Sullamut Taufiq 05 Makna Syahadat Pertama
0 menit baca
قَالَ المُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللّٰه: ومَعْنَى أشْهَدُ أنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ: أنْ تَعْلَمَ وتَعْتَقِدَ وتُؤْمِنَ وتُصَدِّقَ أنْ لا مَعْبُودَ بِحَقٍّ في الوُجُودِ إلّا اللهُ، الواحِدُ، الأحَدُ، الأوَّلُ، القَدِيمُ، الحَيُّ، القَيُّومُ، الباقِي، الدائِمُ، الخالِقُ، الرّازِقُ، العالِمُ، القَدِيرُ
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa wajib 'ain (wajib setiap individu) hukumnya bagi setiap mukallaf:
Mengetahui makna dua kalimat syahadat
Meyakini makna dua kalimat syahadat
Mengucapkan dua kalimat syahadat
Bagi orang kafir mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai cara untuk masuk ke dalam agama Islam. Dan Bagi orang yang sudah muslim wajib mengucapkan dua kalimat syahadat setiap mengerjakan shalat.
Makna syahadat yang pertama
Makna asyhadu alla ilaha illa Allah adalah: aku mengetahui, aku meyakini, aku mengimani dan aku membenarkan (mengakui dengan lisan) bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Jika ada makhluk-makhluk yang disembah oleh orang-orang musyrik seperti: berhala, matahari, Bulan, Bintang, pohon besar, syaitan, Iblis, dll, maka makhluk-makhluk yang disembah oleh orang-orang musyrik ini adalah sesembahan yang bathil, karena makhluk tidak berhak untuk disembah, yang berhak disembah dan yang berhak untuk diibadahi hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala, karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah pencipta alam semesta ini, sementara segala sesuatu selain Allah itu adalah ciptaan Allah (makhluk). Dan Allâh-lah yang menciptakan makhluk, dari tidak ada menjadi ada.
Karena itulah bahwa, maksud dari syahadat yang pertama ini adalah menafikan ketuhanan dari selain Allah dan menetapkan ketuhanan hanya kepada Allah subhanahuwata'ala. Karena yang berhak untuk disembah adalah Sang pencipta yaitu Dzat yang mengadakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada.
Ummat Islam tidak menyembah matahari sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang musyrik. Karena matahari adalah makhluq Allah, matahari diciptakan dari tidak ada menjadi ada dan yang menciptakan matahari tidak lain hanyalah Allah Ta'ala. Allah telah menciptakan banyak manfaat pada matahari bagi makhluk lain yang terlihat dengan jelas.
Kita mengetahui bahwa matahari adalah makhluk karena matahari memiliki sifat-sifat yang sama dengan makhluk lain. Matahari memiliki bentuk sama seperti makhluk lainnya juga memiliki bentuk. Matahari memiliki ukuran sama seperti makhluk lainnya juga memiliki ukuran. Matahari bertempat sama seperti makhluk lainnya juga bertempat. Matahari memiliki warna sama seperti makhluk lainnya memiliki warna, dll. Artinya ketika matahari memiliki sifat-sifat yang sama dengan sifat-sifat makhluk lainnya, maka matahari juga makhluk, karena itulah maka matahari tidak layak untuk disembah.
Jadi, Yang berhak disembah adalah al-Khaliq yaitu Dzat yang menciptakan makhluk, Dzat yang tidak serupa dengan makhluk, Dzat yang tidak memiliki sifat-sifat makhluk, Dzat yang tidak memiliki ukuran, Dzat yang tidak memiliki bentuk, Dzat yang tidak memiliki warna, Dzat yang tidak bertempat, Dzat yang tidak berada pada arah, yaitu Allâh Subhanahu Wa Ta'ala.
Seorang mukmin tidak boleh ragu sama sekali bahwasanya yang berhak untuk disembah hanyalah Allâh Subhanahu Wa Ta'ala karena Dia (Allâh) adalah al-khaliq (Sang Pencipta), sedangkan segala sesuatu selain Allâh adalah makhluk (Ciptaan), maka makhluk tidak layak menyembah makhluk.
Sebagian ulama diantaranya adalah Imam ahlussunnah Waljamaah al-imam Abul Hasan al-Asy'ari menjelaskan bahwa makna:
لا إلٰهَ إلّا اللهُ
Adalah
•لاَ خَالِقَ اِلاَّ اللّٰه
"Tidak ada Pencipta selain hanya-lah Allah"
Jadi terdapat dua penfasiran makna Lâ Ilâha Illa allâh. Sebagian ulama mengatakan makna yang kedua ini lebih umum (lebih mencakup) karena ketika kita mengatakan Lâ Ilâha Illa allâh dengan makna bahwa: "Tidak ada Pencipta selain hanya Allah, maka Allah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi, Allah satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah.
وَمَعْنَى لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَنَّ أَحَدًا لا يَقْدِرُ عَلَى الْخَلْقِ إِلَّا اللَّهُ وَهَذَا يَقْتَضِى أَنَّهُ لا يَسْتَحِقُّ أَحَدٌ أَنْ يُعْبَدَ إِلَّا اللَّهُ.
Di dalam bahasa Arab kata Ilah (إلٰهَ) bermakna " Yang disembah dengan haq (benar)" (مَعْبُودَ بِحَقٍّ), Maka makna La Ilaha Illa allah (لا إلٰهَ إلّا اللهُ) adalah:
لا مَعْبُودَ بِحَقٍّ إلّا اللهُ
"Tidak ada yang disembah dengan benar (dengan haq) kecuali hanya Allah subhanahu wata'ala"
Muallif selanjutnya menyebutkan nama-nama Allah (al-Asmaul Husna) :
al Wāhid artinya Allah adalah Dzat yang tidak ada sekutu bagi-Nya (Allah Maha Esa), bukan bermakna bilangan. Al Imam Abu Hanifah Rodhiallahu anhu berkata dalam al Fiqh al Akbar:
وَاللَّهُ وَاحِدٌ لا مِنْ طَرِيقِ الْعَدَدِ وَلَكِنْ مِنْ طَرِيقِ أَنَّهُ لا شَرِيكَ لَهُ
“Allah Esa bukan dari segi bilangan, tapi dari segi bahwa Ia tiada sekutu bagi-Nya”
Tidak ada sekutu bagi-Nya adalah bermakna Tidak ada dua-Nya, tidak ada serupa bagi-Nya, tidak ada yang membandingi-Nya. Jadi Allah Esa bukan dari segi bilangan karena bilangan satu masih bisa di bagi dua menjadi ½, dibagi tiga menjadi ⅓ di bagi empat menjadi ¼ dst, sedangkan Allah tidak terbagi-bagi.
Kemudian sifat Al Ahad, sebagian ulama memaknainya sama dengan al Wahid, sebagian yang lain memaknainya:
الَّذِي لَا يَقْبَلُ الانْقِسَامَ وَالتَّجَزُّؤَ
"Dzat yang tidak terbagi-bagi karena Allah bukan jisim (benda)".
Setiap makhluq pasti memiliki bentuk dan ukuran. Oleh karena itulah, makhluq juga disebut benda.
Makhluq/Benda ini ada dua, yaitu:
1. Al-Jauharu al-Fard yaitu benda yang tidak bisa dibagi-bagi karena sudah mencapai batas ukuran yang terkecil.
2. Jism adalah sesuatu yang memiliki panjang, lebar dan kedalaman dan bisa dibagi-bagi.
Sedangkan jism ini juga ada dua:
1. Jism lathif, yaitu benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan. Seperti angin, cahaya, roh, dan lainnya.
2. Jism katsif, yaitu benda yang dapat dipegang oleh tangan. Seperti pohon, batu, manusia, hewan, dan lainnya.
Dua al-Jauhar al-fard atau lebih digabungkan menjadi satu maka disebut jism. Jadi, Allâh subhanahu wa ta'ala bukan al-Jauhar al-Fard juga bukan jism, bukan jism latif ataupun jism katsif, karena Allâh tidak serupa dengan makhluk-Nya.
Selanjutnya, al Awwal dan al Qodīm adalah nama Allah yang memiliki makna yang sama yaitu:
الَّذِى لا ابْتِدَاءَ لِوُجُودِهِ.
"Dzat yang adanya tanpa permulaan (Azali)".
Berpermulaan adalah sesuatu yang sebelumnya tidak ada kemudian menjadi ada. Sesuatu yang adanya berpermulaan namanya makhluk sehingga membutuhkan kepada yang lain yang menjadikannya ada dari sebelumnya tidak ada.
Allah ada, makhluk juga ada, tetapi bedanya Allah bukan makhluk. Allah ada tanpa permulaan, Allah ada tanpa didahului oleh ketiadaan. Tidak dikatakan bahwa dahulu Allah tidak ada kemudian menjadi ada. Tidak demikian. Allah Ada tanpa permulaan. Allah ada tidak didahului ketiadaan. Sedangkan adanya makhluk didahului oleh ketiadaan (sebelumnya tidak ada kemudian diciptakan menjadi ada) yaitu berpermulaan, sehingga membutuhkan kepada yang lain yang menjadikannya ada dari sebelumnya tidak ada. Dan yang menjadikan ada adalah Allâh Ta'ala.
Para ulama membagi sesuatu yang ada (mawjud) menjadi dua, yaitu:
1. Mawjud muujid ghoiru muujad (مَوْجُودٌ مُوْجِدٍ غَيْرِ مُوْجَدٍ), Dia ada, Dia yang mengadakan, dan Dia tidak diadakan, yaitu Allah ta'ala.
2. Mawjud muujad ghoiru muujid (مَوْجُودٌ مُوْجَدٌ غَيْرِ مُوْجِدٍ), Dia ada, dia diadakan, dia tidak mengadakan, yaitu makhluk.
Sebagian ulama juga membagi sesuatu yang ada (maujud) menjadi tiga, yaitu:
1. Maujud azali abadi (موجود ازلي ابدي), Dzat yang ada tanpa permulaan dan tanpa akhiran, abadi, yaitu Allâh Ta'ala.
2. Maujud La Azali wa Abadi (موجود لا ازلي و ابدي), yaitu dzat yang tidak azali, yakni berpermulaan, ada awalannya, dan dijadikan abadi. Yaitu makhluk yang bernama Surga (dan seluruh isinya) dan Neraka (dan seluruh isinya), dan lainnya. Dan yang menjadikan abadi makhluk ini adalah Allâh Ta'ala.
3. Maujud La Azali wa La Abadi (موجود لا أزلي ولا أبدي), yaitu dzat yang tidak azali dan tidak abadi, makhluk yang berpermulaan dan berakhiran. Yaitu seperti manusia, hewan, jin, dan lainnya.
Dan perlu diketahui bahwa Dzat Allâh dan dzat makhluq itu berbeda. Dzat Allâh adalah hakikat Allâh, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanyalah Allâh Ta'ala saja. Dan dzat makhluq adalah benda yang berbentuk dan berukuran.
Kemudian, sifat al Hayy artinya Dzat yang bersifatan hidup yang azaliyah (tidak berpermulaan) abadiyah (tidak ada penghabisannya) tidak seperti hidupnya makhluk, tanpa membutuhkan ruh, daging, tulang dan piranti lainnya.
Kita katakan Allah hidup, manusia juga hidup, tetapi hidupnya Allah berbeda dengan hidupnya manusia, karena hidupnya Allah azali (tidak memiliki permulaan) abadi (tidak ada penghabisannya), sedangkan hidup makhluk memiliki permulaan dan memiliki akhir. Allâh Maha Hidup tidak butuh kepada ruh, tidak butuh kepada daging, tidak butuh kepada tulang, tidak butuh kepada darah, dan piranti-piranti kehidupan yang lainnya. Allah maha hidup abadi selama-lamanya tidak butuh apapun. Allah tidak akan mati. berbeda dengan hidup makhluk yang membutuhkan kepada piranti semua itu.
Kemudian sifat al Qoyyum, artinya Dzat yang tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya (bukan artinya yang berdiri sendiri). Sebagian ulama juga menafsirkan al-qayyum adalah Dzat yang mengurus (mengatur) makhluk-Nya.
Kemudian sifat al Bāqi dan sifat ad Dāim artinya Dzat yang tidak dikenai kerusakan, abadi tidak berpenghabisan (tidak berakhir). Semakna dengan sifat al-Akhir.
Manusia diberi akal oleh Allâh, untuk digunakan berpikir dan menyaksikan bahwa adanya bumi dan alam semesta ini pasti ada yang menciptakan. Dan yang menciptakan semua makhluq ini adalah Allâh Ta'ala. Dan hal itu telah diberitahukan oleh seluruh para Nabi Allâh.
Hukum akal:
"sesuatu yang memiliki permulaan pasti memiliki akhir (pengahbisan), Allah ada tanpa permulaan maka Allah ada tanpa penghabisan. Sedangkan adanya makhluk memiliki permulaan maka pasti akan berakhir (memiliki penghabisan). Kecuali makhluk yang dikehendaki Abadi oleh Allah subhanahu wa ta'ala Seperti: Surga dan neraka, tetapi keabadian surga dan neraka berbeda dengan keabadian Allah subhanahuwata'ala. Keabadian Allah karena Dzat-Nya tidak memiliki permulaan maka tidak berpenghabisan. Sedangkan Keabadian surga dan neraka bukan karena dzatnya, tetapi diabadikan oleh Allâh.
Secara akal surga dan neraka adalah makhluk diciptakan oleh Allah, maka secara akal surga dan neraka bisa saja punah, bisa saja hancur, bisa saja habis, tetapi karena Allah menjadikannya abadi maka surga dan neraka menjadi abadi.
Jadi keabadian surga dan neraka karena dijadikan abadi oleh Allah, sedangkan keabadian Dzat Allah bukan dijadikan abadi tetapi memang Dzat-Nya Abadi dikarenakan Dzat Allah tidak berpermulaan (azali).
Sifat al Khôliq artinya Dzat yang mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada (menciptakan). Tidak ada yang menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada kecuali hanya Allah.
Sifat ar Rôziq artinya:
ألذي يوصل الارزاق لعباده
"Dzat yang menyampaikan rizki kepada para hamba-hamba-Nya".
الرزق هو ما ينفع ولو كان حراما
"Rizki adalah sesuatu yang bermanfaat meskipun haram".
Ulama ahlussunnah Wal jamaah membagi Rezeki menjadi tiga yaitu: Rizki yang halal, rizki yang Syubhat, dan Rizki yang haram.
Setiap manusia yang hidup semuanya sudah ditetapkan rizkinya oleh Allah subhanahu wata'ala. Allah berfirman:
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا
"Tidak ada yang melata di atas bumi ini kecuali telah ditetapkan rezekinya oleh Allah subhanahu wa ta'ala" (Surat Hud ayat 6)
Ada yang ditetapkan mendapatkan rizki yang banyak dan ada yang ditetapkan mendapatkan Rizki yang sedikit, tetapi manusia tidak akan mati kecuali dia telah memakan semua rizki yang telah ditetapkan oleh Allah.
Sebagian orang kaya raya tetapi kemudian dia sudah mati dan belum menikmati hartanya, artinya rizkinya sudah habis sementara harta yang dia tinggalkan itu adalah rezeki ahli warisnya, bukan berarti bahwa dia mati sebelum rizkinya habis.
Kemudian sifat al Alim (al Ilmu) artinya Dzat yang bersifatan dengan sifat ilmu yang azali (tanpa permulaan) abadi (tanpa penghabisan), tidak bertambah dan berkurang serta tidak berubah-rubah, serta tidak berkembang. Dengan ilmu Nya, Allah mengetahui segala sesuatu baik yang telah, sedang atau akan terjadi bahkan yang tidak akan terjadi.
Allah Maha Mengetahui dengan ilmu yang Azali (tanpa permulaan) Abadi (tanpa penghabisan) tidak berubah, tidak seperti ilmu makhluk.
Ilmu makhluk adalah ilmu yang hadits (ilmu yang memiliki permulaan), ketika kita dilahirkan kita tidak punya ilmu (pengetahuan) sama sekali, kemudian bertambah usia menjadi banyak yang diketahui. Ilmu makhluk didahului oleh kebodohan, kemudian bertambah karena belajar, dan berkurang karena lupa, lalu bisa hilang.
Berbeda dengan ilmu Allah, ilmu Allah tidak didahului oleh kebodohan (bukan sebelumnya Allah tidak tahu kemudian menjadi tahu). Allah mengetahui semuanya, tidak ada sesuatu yang samar bagi Allah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَ رْضِ وَلَا فِى السَّمَآءِ
"Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang samar (tersembunyi) di bumi dan di langit." (Q.S. Ali 'Imran 3: Ayat 5)
Semua yang terjadi dialam semesta ini, Allah mengetahuinya secara rinci, bukan secara global. Setiap daun yang gugur, rintik hujan yang turun, angin yang berhembus, setiap mata yang berkedip, berapa jumlah seluruh rambut manusia yang ada dibumi ini, berapa kerikil yang ada dibumi ini, berapa dedaunan yang ada dibumi ini, apa yang ada didalam hati kita, apa yang ada didasar lautan, Allah mengetahui semuanya, karena Allah yang menciptakan, maka Sang Pencipta pasti mengetahui yang diciptakan-Nya.
Dengan ilmu-Nya yang Azali (tanpa permulaan) Allah mengetahui semua yang telah terjadi di masa yang lalu. Dengan ilmu-Nya yang Azali Allah mengetahui semua yang sedang terjadi sekarang. Dengan ilmu-Nya Allah mengetahui semua yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Allah mengetahui sesuatu yang tidak terjadi, seandainya terjadi, bagaimana terjadinya.
Manusia tidak mengetahui apa yang terjadi di masa yang akan datang, maka harus hati-hati dengan praktik-praktik ramalan-ramalan yang seakan-akan dia mengetahui sesuatu yang akan terjadi dimasa yang akan datang.
Rasulullah mengetahui sebagian kecil dari sesuatu yang akan terjadi dimasa yang akan datang, karena Allah menurunkan wahyu kepada beliau, misalnya tentang tanda-tanda kiamat.
Sifat al Qadir artinya Dzat yang bersifatan dengan qudroh (kuasa) yang sempurna, yang Azali dan abadi. Dengan qudroh-Nya Allah mengadakan makhluk dari tidak ada menjadi ada dan meniadakan makhluk dari ada menjadi tidak ada.