إدريس) أشرك بعضهم بدل أن يشكروا الله بطاعته ويدل ءاخر الآية على ذلك وهو قوله تعالى: {…فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ *} .

– قال النسفي في تفسيره ما نصه: «جعلا له شركاء» أي جعل أولادهما (أي من بعد نبي الله إدريس) له شركاء على حذف المضاف وإقامة المضاف إليه مقامه، وكذلك «في ما ءاتاهما» أي ءاتى أولادهما.

دليله: {…فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ *} حيث جمع الضمير، وءادم وحواء بريئان من الشرك. اهـ

وحاصل المعنى أن البعض أشرك بالله بعد نبي الله إدريس عليه السلام، وقوله تعالى: {…فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ *} أي تنزه الله عمّا زعموا من الشرك وإن كانت جاءت الآية بصيغة الجمع لكنه لا يراد بذلك ءادم وحواء لأنهما بريئان من الشرك.

* ومما لا أصل له ما جاء في تفسير سورة يوسف {وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلاَ أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ… *} .

يقول الكاتب: قصد ذلك أي بالجماع، أي قصد الزنا.

الرد:

هذا ضلال وغلط شنيع يخالف نزاهة الأنبياء فيستحيل على نبي من الأنبياء قصد الزنا كما يستحيل عليه فعله لما فيه من الطعن والقدح بنبي من الأنبياء.

– قال الحافظ أبو الفرج عبد الرحمـن ابن الجوزي في تفسيره «زاد المسير» ما نصه[(830)]: «ولا يصح ما يروى عن بعض المفسرين أنه حلّ السراويل وقعد منها مقعد الرجل، فإنه لو كان هذا دل على العزم، والأنبياء معصومون من العزم على الزنا» اهـ.

– وقال الفخر الرازي في تفسيره ما نصه: «إن يوسف عليه السلام كان بريئا عن العمل بالباطل والهمّ المحرم، وهذا قول المحققين من المفسرين والمتكلمين وبه نقول وعنه نذبّ»[(831)] اهـ.

– وقال المفسر اللغوي أبو حيان الأندلسي في تفسيره «النهر الماد» ما نصه[(832)]: «الذي نقوله إن يوسف عليه السلام لم يقع منه همّ ألبتة بل هو منهي لوجود رؤية البرهان».

وقال أيضا: «واعلم أن الذين لهم تعلق بهذه الواقعة: يوسف عليه السلام وتلك المرأة وزوجها والنسوة والشهود، وربّ العالمين شهد ببراءته عن الذنب، وإبليس أقر ببراءته أيضا عن المعصية، وإذا كان الأمر كذلك فحينئذ لم يبق للمسلم توقف في هذا الباب».

– أما بيان أن يوسف عليه السلام برّأ نفسه من الذنب فهو قوله عليه السلام «هي راودتني عن نفسي» وقوله عليه السلام «ربِّ السجن أحبّ إليّ مما يدعونني إليه» .

– وأما بيان أن المرأة اعترفت بذلك فلأنها قالت النسوة «ولقد راودته عن نفسه فاستعصم» وأيضا قالت «الآن حصحص الحق أنا راودته عن نفسه وإنّه لمن الصادقين» .

– وأما بيان أن زوج المرأة أقر بذلك فهو قوله: «إنّه من كيدكنّ إنّ كيدكن عظيم يوسف أعرض عن هذا واستغفري لذنبك» .

– وأما الشهود فقوله تعالى: {قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ *وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ *} وقد كان قميصه قدّ من الدبر – أي من الخلف -.

– وأما شهادة الله تعالى بذلك قوله «كذلك لنصرف عنه السوء والفحشاء إنه من عبادنا المخلصين» فقد شهد الله تعالى في هذه الآية على طهارته عدة مرات.

– وأما بيان أن إبليس أقرّ بطهارته فلأنه قال {قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأَُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ *إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ *} فأقر بأنه لا يمكنه إغواء المخلصين ويوسف من المخلصين لقوله تعالى: {…إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ *} فكان هذا إقرارًا من إبليس بأنه ما أغواه وما أضله عن طريقة الهدى اهـ.

– وقال أيضا في تفسيره ما نصه[(833)]: «المراد أنه عليه السلام هم بدفعها عن نفسه ومنعها عن ذلك القبيح، لأن الهم هو القصد فوجب أن يحمل في حق كل أحد على القصد الذي يليق به فمراد المرأة (أي زليخا امرأة العزيز) تحصيل اللذة والتمتع، واللائق بالرسول المبعوث إلى الخلق القصد إلى زجر العاصي عن معصيته وإلى الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، يقال: هممت بفلان أي بضربه ودفعه.

فإن قيل: فعلى هذا التقدير لا يبقى لقوله {…لَوْلاَ أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ} فائدة.

قلنا: بل فيه أعظم الفوائد وبيانه من وجهين:

الأول: أنه تعالى أعلم يوسف عليه السلام أنه لو همّ بدفعها لقتلته أو لكانت تأمر بقتله، فأعلمه الله تعالى أن الامتناع من ضربها أولى صونا للنفس عن الهلاك.

والثاني: أنه عليه السلام لو اشتغل بدفعها عن نفسه فربما تعلقت به فكان يتمزق من قُدام، ولكان الشاهد شهد عليه عندها بالخيانة، ولو كان ثوبه ممزقا من خلف لكانت المرأة هي الخائنة، فالله تعالى أعلمه بهذا المعنى، فلا جرم أنه لم يشتغل بدفعها عن نفسه بل ولّى عنها حتى صارت شهادة الشاهد حجة له على براءته عن المعصية» اهـ.

فيتلخص مما ذكر أن الله تبارك وتعالى عصم الأنبياء عن الرذائل ونزههم عنها ويوسف عليه السلام لم يشتهها لنفسه ولا أراد أن يواقعها ولم يهم بذلك، هذا هو اللائق بالنبي يوسف عليه السلام وهو من تعلق قلبه بمحبة الله وتعظيمه ومخافته كغيره من إخوانه الأنبياء وهذا هو اعتقاد المسلمين.

– وقال بعض العلماء في تفسير الآية: {…وَهَمَّ بِهَا لَوْلاَ أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ} .

أحسن ما قيل: إن جواب لولا محذوف يدل عليه ما قبله أي لولا أن رأى برهان ربه لهمّ فلم يحصل منه همٌ بالزنا لأن الله تبارك وتعالى أراه برهانه، كما تقول لصديقك: «زرتك لولا أمطرت» فلم تحصل الزيارة لنزول المطر.

فالقول إن سيدنا يوسف عليه السلام همّ بالزنا بامرأة العزيز أي قصد ذلك هو قول باطل عاطل مخالف لهدي القرءان وفيه طعن وقدح بنبي من الأنبياء، وهي دعوى باطلة بالنقل والعقل، وفيه ضلال مبين.

* ومما لا أصل له ما في الجزء الثاني من هذا التفسير ففيه غلطان:

الأول: في تفسير سورة الحج عند قوله تعالى: {وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلاَ نَبِّيٍ إِلاَّ إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ… *} [سورة الحج] .

يقول الكاتب: وقد قرأ النبي صلى الله عليه وسلم في سورة النجم بمجلس من قريش بعد «أفرأيتم اللات والعزّى ومناة الثالثة الأخرى» بإلقاء الشيطان على لسانه من غير علمه صلى الله عليه وسلم: «تلك الغرانيق العلى وإن شفاعتهن لترتجى» ففرحوا بذلك وكانوا بالقرب منه مع المسلمين، وقالوا ما ذكر ءالهتنا بخير قبل اليوم فجاء جبريل وقال له: هذا ليس من القرءان فحزن رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنزل الله الآية تسلية له {وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ… *} .

الرد:

هذه الرواية غير صحيحة، وحصول قراءة شىء غير القرءان على ظن أنه قرءان مستحيل على رسول الله صلى الله عليه وسلم فهو معصوم من ذلك، فقد قال الفخر الرازي: «يكفر من اعتقد أن الشيطان أجرى كلاما على لسان النبي صلى الله عليه وسلم هو مدح الأوثان الثلاثة اللات والعزى ومناة بهذه العبارة: «تلك الغرانيق العلى وإن شفاعتهن لترتجى» إذ يستحيل أن يمكّن الله الشيطان من أن يجري على لسان نبيه مدح الأوثان.

«والتفسير الصحيح: أن كل نبيّ كان يقرأ على قومه ثم الشيطان يُلقي إلى الناس كلاما غير الذي يقرؤونه أي يزيد للناس من كلامه على ما قاله النبي ليوهم الناس أن النبي قال ذلك أي ليفتنهم، فينسخ الله ما يلقي الشيطان ويثبت ما يقرؤونه وذلك ابتلاء من الله تبارك وتعالى، وليس في أي كتاب معتبر أن الشيطان يلقي على ألسنة الأنبياء كلامًا وإلا لارتفعت الثقة في كلامهم ولقال الناس لعل هذا من إلقاء الشيطان فلذلك استحال حصول ذلك.

قال النسفي ما نصه[(834)]: ولأنه تعالى قال في صفة المنزل عليه – أي على النبي صلى الله عليه وسلم – « لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه» .

وقال: «إنا نحن نزّلنا الذكر وإنّا له لحافظون» فلما بطلت هذه الوجوه – حيث ذكر احتمالات وردّها – لم يبق إلا وجه واحد وهو أنه عليه السلام سكت عند قوله: «ومناة الثالثة الأخرى» فتكلم الشيطان بهذه الكلمات متصلا بقراءة النبي صلى الله عليه وسلم فوقع عند بعضهم – من المشركين – أنه عليه الصلاة والسلام هو الذي تكلم بها فيكون هذا إلقاء في قراءة النبي صلى الله عليه وسلم – وكان الشيطان يتكلم في زمن النبي صلى الله عليه وسلم ويُسمَعُ كلامه، فقد رُوي أنه نادى يوم أحد ألا إن محمدا قد قتل، وقال يوم بدر: لا غالب لكم اليوم من الناس وإني جار لكم».اهـ.

والثاني: في تفسير سورة ص ءاية 23 في تفسير النعجة المذكورة في الآية {إِنَّ هَذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِي نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ *} .

يقول الكاتب: (لتنبيه داود عليه السلام على ما وقع منه وكان له تسع وتسعون امرأة وطلب امرأة شخص ليس له غيرها وتزوجها ودخل بها).

ثم فسر قوله تعالى: {…وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ} » فقال: (أوقعناه في بلية بمحبته تلك المرأة).

الرد:

أساء الكاتب بقوله: إن النعجة هي امرأة شخص أعجب بها داود فعمل حيلة فأرسل زوجها للغزو ليقتل هناك ثم يأخذها داود، وهذا لا يليق بمنصب النبوة.

قال الإمام الحافظ ابن الجوزي في تفسيره بعد ذكر هذه القصة المكذوبة عن سيدنا داود: «وهذا لا يصح من طريق النقل ولا يجوز من حيث المعنى، لأن الأنبياء منزهون عنه، وأما استغفار داود ربه فهذا لأنه حكم بين الاثنين بسماعه من أحدهما قبل أن يسمع الآخر».

والمقصود بالنعجة في هذه الآية هي النعجة الحقيقية وليس المراد بها امرأة، وإن كانت العرب قد تكني بالنعاج عن النساء لكن لا يجوز تفسير النعاج في هذه الآية بالنساء.

فائدة: لو فعل ذلك ملك من ملوك الأرض بصديقه أو قائد من قادة جيشه ذلك إعجابا بزوجة هذا القائد ليستأثر بها إذا قتل لنفرت منه النفوس، فما لبعض الناس يقولون في حق أنبياء الله ما لا يليق بهم، فهم أي الأنبياء قدوة للناس وقد جمّلهم الله بالصفات الحميدة وعصمهم عن الصفات الذميمة.

تنبيه مهم: مما يجب التحذير منه كتاب (قصص الأنبياء) للثعالبي، ففيه مثل هذه المواضع وزيادة عليها من قصص أخرى مفتراة لا أصل لها، كالقصة التي تروى أن الدود كان يتناثر من جسد أيوب عليه السلام في مرضه فصار يردها إلى جسده ويقول لها: «كلي فقد جعلني الله طعامك» وأن أيوب عليه السلام على زعمه تقطع لحمه وأنتن فأخرجه أهل القرية فجعلوه على كناسة وجعلوا له عريشا، نعوذ بالله تعالى من الضلال فقد أجمع علماء الإسلام على أن أنبياء الله هم صفوة خلق الله وهم علماء حكماء معصومون بعصمة الله لهم تبارك وتعالى فيستحيل على أحدهم أن يضر نفسه – لأن حفظ النفس مما اتفقت عليه شرائع الأنبياء وأجمع عليه العقلاء -، ويستحيل عليهم أيضا الأمراض المنفّرة التي تنفّر الناس عنهم، وهذه القصة لا تجوز في حق نبي من الأنبياء وهي كذب، وهي مذكورة أيضا في بعض التفاسير غير المعتمدة.

وإنما أيوب عليه السلام ابتلاه الله تبارك وتعالى بلاء شديدا استمر مرضه ثمانية عشر عاما وفقد ماله وأهله ثم عافاه الله وأغناه ورزقه الكثير من الأولاد، وأما أن مرض أيوب طال ثمانية عشر عاما فهو في صحيح ابن حبان.اهـ.

ـ[829]       زاد المسير (4/205).

ـ[830]       التفسير الكبير (18/118).

ـ[831]       النهر الماد (2/114).

ـ[832]       (18/120 – 121(.

ـ[833]       (في الجزء الثالث ص107).

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar