NEWS

Waspadalah terhadap kitab Syarh Ibn Abi al-Izz al-Hanafi Yang Berakidah Tajsim

 Fitnah akhir zaman sudah merebak dimana-mana, bahkan sampai pada kitab-kitab klasik yang dirubah oleh mereka ahluddlolal. 


Hal ini sudah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ bersabda: 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( فتنٌ كقطع الليل المظلم يصبح الرجل مؤمنًا ويمسي كافرًا ويمسي مؤمنًا ويصبح كافرًا يبيع دِينَه بعرضٍ من الدنيا)) (رواه مسلم وأحمد والترمذي).

Rasulullah ﷺ bersabda:  

“Akan ada fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Seseorang pada pagi hari masih beriman, lalu pada sore hari sudah menjadi kafir. Pada sore hari beriman, lalu pada pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan sesuatu yang sedikit dari dunia.”


Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ menjelaskan kepada kita bahwa di antara manusia ada yang keluar dari Islam dan sudah menjadi kafir hanya dalam waktu antara sore (malam) dan pagi. Di antaranya adalah orang yang melihat (membaca) salah satu kitab dari kumpulan kitab-kitab kaum Mujassimah (penjisim Allah) dan Musyabbihah yang mendustakan Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’, menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, menyifati Allah dengan duduk dan bangkit, serta menjadikan kalam-Nya sebagai huruf, suara, dan bahasa. Kemudian ia meyakini kitab tersebut adalah benar, membenarkannya, atau menganggapnya baik, maka orang tersebut telah keluar dari agama Islam dan telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.

Kitab-kitab tersebut adalah kitab mujassim, seperti kitab Syarh Ibn Abi al-Izz al-Hanafi atas Aqidah ath-Thahawiyyah. Kitab ini penuh dengan tajsim (penjisiman) dan tasybih (penyerupaan). Ia mengikuti imamnya, yaitu Ibn Taimiyah. Semua darinya diikuti langkah demi langkah. 

Musibahnya, Kitab ini beredar di kalangan manusia bahkan sudah ada yang menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan juga tersebar di antara para santri, penuntut ilmu, hingga dijadikan pegangan dan diajarkan di banyak lembaga yang mengaku Islam. Na'udzubillah, Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari racun mematikan ini.

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk memberikan peringatan keras terhadap syarah ini. Kaum Mujassimah menyebarkan syarah ini dengan mengklaim bahwa penulisnya adalah Hanafi semata-mata untuk menipu orang-orang yang lemah akalnya, yang tidak bisa membedakan antara haq dan batil.

Kaum Mujassimah, yaitu para pendahulu Ibn Abi al-Izz dan orang-orang yang datang setelahnya, sama sekali tidak menghargai Abu Hanifah ﷺ dan para pengikut mazhabnya. Bahkan mereka mengkafirkan mereka dan menghalalkan darah serta harta mereka, sebagaimana yang akan Anda lihat nanti dalam kitab ini dari teks-teks dan ungkapan-ungkapan mereka. Tidak ada yang selamat dari takfir mereka, baik Abu Hanifah, ath-Thahawi, maupun Hanafi lainnya. Kami telah menyediakan bab khusus untuk menjelaskan masalah ini.

Wajib bagi setiap orang yang mampu untuk memperingatkan manusia dari buku atau kitab ini dan yang semisalnya. Begitu pula wajib atas setiap pengasuh, direktur, pengawas, guru, dosen, atau syekh maupun ustadz di lembaga-lembaga pendidikan, masjid, sekolah, pondok pesantren, dan universitas untuk menghentikan pengajaran kitab ini dan memperingatkan darinya dengan peringatan yang tegas. Karena kitab ini bertentangan dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah — baik generasi akhir maupun generasi awal, yaitu kaum Asy’ari dan Maturidi.

Al-Qusyairi dalam Risalah-nya meriwayatkan dari ulama yang shaleh, waliyullah Abu Ali ad-Daqqaq ﷺ, beliau berkata:

السَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَس

“Orang yang diam terhadap kebenaran adalah setan yang bisu.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنْ المُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالمعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ المُنْكَرِ وَآتِيهِ . رواه البخاري ومسلم

“Akan didatangkan seseorang pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke neraka. Ususnya terburai di neraka, lalu ia berputar-putar seperti keledai berputar di penggilingannya. Penduduk neraka berkumpul di sekelilingnya dan berkata: ‘Wahai Fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah dulu engkau memerintahkan kami berbuat ma’ruf dan melarang kami dari mungkar?’ Ia menjawab: ‘Benar, aku memerintahkan kalian berbuat ma’ruf tetapi aku sendiri tidak melakukannya, dan aku melarang kalian dari mungkar tetapi aku sendiri melakukannya.’”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Catatan:

(1) Shahih Bukhari, Kitab Bad’ul Khalq, Bab Shifatun Nar… (3267); Shahih Muslim, Kitab az-Zuhd war-Raqa’iq, Bab Uqubah man Ya’muru bil Ma’ruf… (2989).

Berikut adalah bukti kerusakan yang ada pada buku ini, Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah karya Ibn Abi al-Izz al-Hanafi, Syarah ini telah merusak isi kandungan Aqidah ath-Thahawiyyah. Penulisnya berani mengatakan di halaman 133:  


yang maknanya, Ibn Abi al Izz mengatakan: (“Pendapat yang mengatakan bahwa hawadits (segala sesuatu yang baru) memiliki permulaan, maka ini mengharuskan adanya ta’thil (peniadaan sifat) sebelum itu, dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa bukan sebagai Dzat yang berbuat, kemudian menjadi Dzat yang berbuat.”) (perkataan dia ini menyalahi aqidah ahlussunnah wal jamaah).

Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa para ulama di negeri Mesir, khususnya ulama mazhabnya, mengingkari beberapa hal darinya. Mereka menuntut agar ia dihukum dan diberi ta’zir. Di antara yang ikut mengingkarinya adalah Sa’duddin an-Nawawi, Jamaluddin al-Kurdi, Syarafuddin al-Ghazi, Zainuddin Ibn Rajab, Taqiyuddin Ibn Muflih beserta saudaranya, dan Syihabuddin Ibn Haji.

*(Inba’ al-Ghamr bi Abna’ al-Umr 2/95-97)*

Imam Mulla Ali al-Qari (w. 1014 H) berkata:  

(والحاصل أن الشارح يقول بعلو المكان مع نفي التشبيه ، وتبع فيه طائفة من أهل البدعة ، ومن الغريب أنه استدل على مذهبه الباطل برفع الأيدي في الدعاء إلى السماء)

*(“Kesimpulannya, syarh ini berpendapat dengan ‘uluwul makan (Allah berada di atas tempat) disertai penafian tasybih. Ia mengikuti golongan Ahlul Bid’ah dalam hal ini. Yang aneh adalah ia berdalil dengan pendapatnya yang batil tersebut dengan mengangkat tangan ke langit ketika berdoa.”)*  

*(Syarh al-Fiqh al-Akbar, hlm. 172, terbitan Ilmiyyah)*

Imam Murtadha az-Zabidi (w. 1205 H) berkata ketika mengomentari Syarh Ibn Abi al-Izz:

ولما تأملته حق التأمل وجدته كلاماً مخالفاً لأصول مذهبه إمامه ، وهو في الحقيقة كالرد على أئمة أهل السنة ، كأنه تكلم بلسان المخالفين ، وجازف وتجاوز عن الحدود ، حتى شبَّه قول أهل السنة بقول النصارى ، فليتنبه لذلك

*(“Ketika aku mencermatinya dengan sebenar-benarnya, aku mendapatinya sebagai perkataan yang bertentangan dengan pokok-pokok mazhab imamnya. Pada hakikatnya ia seperti bantahan terhadap para imam Ahlus Sunnah. Seolah-olah ia berbicara dengan lidah para penentang, berani melampaui batas, hingga menyerupakan perkataan Ahlus Sunnah dengan perkataan kaum Nasrani. Hendaklah waspada terhadap hal ini.”)*  

*(It-haf as-Sadah al-Muttaqin 2/146)*

Al-Allamah Muhammad Zahid al-Kautsari (w. 1370 H) berkata ketika membahas Aqidah ath-Thahawiyyah:

وطُبِع شرح لمجهول ، ينسب إلى المذهب الحنفي زوراً ، ينادي صنع يده بأنه جاهل بهذا الفن ، وأنه حشوي مختل العيار

*(“…dan telah dicetak sebuah syarah dari orang yang tidak dikenal, yang dinisbatkan secara dusta kepada mazhab Hanafi. Tangan kerjanya sendiri menyerukan bahwa ia jahil dalam bidang ini, dan bahwa ia seorang hasyawi yang rusak takarannya.”)*  

*(al-Hawi fi Sirah al-Imam Abi Ja’far ath-Thahawi, hlm. 38)*

Meskipun demikian, Ibn Abi al-Izz melakukan ta’wil dalam syarahnya dan berkata:

قال الله عز وجل :" وكان الله بكل شيء محيطاً " وليس المراد من إحاطته بخلقه أنه كالفلك ، وأن المخلوقات داخل ذاته المقدسة ، تعالى الله عن ذلك علواً كبيراً ، وإنما المراد إحاطة عظمته وسعة علمه وقدرته ، وأنها بالنسبة لعظمته كخردلة

*(“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Dan Allah (yang Ilmunya) Maha Meliputi segala sesuatu.’ Yang dimaksud dengan meliputi makhluk-Nya bukanlah seperti bola langit yang makhluk-makhluk berada di dalam Dzat-Nya yang suci. Mahatinggi Allah dari itu dengan ketinggian yang agung. Yang dimaksud hanyalah meliputi keagungan, keluasan ilmu, dan kekuasaan-Nya. Semua itu dibandingkan keagungan-Nya bagaikan biji sawi.”)*  

*(Syarh ath-Thahawiyyah, hlm. 281)*

Para syekh kesesatan Wahabi selalu mengawasi ungkapan ini, lalu mereka memberi komentar:  

*(“Meliputi keagungan, keluasan, ilmu, dan kekuasaan. Kedua ungkapan itu baik, dan ini termasuk ta’wil yang dicela oleh syarih, padahal kadang-kadang ta’wil itu diperlukan.”)*

Syarah Aqidah ath-Thahawiyyah memiliki lebih dari 25 syarah. Lalu mengapa kaum Wahabi hanya mengandalkan syarah Ibn Abi al-Izz jika bukan karena ia sesuai dengan hawa nafsu mereka dalam masalah tajsim? Mereka tidak cukup hanya mengandalkannya, bahkan mencela syarah ini di banyak tempat meskipun penulisnya adalah mujassim seperti mereka, karena ia menyelisihi mereka di beberapa poin.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar