NEWS

Neo Khawarij dan Stigma Negatif kitab Sullam At Tawfiq

 Karena faktor merebaknya kaum Neo Khowarij, yakni kaum radikal yang mudah mengkafirkan umat Islam tanpa hak; yang menganggap kafir semua orang Islam pelaku dosa besar, mereka yang mengkafirkan peziarah makam para nabi atau wali dengan menyebut mereka quburiyyun (penyembah kubur, yakni musyrik), melabeli kafir pada mereka yang bertawassul dan sebagainya, --Patut disayangkan-- justru sebagian orang yang mengaku dirinya Ahlussunah wal Jama'ah beranggapan dan mengatakan bahwa kitab --semisal-- Sullamut Tawfiq adalah kitab yang 'keras'. Dalam anggapannya isi kitab itu apa apa serba kafir. Sebagian bersuudhon, yang mengaji kitab itu pasti menjadi radikal. Entah apa yang dimaksud radikal oleh mereka. 


Sayang sungguh sayang. Mereka tidak mampu membedakan mana keras yang serampangan (sporadis); ektrim kiri sebagaimana Khowarij dan mana yang tegas menyampaikan kebenaran ajaran para ulama Ahlussunnah yang sesuai dalil naqli dan aqli. 

Karena stigma negatif itu, lalu ada sebagian orang mengatakan: 

"Jangan belajar Sullam Tawfiq, nanti mudah mengkafirkan orang lain." 

Sehingga salah satu ekses negatif nya berakibat yang hendak mengaji kitab itu dihantui rasa takut. Jangan kan untuk mengaji, mendengar namanya saja sudah rigid. Yang sedang mengaji Sullam dicurigai sebagai benih benih kaum radikal bahkan oleh orang yang tidak pernah mengaji kitab itu atau pernah mengaji namun tidak memahaminya dengan baik dan utuh.  

Orang yang belum tuntas mengaji ilmu hal (ilmu ad din adl dloruri) baik akidah, fiqh atau akhlak --seperti yang terkandung dalam kitab Sullam Tawfiq-- dengan baik dan utuh sangat mudah mengatakan kitab Sullam mengajarkan radikalisme (tathorruf); mudah mengkafirkan namun ia sendiri belum pernah mendengar siapa kah sebenarnya kaum Khowarij yang mudah mengkafirkan itu. Kenapa disebut Khowarij dan apa status mereka dalam pandangan ulama Ahlussunnah. 

Tak ayal yang mengaji Sullam Tawfiq malah dituduh sebagai kaum Khowarij. 

Padahal kitab semisal Sullam Tawfiq adalah rambu-rambu agar seluruh orang Islam tidak mudah jatuh dalam kekufuran. Tidak mudah mengkafirkan orang lain dan mampu membedakan mana keimanan dan kekufuran berdasarkan ajaran para ulama mujtahid dari kalangan Ahlussunah, bukan berdasarkan pendapat kaum Khawarij! Dan kitab itu lah yang menjadi salah satu wasiat penting Mbah Hasyim Asy'ari --rohimahullah--, pendiri Jam'iyyah NU itu untuk dipelajari santri 'pemula'. Jam'iyyah yang kemunculan pertama kalinya menjadi respon atas berkuasa nya kaum Wahhabi di Hijaz yang oleh pengarang tafsir Ash Showi disebut sebagai kaum Khowarij. 

Tidak mungkin dengan menganjurkan mengaji Sulllam Tawfiq dan Bidayatul Hidayah bagi santri pemula, sama artinya Mbah Hasyim sedang menanam bibit radikalisme di negeri ini. 

Atau ada yang berkata: 

" Belajar tauhid jangan terlalu tinggi, nanti bisa sesat." 

Pada kenyataannya, Sullam Tawfiq adalah salah satu kitab paling dasar agar siapapun yang menisbatkan diri pada Ahlusunah wal Jama'ah tidak mudah tersesat. Dan didalamnya terdapat terma fiqh, tasawwuf (adab), selain tentunya akidah. 

Ada yang mengatakan: 

"Jangan belajar Sullam Tawfiq. Itu kitab 'panas'. Ngaji yang adem adem aja. Kitab tasawwuf mawon. Jangan kitab fiqh atau tauhid! Yang penting akhlak kita baik!"

Padahal dalam Sullam Tawfiq terdapat terma maksiat anggota badan dan hati yang menjadi basic utama tasawwuf (akhlak atau adab). 

Ada pula yang mengatakan: 

" Kalau belajar nya hanya Sullam Tawfiq maka mudah mengkafirkan. Coba kalau kitab yang dipelajari kitab yang besar, jangan kitab kecil seperti Sullam Tawfiq maka tidak mudah mengkafirkan." 

Tanpa disadari ucapan seperti ini adalah ucapan yang mempertentangkan ulama di intenal Ahlussunnah, merendahkan salah satu pengarang atau mengagungkan ulama lain dari besar dan kecil nya kitab. Tipis tebalnya halaman. Padahal kitab semacam Sullam Tawfiq adalah kitab yang memang didedikasikan oleh pengarang untuk mengentaskan setiap mukallaf dari kewajiban personal (fardlu 'ain). Yang belum mempelajari kitab itu dengan baik sangat mungkin seseorang belum menunaikan kewajibannya sebagai hamba Nya. 

Yang belum tuntas mengaji ilmu hal dalam bidang fiqh, menganggap ibadahnya sudah baik, 'berhijrah' dengan benar. Yang belum mempunyai dasar ilmu akhlak yang memadai sangat mungkin merasa sudah bertasawwuf dengan benar. Padahal jauh panggang daripada api. 

Ulama berkata: 

ظن الناس أنفسهم على الحق لا يجعلهم على الحق 

Hanya sebatas menyangka menetapi kebenaran, --tanpa didasari ilmu yang mencukupi-- tidak menjadikan  seseorang benar-benar menetapi kebenaran. 

Ulama juga menyebutkan 

حفظ المتون مفتاح العلوم 

" Menjaga; memahami kitab kitab induk (dasar; matan yang tipis halamannya) dengan baik, adalah kunci memahami luas nya ilmu --yang terdapat di kitab kitab yang lebih besar--." 

Dari berbagai sumber 

Abdul Haq 

Direktur Aswaja Center PCNU Kab. Brebes

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar