NEWS

Sullamut Taufiq: Muqoddimah 2 - Ikhlas dalam Belajar Ilmu Agama

 Dalam belajar ilmu agama hendaknya kita menghadirkan niat ikhlash mencari ridho Allah Subhana Wa Ta'ala. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لَهُ

"Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal kecuali jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah"

قال المؤلف رحمه الله تعالى :

بسم الله الرحمن الرحيم

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ﷺ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ.


Pengarang kitab Sullamut Taufiq yaitu Syaikh Abdullah Ibnul Husain Ibn Thahir Ibn Muhammad Ibn Hasyim Ba'alawi (namun ada yang menyebutnya bukan dari Ba'alwi),  memulai mengarang kitab ini dengan membaca basmalah kemudian Hamdalah kemudian membaca dua kalimat syahadat disertai dengan membaca shalawat kepada Rasulullah, keluarganya para sahabatnya dan para tabiin.

Dan Sudah menjadi tradisi dari para ulama pengarang kitab siapapun itu dalam memulai karangannya dengan membaca basmalah terlebih dahulu, yaitu bacaan Bismillahirrohmanirrohim.

Alasannya karena:

1. Mengikuti al-Qur'an al-Karim

Setiap surat al-Qur'an selalu diawali dengan basmalah kecuali surat at-Taubah (Baro'ah).

2. Al-Qur'an dimulai dengan surat al-Fatihah yang mana Basmalah menjadi ayat pertama dalam surat al-Fatihah.

3. Dalam satu riwayat Hadits disebutkan:

‎كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَ قْطَع (وفي رواية فَهُوَ أبتر)

"Setiap perkara yang memiliki kemuliaan (perbuatan baik) dalam agama yang tidak dimulai dengan membaca basmalah, maka perkara tersebut sedikit barokahnya (Aqtho'u = qolilul barokah)".

Oleh karena itu hendaknya kita memulai suatu perkara yang baik dengan membaca Bismillahirrohmanirrohim misalnya ketika mau makan minum, agar amal yang kita lakukan itu barokah (membawa kebaikan).

Adapun memulai dengan membaca Basmalah dalam perkara yang maksiat maka hukumnya maksiat. Misalnya seseorang akan minum khamr, kemudian dia membaca Bismillahirrohmanirrohim, jika itu niatnya adalah untuk tabarrukan agar Allah menjaga dia dari bahaya khamr maka itu hukumnya adalah haram, karena memulai perkara yang haram dengan basmalah hukumnya haram. Tetapi kalau dia niatnya untuk tabarrukan dengan basmalah dalam menjalankan perkara yang maksiat maka ini bisa menjatuhkan seseorang di dalam kekufuran.

Bismillahirrohmanirrohim, ada tiga nama Allah yang disebutkan dalam Basmalah:

لَفْظُ الْجَلالَةِ اللَّهُ إِسْم لِلذَّاتِ الْمُقَدَّس الْمُسْتَحِق لِلألهِيَّة

1. Lafdz Al Jalalah (Allah) adalah nama untuk Dzat yang Maha Suci yang berhak untuk disembah, yang berhak untuk diibadahi, yang memiliki sifat ketuhanan, yang memiliki sifat menciptakan segala sesuatu.

Lafdz Al Jalalah (Allah) menurut pendapat yang rajih (pendapat yang unggul) adalah Ismun Jamid (nama Asli yang tidak diambil dari kata lain) bukan Ismun musytaq (nama yang diambil dari kata lain)

وَ«الرَّحْمٰنِ» أَيِ الْكَثِيرِ الرَّحْمَةِ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي الدُّنْيَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ فِي الآخِرَةِ

2. Ar-Rohman diambil dari kata Rohima yarhamu. Artinya Dzat yang banyak memberikan rahmat kepada orang mukmin dan kafir di dunia dan hanya memberikan rahmat kepada orang mukmin saja di akhirat.

Artinya rahmat Allah di dunia ini tidak khusus untuk orang mukmin tetapi juga diperuntukkan untuk orang kafir. Jadi jangan heran jika ada orang kafir tidak pernah shalat tetapi hidupnya enak, rezekinya lancar, tidak pernah sakit, kita tidak perlu iri, karena di dunia ini rahmat Allah diberikan kepada siapa saja baik orang kafir maupun Mukmin.

Adapun nanti di akhirat, maka rahmat Allah hanya diberikan kepada orang mukmin yaitu mendapatkan kenikmatan surga, sedangkan orang kafir di azab di akhirat, tidak satu detik pun orang kafir di akhirat mendapatkan rahmat Allah, tidak sedetikpun mereka mendapatkan nikmat dari Allah subhanahu wa ta'ala.

وَ«الرَّحِيمِ» أَيِ الْكَثِيرِ الرَّحْمَةِ لِلْمُؤْمِنِينَ.

3. Ar-Rohim artinya Dzat yang banyak memberikan rahmat kepada orang-orang Mukmin.

Ar-Rohman dan ar-Rohim diambil dari akar kata yang sama dari kata Rohima, namun maknanya berbeda. Ar-Rohman artinya Dzat yang banyak memberikan rahmat kepada orang mukmin dan kafir di dunia dan hanya memberikan rahmat kepada orang mukmin saja di akhirat. Ar-Rohim artinya Dzat yang banyak memberikan rahmat kepada orang-orang Mukmin.

Perbedaan makna ini terjadi karena ada penambahan huruf pada kata Ar-Rohman

زيادة الحرف تدل على زيادة المعنى

"Penambahan huruf bisa mempengaruhi penambahan makna"

Huruf ar-Rohman lebih banyak dari ar-Rohim, sehingga ar-Rohman maknanya lebih luas dibandingkan dengan ar-Rohim.

Didalam Basmalah ada tiga al-Asma'u al-husna (nama-nama yang menunjukkan kesempurnaan bagi Allah). al-Asma'u al-husna sangat banyak, bukan hanya 99, adapun al-Asma'u al-husna yang 99 adalah nama-nama yang apabila seseorang menghafalnya dan mengetahui serta meyakini maknanya, maka orang tersebut akan mendapatkan Faidah masuk ke dalam surga.

Lafdz Al Jalalah (Allah) dan ar-Rohman adalah nama Allah yang khusus bagi Allah (الأسماء الخاصة) sedangkan ar-Rohim adalah nama Allah yang umum (الأسماء العامة).

Para ulama meklasifikasikan nama Allah menjadi dua macam yaitu:

1. Nama Allah yang khusus artinya nama-nama Allah yang tidak boleh diperuntukkan untuk selain Allah, hanya khusus untuk Allah. Tidak boleh selain Allah dinamakan dengan nama itu, tidak boleh selain Allah dipanggil dengan nama itu. Yaitu ada 10 nama:

الله الرحمن الخالق الرازق القدوس ملك الملك ذو الجلال والإكرام الغفار المحي المميت

Lafdz Al Jalalah (Allah), ar-Rohman, al-Khaliq, ar-Raziq (ar-Rozzaq), al-Quddus, Malik, al-Mulki, Dzul Jalali wal Ikram, al-Ghoffar, al-Muhyi, al-Mumit.

Tidak boleh memberi nama anak dengan nama ar-Rohman, tetapi jika di tambah 'Abd menjadi AbdurRohman maka boleh, tetapi tidak boleh dipanggil dengan nama Rohman.

Tidak boleh memberi nama Masjid dengan nama Ar-Rohman, tetapi jika di tambah bait menjadi BaiturRohman maka boleh.

2. Nama Allah yang umum (bukan nama khusus untuk Allah).

Adapun nama ar-rohim dan selain dari 10 nama yang telah disebutkan maka nama itu boleh diperuntukkan untuk selain Allah.

Boleh memberi nama anak dengan nama ar-Rohim saja. Boleh seseorang kita panggil dengan nama ar-Rohim. Akan tetapi maknanya berbeda, ketika kita menyebut Allah itu ar-Rohim dengan kita menyebut Si Fulan itu Rohim maka maknanya berbeda, meskipun lafadznya sama.

Al-hamdulillahirobbilalamin. Mengucapkan Al-hamdulillahi robbil alamin adalah termasuk bagian dari syukur mandub (syukur yang sunnah).

Syukur ada dua, yaitu:

1. Syukur wajib.

2. Syukur mandub (syukur sunnah).

الشُّكْرُ الْوَاجِب هُوَ عَدَمُ اسْتِعْمَال النعمة فِى مَعْصِيَة اللَّهِ

"Syukur wajib adalah tidak menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam kemaksiatan kepada Allah".

Allah memberikan nikmat mata kepada kita, kemudian tidak kita pergunakan untuk melihat yang diharamkan, itu namanya syukur yang wajib. Allah memberikan nikmat telinga kepada kita, kemudian telinga itu tidak kita gunakan untuk mendengarkan maksiat (yang diharamkan), maka itu namanya syukur yang wajib.

Allah memberikan kesehatan kepada kita kemudian kesehatan ini tidak kita pergunakan untuk bermaksiat itu namanya syukur yang wajib.

Adapun mengatakan Alhamdulillah, misalnya setelah makan, atau mengatakan Alhamdulillah karena badan sehat, maka itu hukumnya Sunnah tidak wajib, jika dilakukan maka berpahala jika tidak dilakukan maka tidak apa-apa.

(الحمد لله) أي الثناء باللسان على الجميل الاختياري على وجه التعظيم مُستَحَقّ لله أي أن الله تعالى يستحق أن يثنى عليه على نعمه التي أنعم بها على عباده من غير وجوب عليه.

Makna Alhamdulillah adalah memuji Allah dengan lisan atas nikmat yang Allah anugrahkan secara cuma-cuma, yang bukan merupakan kewajiban bagi Allah.

Allah memberikan nikmat kepada kita ini, bukan merupakan kewajiban bagi Allah. Allah tidak wajib memberikan kesehatan kepada kita,tidak wajib bagi Allah untuk memberikan hidup kepada kita, jika Allah berkehendak, maka Allah mematikan kita, jika Allah berkehendak, bisa saja Allah membuat kita sakit, tetapi Allah memberikannya kepada kita.

Allah tidak wajib memberikan mata kepada kita, jika Allah berkehendak kita lahir langsung buta, Allah tidak wajib memberikan nikmat telinga, nikmat lisan, nikmat kaki, Jika Allah berkehendak maka Allah menciptakan kita dalam keadaan buta, tuli, pincang, sebagaimana sebagian manusia kita lihat ketika lahir cacat.

Memberikan nikmat tidak wajib bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bahkan dalam aqidah Ahlussunnah wal jama'ah tidak ada sesuatu yang wajib bagi Allah.

Meskipun itu tidak wajib bagi Allah, tetapi Allah memberikannya kepada kita, Allah memberikan hidup kepada kita, Allah memberikan sehat, Allah memberikan anggota badan yang sempurna kepada kita, maka kewajiban kita Adalah bersyukur kepada Allah, yaitu menggunakan seluruh nikmat itu untuk ibadah, untuk ketaatan kepada Allah, bukan untuk bermaksiat kepada Allah.

Rabbil 'alamin artinya adalah Allah pemilik alam semesta.

العالم هو كل ما سِوَى الله

"Alam adalah segala sesuatu selain Allah".

Saya adalah alam, kalian semuanya adalah alam, langit, bumi, jin, tumbuhan, binatang, udara, matahari, bintang, segala sesuatu yang bukan Allah, maka dia adalah alam, dan disebut makhluk ciptaan Allah.

لماذا يسمى بالعالم؟

لأنه علامة على وجود الله.

Kenapa disebut alam? Karena Alam ini adalah tanda (alamah) dari adanya Allah. Karena akal manusia mengatakan ada tulisan pasti ada yang menulis, ada bangunan pasti ada yang membangunnya, maka ada bumi, ada langit, ada alam semesta, pasti ada yang menciptakannya dari tidak ada menjadi ada dan dia adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Allah adalah pemilik alam semesta ini, karena Allah yang menciptakannya, termasuk diri kita manusia ini adalah milik Allah, bumi, langit ini adalah milik Allah, semua makhluk adalah milik Allah. Karena Allah yang memilikinya, maka Allah berbuat terhadap makhluk-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya. Jika Allah berkehendak membuat sehat, sakit, mati, hidup, semuanya terserah Allah karena semuanya milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Makna ketika kita membaca Allahumma sholli ala sayyidina muhammad adalah:

اللهم زد شرفا لسيدنا محمد

"Ya Allah berikanlah tambahan keagungan dan kemuliaan untuk Nabi Muhammad".

Nabi Muhammad adalah makhluk yang paling mulia, makhluk yang paling Agung (أفضل المخلوقات) ditambahkan lagi kemuliaannya, karena kemuliaan itu bisa bertambah-tambah meskipun Rasulullah makhluk termulia.

Makna wasallim ala sayyidina muhammad adalah Ya Allah berikanlah keamanan untuk Nabi Muhammad dari sesuatu yang dikhawatirkan oleh Rasulullah terjadi pada umatnya

Rasulullah adalah seorang nabi yang sangat mencintai umatnya, yang sangat sayang terhadap umatnya, beliau mengkhawatirkan beberapa hal terjadi pada umatnya, maka ketika kita membaca wasallim ala sayyidina muhammad artinya ya Allah sesuatu yang dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad terjadi terhadap umatnya janganlah Engkau jadikan. Artinya Salam terhadap Nabi Muhammad kemaslahatannya kembali kepada kita umatnya, bukan untuk Nabi Muhammad.

Wa ala alihi (juga sholawat untuk keluarga Nabi). Keluarga (Al) Nabi adalah istri-istri nabi, anak-anaknya (keturunan-keturunan) Rasulullah sampai sekarang, itu semua adalah Keluarga Nabi (alihi) meskipun terkadang menurut sebagian ulama (alihi) itu juga diartikan dengan seluruh umat Islam yang mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, bukan keluarga nasab tetapi keluarga Rasulullah yang mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Washahbihi (dan sahabat-sahabat Nabi). Sahabat Nabi syaratnya ada 4, yaitu:

1. Orang yang pernah bertemu dengan Rasulullah.

2. Di masa hidup Rasulullah.

3. Beriman dengan Rasulullah.

4. Mati dalam keadaan beriman.

Jika ada seseorang bertemu dengan Rasulullah tetapi setelah wafatnya, maka itu bukan termasuk sahabat Nabi.

Seorang muslim mungkin saja bertemu dengan Rasulullah dalam mimpi, maka orang yang bermimpi bertemu Rasulullah telah melihat Rasulullah dengan sebenar-benarnya, dalam hadits disebutkan:

قال ﷺ ( من رآني في المنام فقد رأني حقا)

"Barangsiapa yang melihatku dalam tidur maka sesungguhnya dia betul-betul telah melihatku".

Jadi jika kita bermimpi bertemu Nabi maka berarti kita telah bertemu Nabi sesungguhnya. Bermimpi selain Nabi bisa saja setan yang datang, tapi jika kita bermimpi ketemu nabi maka sesungguhnya kita telah bertemu dan melihat Rasulullah dengan sebenar-benarnya, tapi kita tidak disebut sahabat Nabi karena kita bertemu dengan nNabi setelah wafat Rasulullah.

Sebagian orang-orang Shaleh melihat Rasulullah setelah masa wafat Nabi dalam keadaan jaga (tidak tidur), mereka juga tidak disebut sahabat Nabi karena sahabat itu harus bertemu dengan Rasulullah dalam masa hidupnya.

Seorang hidup dalam masa hidup Rasulullah, dia juga beriman kepada Rasulullah, tetapi dia tidak bertemu langsung dengan Rasulullah, maka ia juga bukan sahabat.

Rasulullah memerintahkan sebagian sahabat yang dipimpin oleh Ja'far bin Abi Tholib hijrah ke habasyah (Afrika) karena disana ada seorang raja bernama Ashamah an-Najasyi (أَصْحَمَة ٱلنَّجَاشِيّ) seorang raja yang baik, kemudian raja ini masuk kedalam agama Islam dihadapan Ja'far bin Abi Thalib radhiallahu Anhu, karena tempatnya yang jauh, Ashamah an-Najasyi tidak pernah pergi ke Madinah dan Rasulullah tidak pernah pergi ke habasyah ketika itu, sehingga Ashamah an-Najasyi tidak pernah bertemu dengan Rasulullah sampai beliau meninggal dunia, maka Ashamah an-Najasyi ini bukan termasuk sahabat Nabi, tetapi beliau adalah seorang Tabi'in dan beliau adalah Waliyullah.

Ketika Ashamah an-Najasyi ini wafat, Rasulullah mendapatkan Wahyu yang memberitahukan tentang wafatnya Ashamah an-Najasyi sehingga Rasulullah mengatakan hari ini telah wafat seorang laki-laki yang sholeh kalian berdirilah, shalatlah (shalat janazah ghaib). Sehingga ini adalah menjadi shalat ghaib pertama dalam Islam yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya terhadap jenazahnya Ashamah an-Najasyi.

Seorang yang sering bertemu dengan Nabi tapi tidak beriman kepada Nabi sampai mati, maka bukan sahabat Nabi, seperti Abu Tholib, Abu Jahal, Abu Lahab.

Seorang sahabat Nabi adalah mati dalam keadaan beriman, jika seorang mati dalam keadaan murtad maka dia bukan sahabat Nabi.

Tabi'in adalah mereka tidak pernah bertemu dengan Nabi tetapi mereka bertemu dengan para sahabat Nabi dan beriman serta mati dalam keadaan beriman.

قال المؤلف رحمه الله تعالى :

أما بعد: فَهَذَا جُزْءٌ لَطِيفٌ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَى فِيمَا يَجِبُ تَعَلَّمُهُ وَتَعْلِيمَهُ، وَالْعَمَلُ بِهِ لِلْخَاصِ وَالْعَامِ.

Syaikh Abdullah bin Husein bin Thohir mengatakan kitab ini adalah bagian yang kecil (kitab yang kecil) yang Allah mudahkan. kitab ini menjelaskan tentang sesuatu yang wajib untuk dipelajari dan diajarkan dan diamalkan, oleh semua orang baik yang alim maupun yang awam.

وَالْوَاجِبُ مَا وَعَدَ اللَّهُ فَاعِلَهُ بِالثَّوَابِ، وَتَوَعَدَ تَارِكَهُ بِالْعِقَابِ

"Dan Wajib adalah apa yang Allah janjikan bagi pelakunya dengan pahala, dan Allah ancaman bagi yang meninggalkannya dengan siksa"

Artinya seseorang tidak mempelajari ilmu fardhu ain maka seseorang akan diancam siksa nanti di akhirat.

وَسَمَّيْتُهُ : " سلم التوفيق إلى محبة الله على التحقيق ".

Pengarang mengatakan: aku menamakan kitab ini dengan Sullamut Taufiq Ila Mahabbatillahi Ala at-Tahqiq (Tangga untuk mendapatkan Taufik (pertolongan) Allah sehingga bisa meraih cinta Allah yang sebenar-benarnya).

أَسْأَلُ اللهَ الْكَرِيمَ أَنْ يَجْعَلَ ذَلِكَ مِنْهُ وَلَهُ وَفِيهِ وَإِلَيْهِ، وَمُوجِبًا لِلْقُرْبِ وَالزُّلْفَى لَدَيْهِ، وَأَنْ يُوَفِّقَ مَنْ وَقَفَ عَلَيْهِ لِلْعَمَلِ بِمُقْتَضَاهُ، ثُمَّ التَّرَقِي بِالتَّوَدُّدِ بِالنَّوَافِلِ لِيَحُونَ حُبَّهُ وَوَلَاهُ.

Pengarang mengatakan: Aku meminta kepada Allah agar menjadikan kitab yang kecil ini dilakukan ikhlas karena Allah untuk mencari ridlo dari Allah subhanahu wata'ala, mendapatkan pahala dari Allah, diterima oleh Allah dan kitab ini menjadi penyebab mendapatkan kedudukan yang tinggi menurut Allah ta'ala.

Beliau juga berdoa agar setiap orang yang mempelajari kitab ini diberikan Taufik (pertolongan) oleh Allah untuk bisa mengamalkannya karena ilmu tanpa amal seperti pohon Tanpa buah, karena itu kita bukan hanya diberikan Taufik untuk mempelajarinya tetapi juga diberikan Taufik oleh Allah untuk mengamalkan isi isinya, sehingga dengan begitu kita juga menjadi orang yang bertaqwa kemudian kita menambahnya dengan amalan sunnah yang sebagian juga disebutkan dalam kitab ini, sehingga kita mendapatkan cinta Allah kita mendapatkan Pertolongan Allah (derajat kewalian).

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar