Sullamut Taufiq 06 Sesuatu yang Terjadi Atas Kehendak Allah
Catatan Kitab Sullamut Taufiq Eps. 06 Sesuatu yang terjadi atas kehendak Allah.
قَالَ المُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللّٰه: الفَعّالُ لما يُرِيدُ، ما شاءَ اللهُ كانَ وما لم يَشَأْ لم يَكُنْ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ، مَوْصُوفٌ بِكُلِّ كَمالٍ، مُنَزَّهٌ عن كُلِّ نَقْصٍ، ﴿ لَيْسَ كَمثْلِهِ شَيْءٌ وهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴾
Muallif menjelaskan tentang siapa itu Allah yang berhak untuk disembah dengan menyebutkan nama-nama Allah yang menunjukkan sifat-sifat Allah, karena untuk beriman dengan keimanan yang benar maka seseorang harus mengenal Allah Subhanahu wa ta'ala dengan pengenalan yang benar.
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Keyakinan artinya adalah Ridho dengan apa yang diketahui, sehingga apabila yang diketahui adalah sesuatu yang salah berarti ridho terhadap sesuatu yang salah, maka keimanan (keyakinan) itu menjadi salah. Sedangkan apabila yang diketahui adalah pengetahuan yang benar maka apa yang diyakini juga benar.
Apabila pengenalan seseorang kepada Allah adalah pengenalan yang benar, maka keimanannya (keyakinannya) kepada Allah juga keimanan yang benar.
Ada sebagian orang yang mengaku beriman kepada Allah tetapi imannya tidak benar, karena dasar pengenalan kepada Allah salah, seperti misalnya kelompok-kelompok di luar ahlussunnah Waljamaah, yaitu kelompok mujassimah, pada masa sekarang ini mereka adalah kelompok Wahhabi.
Kelompok Wahhabi ini meyakini bahwa Allah yang mereka yakini sebagai Tuhan yang layak untuk disembah adalah Dzat yang berupa Jism (benda) punya kepala, punya tangan, punya kaki, punya badan, duduk bersila diatas Arsy, artinya pengenalan kelompok Wahhabi ini kepada Allah adalah keliru, sehingga keimanan (keyakinan) mereka kepada Allah menjadi salah, karena yang mereka yakini itu bukanlah Allah tetapi sesuatu yang mereka khayalkan. Sesungguhnya kelompok Wahhabi ini tidak menyembah Allah, mereka menyembah sesuatu yang hakikatnya tidak ada, tetapi mereka khayalkan sebagai sesuatu yang ada dan berada di atas Arsy.
Para ulama menjelaskan bahwa kelompok mujassimah (kelompok Wahhabi pada masa sekarang) yang meyakini bahwa Allah adalah jism (benda) yang duduk diatas Arsy tidak ada bedanya dengan penyembah berhala.
Orang-orang penyembah berhala membuat berhala dengan tangannya dari batu, besi atau kayu dll, kemudian berhala tersebut mereka sembah. Sedangkan Orang-orang mujassimah (kelompok Wahhabi pada masa sekarang) membuat berhala yang bertempat diatas Arsy dengan khayalan mereka, kemudian berhala khayalan tersebut mereka sembah.
الفَعّالُ لما يُرِيدُ
Artinya adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah Dzat yang melakukan apa yang Ia kehendaki tanpa ada yang dapat menghalangi.
Allah maha kuasa untuk menciptakan sesuatu yang Ia kehendaki pada azal dengan mudah tanpa ada satupun makhluk yang bisa menghalangi terjadinya, tidak ada satupun makhluk yang bisa menghalangi terciptanya sesuatu yang telah dikehendaki oleh Allah subhanahuwata'ala.
Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini (baik itu berupa benda ataupun perbuatannya, baik itu berupa kebaikan ataupun keburukan, kemaksiatan ataupun ketaatan, keimanan ataupun kekufuran), semuanya terjadi dengan kehendak (iradah/masyi'ah) Allah, dengan ketentuan dari Allah subhanahu wa ta'ala. Allah yang telah menentukan terjadinya baik sifat-sifatnya maupun waktu terjadinya.
Diantara dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada putri-putri beliau agar senantiasa dibaca yaitu:
ما شاءَ اللهُ كانَ وما لم يَشَأْ لم يَكُنْ
"apapun yang Allah kehendaki pada azal terjadi pasti terjadi dan apapun yang tidak Allah kehendaki pada azal terjadi pasti tidak terjadi"
Terjadi dengan kehendak Allah artinya terjadi dengan takhsis Allah, terjadi dengan pengkhususan, terjadi dengan ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Makna Hawqolah
لا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلّا بِاللهِ
لاَ حَوْلَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلاَّ بِعِصْمَةِ اللهِ ، وَلاَ قُوَّةَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ إِلاَّ بِعَوْنِ اللهِ
"Tidak ada daya untuk meninggalkan kemaksiatan kecuali dengan perlindungan Allah dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan (taufiq) Allah"
Ketika manusia berbuat ketaatan seperti shalat, puasa, membaca al-quran, bersodaqoh, dan lainnya, maka itu terjadi karena Allah memberi taufiq (pertolongan) kepadanya untuk bisa melakukannya.
Kita bisa melakukan amal ketaataan bukan karena kehebatan kita, tetapi karena Allah menolong kita, karena Allah memberikan Taufiq kepada kita.
Taufiq artinya:
خَلْقُ القُدْرَة عَلَى الطَاعَة
"Penciptaan kemampuan untuk berbuat ketaatan".
Jadi kita berbuat ketaatan karena Allah menciptakan kemampuan pada diri kita untuk bisa berbuat ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Ukuran untuk bisa berbuat ketaatan bukan sehat atau sakit, bukan kaya atau miskin, bukan pengangguran atau sibuk, tetapi karena Allah memberikan Taufiq (pertolongan) untuk bisa melakukan ketaatan.
Seandainya Allah tidak memberi taufiq kepada seseorang maka tidak ada keinginan sedikitpun di dalam hatinya untuk berbuat kebaikan, tidak ada satu kebaikan pun yang dilakukan. Justru bisa terjadi sebaliknya yaitu benci dengan ketaatan (kebaikan).
Seseorang yang melakukan ibadah dan amal kebaikan hendaknya bersyukur kepada Allah ta'ala, karena dia mendapatkan nikmat berupa Taufiq (pertolongan) dari Allah. Tidak boleh Ujub yaitu ketika seseorang melihat ibadah atau amal kebaikan yang dia lakukan itu berasal dari dirinya, dia lupa bahwa itu semua merupakan nikmat dari Allah. Orang yang di dalam hatinya terdapat ujub merasa bahwa ibadah dan amal kebaikan yang dia lakukan merupakan kelebihan, keistimewaan bagi dirinya dan merasa bahwa dia lebih utama dari orang lain.
Dan apabila seseorang mampu meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, seperti berjudi, berzina, mencuri dll, maka itu adalah karena penjagaan (perlindungan) Allah terhadap dirinya. Apabila Allah tidak menjaga seseorang, niscaya dia akan melakukan segala macam kemaksiatan, seperti yang dilakukan orang lainnya.
Taufiq tidak diberikan kepada banyak orang tetapi kepada sebagian yang Allah pilih untuk dijadikan sebagai hamba-hamba-Nya yang shaleh yang taat kepadanya.
العَلِيِّ
"Allah Maha Tinggi"
Bukan berarti Allah berada di tempat yang tinggi. Yang dimaksud adalah Maha Tinggi derajat-Nya. Sebagian orang yang berkeyakinan menyimpang menganggap bahwa Allah berada di tempat yang tinggi di atas langit diatas Arsy, ini adalah keyakinan salah.
العَظِيمِ
"Allah Maha Agung"
Yang dimaksud adalah Maha Agung kekuasaan-Nya. Bukan berarti besar badannya.
Ketika seseorang takbiratul ihram dalam shalat mengatakan "Allahu akbar" bukan berarti bawah Allah berbadan besar, tangan besar, kakin besar, kepala besar, itu adalah keyakinan yang sesat. Yang dimaksud Allahu Akbar adalah Allah Maha Besar kekuasaan-Nya. Tidak ada yang lebih besar kekuasaannya daripada kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
مَوْصُوفٌ بِكُلِّ كَمالٍ
"Allah subhanahuwata'ala disifati dengan sifat sempurna"
Sifat sempurna artinya adalah sifat yang layak bagi Allah.
Ahlussunnah Wal Jamaah meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat, berbeda dengan keyakinan kelompok mu'tazilah yang menafikan sifat-sifat Allah. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak punya sifat-sifat.
Banyak sekali ayat-ayat Al-quran yang menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat, diantaranya surat al-Ikhlash. Sababun nuzul (sebab turun) dari ayat ini adalah
أَنَّ الْيَهُودَ أَتَوْا إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: يَا مُحَمَّدُ صِفْ لَنَا رَبَّكَ الَّذِى تَعْبُدُهُ، فَنَزَلَتْ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذِهِ صِفَةُ رَبِى عَزَّ وَجَلَّ.
"Bahwa orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah, Mereka bertanya kepada Rasulullah dengan tujuan bukan cari ilmu tetapi untuk mengolok-olok. Orang-orang Yahudi mengatakan:" ya Muhammad Tunjukkan sifat Tuhanmu kepada kami", kemudian turun surat al-Ikhlas 1-4, kemudian Rasulullah bersabda: "ini adalah sifat Tuhanku"
Allah menyebutkan sifat-sifat-Nya di dalam Alquran. Rasulullah menetapkan Allah memiliki sifat-sifat. Hanya saja sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk, karena sifat Allah azaliyah (tanpa permulaan) abadiyah (tanpa penghabisan) dan tidak berubah-ubah. Sedangkan sifat makhluk berpermulaan, dan berubah-ubah.
Semua sifat Allah adalah sifat kesempurnaan yang layak bagi Allah dan tidak semua sifat kesempurnaan adalah layak bagi Allah.
Sifat kesempurnaan ada tiga, yaitu:
- Sifat kesempurnaan yang layak bagi Allah juga layak untuk makhluk. Sehingga jika disifatkan kepada Allah maka layak bagi Allah dan jika disifatkan kepada makhluk maka sifat itu juga layak untuk makhluk. Misalnya adalah sifat al-Ilmu, namun maknanya berbeda ketika sifat al-Ilmu dinisbatkan kepada Allah dengan sifat al-Ilmu dinisbatkan kepada makhluk. Begitu juga Sifat as-Sam'u (mendengar), sifat al-Bashar (Melihat).
- Sifat kesempurnaan yang hanya layak bagi makhluk tetapi tidak layak bagi Allah subhanahuwata'ala. Seperti sifat Zaka (cerdas), sifat cerdas merupakan sifat kesempurnaan bagi seseorang, tetapi tidak boleh dikatakan bahwa Allah cerdas (Allah Zakiyyun), karena kecerdasan berhubungan dengan otak dan akal yang merupakan benda, sedangkan Allah subhanahu wa ta'ala tidak disifati dengan sifat benda. Jadi tidak boleh dikatakan bahwa Allah cerdas, tetapi kita katakan Allah Maha Mengetahui.
- Sifat kesempurnaan yang hanya layak bagi Allah tetapi tidak layak bagi makhluk. Seperti sifat al-Jabbar.
Sifat yang merupakan sifat khusus bagi makhluk, semuanya tidak layak bagi Allah, sehingga al-Imam at-Thohawi yang merupakan salah seorang ulama Salaf (lahir tahun 227 Hijriyah & wafat tahun 321 Hijriyah) mengatakan:
وَمَن وَصَفَ اللهَ بِمَعْنًى من مَعَانِي البشر فقد كَفَرَ.
"Dan barangsiapa yang mensifati Allah dengan satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kufur"
Salaf adalah orang yang hidup tiga abad pertama Hijriah (300 tahun pertama Hijriah) yaitu para sahabat Nabi, para tabi'in dan para tabi'ut tabi'in.
Kholaf adalah orang yang hidup setelah masa salag, yaitu setelah tiga abad pertama Hijriah (setelah 300 tahun pertama hijriah).
Tidak boleh mensifati Allah dengan sifat-sifat manusia, karena sifat manusia adalah sifat yang tidak layak bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Orang yang mensifati Allah dengan sifat-sifat manusia maka dia telah kufur.
Pada masa sekarang ada kelompok yang mengaku sebagai kelompok Salafi (yaitu mereka mengaku sebagai kelompok yang mengikuti ulama Salaf) tetapi mereka hanya mengaku-ngaku saja, karena ternyata mereka berbohong, karena ternyata mereka mensifati Allah dengan sifat-sifat manusia seperti: mereka mengatakan bahwa Allah bertempat, Allah berukuran, Allah berbentuk, Allah memiliki anggota badan.
Maka sebenarnya akidah orang-orang yang mengaku Salafi ini bertentangan dengan Akidah ulama Salaf sebagaimana yang disebutkan oleh al-Imam at-Thohawi.
Ibn Taimiyyah, imamnya kelompok Wahhhabi yang mengaku-ngaku salafi ini bukanlah salaf sama sekali, ia hidup antara abad ke 7-8 Hijriah, apalagi Muhammad bin Abdul Wahhab (pendiri kelompok Wahhabi) yang hidup pada abad ke 12 hijriah. Pengikut dari kedua orang ini tidak layak disebut salaf, baik dari sisi orang yang mereka ikuti yaitu Ibn Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab maupun dari sisi manhaj dan aqidah, karena mereka bertentangan dengan aqidah ulama salaf.
مُنَزَّهٌ عن كُلِّ نَقْصٍ،
"Allah disucikan dari sifat naqs (kekurangan) yaitu sifat yang tidak layak bagi Allah)"
Semua sifat makhluk adalah sifat naqs yaitu sifat yang tidak layak bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
قال الله تعالى:﴿ لَيْسَ كَمثْلِهِ شَيْءٌ ﴾
[الشورى/11] هيَ أصرحُ ءايةٍ في القرآنِ في تنزيهِ الله عزّ وجلّ عن مشابهةِ المخلوقين تنزيها كُلِّيّا
Para ulama mengatakan Quran surat Asyura ayat 11 ini adalah ayat yang paling jelas di dalam Alquran yang menegaskan tanzih (mensucikan Allah dari menyerupai makhluk secara total)
Tanzih maknanya sama dengan Tauhid yaitu mensucikan Allah dari menyerupai makhluk secara tota, seperti yang dikatakan oleh Al Imam Al Junaid al-baghdadi:
التَّوْحِيْدُ هُوَ إفرَادُ القَدِيْمِ مِنَ المُحْدَثِ (رَوَاهُ القُشَيْري فِي الرِّسَالَة)
“Tauhid adalah mengesakan dan mensucikan Dzat yang Maha Qadim (Allah) dari sifat yang baharu (makhluk)”. (Diriwayatkan oleh al-Qusyairi dalam al-Risalah al-Qusyairiyah )
Dengan ayat ini kita ambil kesimpulan tentang prisnsip dasar aqidah Aswaja yang harus diyakini sampai mati yaitu bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk.
Semua makhluk merupakan benda, maka Allah bukan benda. Semua makhluk disifati dengan sifat benda, maka Allah tidak disifati dengan sifat benda. Semua makhluk mengalami perubahan, maka Allah tidak berubah. Makhluk bertempat, maka Allah ada tanpa tempat. Semua makhluk pasti berada pada arah, maka Allah ada tanpa arah. Semua makhluk berlaku baginya zaman, maka Allah tidak berlaku bagi-Nya zaman. Semua makhluk memiliki bentuk, maka Allah tidak memiliki bentuk. Semua makhluk memiliki ukuran, maka Allah tidak memiliki ukuran.
﴿ وهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴾
"Allah Maha Mendengar Allah Maha Melihat"
Ini disebut:
إِتِّفَاقٌ فِيْ اللَفْظِ وَاخْتِلاَفٌ فِيْ المَعْنَى
"Sama pada lafadznya, berbeda pada maknanya"
Jadi kita mengatakan Allah mendengar, manusia juga mendengar, tetapi maknanya berbeda. Ketika kita mengatakan Allah mendengar maka Allah mendengar dengan sifat mendengar yang tidak sama dengan mendengarnya makhluk. Pendengaran Allah Azali (tidak memiliki permulaan) abadi (tidak memiliki penghabisan). Sementara pendengaran manusia hadits (memiliki awal dan akhir).
Allah Maha Melihat, makhluk/manusia juga melihat, tetapi hakikatnya berbeda, karena melihatnya Allah Azali (tidak memiliki permulaan) abadi (tidak memiliki penghabisan). Sementara melihatnya makhluk/manusia adalah hadits (memiliki permulaan) yaitu didahului oleh tidak melihat, kemudian melihat, kemudian tidak melihat, dan penglihatannya terbatas.
Firman Allah Qur'an surat Asyura ayat 11 didahulukan dengan ayat tentang TANZIH (mensucikan Allah dari menyerupai makhluk) kemudian bagian kedua dari ayat ini adalah ITSBAT (menetapkan sifat mendengar dan melihat bagi Allah, yang tidak menyerupai pendengaran dan penglihatan makhluk-Nya). Bagian pertama dari ayat ini menegaskan bahwa sifat Allah tidak serupa dengan sifat makhluk.
Ini adalah ilmu paling mendasar yang wajib untuk diketahui oleh setiap muslim tentang prinsip-prinsip aqidah ahlussunnah Waljamaah. Imam ahlussunnah Waljamaah al-imam Abul Hasan al-Asy'ari mengatakan:
أوَّلُ مَا يَجِبُ عَلَى العَبْدِ العِلْمُ باللّٰهِ ورسُولِه ودِيْنِهِ
"Ilmu pertama kali yang wajib dipelajari dan diajarkan oleh seorang guru adalah mengenal Allah dan Rasul-Nya serta mengetahui agamanya".
Ilmu tentang mengenal Allah dan Rasul-Nya adalah ilmu paling Afdhol (paling utama). Oleh karena itu jangan sampai salah faham, karena jika salah pemahaman maka bisa menyimpang dari kebenaran dan itu akan mempengaruhi sah atau tidaknya keimanan seseorang.
