Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Kelahiran Nabi Isa Al Masih Alaihis Salaam

 Di antara para Nabi yang dikenal sebagai Ulû al 'Azmi adalah Nabi Isa. Allâh khususkan dengan keistimewaan yang agung, yakni Allâh menciptakannya tanpa seorang bapak. Hal itu tidaklah sulit bagi Allâh sebagaimana Allâh telah menciptakan Nabi Adam tanpa bapak dan ibu. 


Allah berfirman dalam al Qur'an al Karim:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

"Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Îsâ bagi Allâh, adalah seperti (penciptaan) Âdam. Allâh menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allâh memunculkannya dengan mudah dan tanpa lelah." (Q.S. Âli 'Imrân: 59)

Ibunda Nabi 'Îsâ yaitu Sayyidah Maryam adalah wanita paling mulia di dunia. Allah menyifatinya dalam al Qur'an dengan ash-shiddiqah. Maryam tumbuh besar dalam kesucian dan jauh dari maksiat. la terdidik dalam kondisi bertaqwa kepada Allâh, melaksanakan semua kewajiban, menjauhi semua perkara haram dan memperbanyak amalan-amalan sunnah. Maryam diberikan kabar gembira oleh para malaikat bahwa Allah memilihnya di antara seluruh wanita yang ada dan Allâh menyucikannya dari segala perbuatan kotor dan rendah. Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ (سورة آل عمران: ٤٢)

"Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia." (Q.S. Âli 'Imrân: 42)

Para malaikat bukan laki-laki dan bukan perempuan. Mereka adalah para hamba yang mulia yang diciptakan dari cahaya. Kadang mereka beralih bentuk dengan bentuk laki-laki, tanpa memiliki alat kelamin laki-laki. Dengan bentuk inilah, Allâh mengutus Jibril suatu hari kepada sayyidah Maryam dengan berbentuk seorang pemuda yang putih mukanya.

Ketika sayyidah Maryam melihat Jibril yang berbentuk seorang pemuda yang mukanya putih, Maryam tidak mengenalinya, sehingga Maryam takut kepadanya, bingung dan mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Sayyidah Maryam mengira Jibril adalah seorang manusia yang datang untuk mengganggunya. Maka sayyidah Maryam mengatakan apa yang Allâh beritakan dalam al Qur'an:

قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا (سورة مريم: ۱۸)

"Maryam berkata: Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertaqwa." (Q.S. Maryam: 18)

Yakni jika anda orang yang bertaqwa dan taat kepada Allâh, maka janganlah melakukan keburukan terhadapku. Maka Jibril berkata kepadanya bahwa Allâh mengutusnya kepada Maryam untuk memberikan kepadanya anak yang shalih yang bersih dari segala dosa. 

Maka Maryam menjawab: Bagaimana mungkin aku mempunyai seorang anak, padahal tidak ada suami yang mendekatiku dan aku juga bukan pendosa dan pelaku zina?. 

Maka Jibril menjawab tentang keheranannya, bahwa menciptakan seorang anak tanpa bapak adalah mudah bagi Allah dan Allâh akan menjadikannya pertanda bagi manusia dan bukti sempurnanya kekuasaan (qudrah) Allah serta menjadi rahmat dan nikmat bagi orang yang mengikuti, mempercayai dan beriman kepadanya. Allâh berfirman:

فَحَمَلَتْهُ فَٱنتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا (٢٢) فَأَجَآءَهَا ٱلْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ قَالَتْ يَٰلَيْتَنِى مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا (٢٣) فَنَادَىٰهَا مِن تَحْتِهَآ أَلَّا تَحْزَنِى قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (٢٤) وَهُزِّىٓ إِلَيْكِ بِجِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ تُسَٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (٢٥) فَكُلِى وَٱشْرَبِى وَقَرِّى عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِىٓ إِنِّى نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ ٱلْيَوْمَ إِنسِيًّا (٢٦) {سورة مريم: ٢٢ - ٢٦}

"Maka Maryam mengandung, lalu ia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: 

"Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan, lagi dilupakan".

Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha pemurah, maka aku tidak akan berrbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini". (Q.S. Maryam : 22-26)

Malaikat Jibril meniupkan di kerah baju (bukaan di bagian leher) sayyidah Maryam, maka beliau mengandung Nabi 'Îsâ. Kemudian Maryam mengasingkan diri dengan kandungannya itu dan menjauh, karena takut diolok-olok orang sebab melahirkan tanpa suami. 

Rasa sakit menjelang kelahiran pun mengantarkan sayyidah Maryam ke batang sebuah pohon kurma yang sudah kering. Di sana karena takut disakiti orang, sayyidah Maryam berharap untuk mati. Maka Jibril memanggilnya dari sebuah tempat di bawahnya di lereng sebuah gunung untuk menenangkannya dan memberitahukan kepadanya bahwa Allah menjadikan sungai kecil di dekatnya dan Jibril memerintahkannya agar menggoncang batang pangkal pohon kurma tersebut sehingga berguguran ruthab (kurma yang mulai enak dimakan) yang masih segar, agar Maryam makan dan minum dari rizki yang Allah berikan kepadanya, dan agar ia senang. 

Malaikat Jibril juga mengatakan kepadanya agar berkata kepada orang yang melihatnya dan bertanya kepadanya tentang putranya: "Aku telah bernadzar kepada Allâh untuk tidak berbicara kepada seorangpun." Nadzar seperti ini sah dalam syari'at-syari'at terdahulu. 

Kemudian setelah proses melahirkan yang penuh berkah, sayyidah Maryam pun kembali kepada kaumnya membawa putranya Îsa sebagaimana Allah tegaskan dalam al Qur'an:

فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ ۖ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا (سورة مريم: ٢٧)

"Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar." (Q.S. Maryam: 27)

Kaumnya pun berkata kepadanya: Engkau telah melakukan perbuatan mungkar yang besar. Mereka berburuk sangka kepada Maryam, menyalah-nyalahkan dan menyakitinya, sementara Maryam tetap diam dan tidak menjawab, karena ia telah memberitahukan kepada mereka bahwa ia telah bernadzar kepada Allâh untuk tidak berbicara. 

Ketika keadaan menjadi sulit, maka Maryam menunjuk kepada 'Îsâ agar mereka berbicara kepada 'Îsâ. Ketika itulah, mereka berkata kepada Maryam apa yang Allâh beritakan dalam al Qur'an dengan firman-Nya:

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا (سورة مريم : ٢٩)

"Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?" (Q.S. Maryam: 29)

Ketika itulah, Allâh Yang Mahakuasa atas segala sesuatu dengan qudrah-Nya menjadikan 'Îsâ bisa berbicara, padahal ketika itu ia masih berupa bayi yang menyusu. Maka 'Îsâ mengatakan apa yang Allâh sebutkan dalam al Qur'an:

{قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ ... (سورة مريم : ٣٠)

"Îsâ Berkata: Sesungguhnya aku ini hamba Allâh..." (Q.S. Maryam: 30)

Allâh menjadikannya mampu berbicara saat masih dalam buaian. Maka kalimat pertama yang diucapkan 'isâ  adalah sebagai pengakuan akan kehambaannya kepada Allâh Yang Esa dan Maha Menundukkan.

آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا ~ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ ..(سورة مريم: ۳۰-۳۱)

"Dia memberiku al Kitâb (Injil) dan Dia menjadikanku seorang nabi. Dan Dia menjadikanku seorang yang diberkati di mana saja aku berada..." (Q.S. Maryam: 30-31)

Yakni Allâh jadikan aku (Nabi Isa) bermanfaat bagi orang banyak, mengajarkan kebaikan kemanapun aku pergi.

  وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ~ وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا ~ وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (سورة مريم: ۳۱-۳۳)

"... dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali." (Q.S. Maryam: 31-33)

Isâ alaihissalam tumbuh dengan baik. Lalu ia menghafal kitab Taurật saat masih kecil dan mengamalkan syari'atnya, hingga Allâh menurunkan wahyu kepadanya. Maka ia berbicara kepada Baniî Isrå-il mengatakan apa yang Allâh beritakan dalam al Qur 'an:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ (الصف : ٦)

"Dan (ingatlah) ketika iså ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Isråil, sesungguhnya aku adalah utusan Allâh kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (Q.S. ash-Shaff:6)

Maka Nabi 'isâ عليه السلام berdakwah kepada kaumnya seperti halnya semua nabi dan rasul. la mengajak kaumnya kepada islâm, beribadah kepada Allâh semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Akan tetapi kaumnya mendustakannya, iri terhadapnya dan menudingnya sebagai seorang penyihir dan tidak ada yang beriman kepadanya kecuali jumlah yang sedikit. Kaumnya mulai menyakitinya dan berupaya membunuhnya, akan tetapi Allâh menjaganya dan mengangkatnya ke langit seperti disebutkan dalam al Qur'an.

Sayyidina Isâ عليه السلام seperti utusan-utusan Allâh yang lain telah menyampaikan berita gembira tentang penutup para nabi, yakni Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم dan mewasiatkan kepada para pengikutnya agar mengikuti Muhammad dan membelanya jika mereka mendapati masanya diutus. 

Abû Sa'd an-Naisabûri dalam kitabnya Syaraf al Mushthafå telah meriwayatkan bahwa suatu ketika ada empat orang yang berangkat dari Yaman menuju Makkah di awal masa diutusnya Nabi 'isa عليه السلام.  Di antara mereka ada seorang yang bernama Ja'd bin Qays al Murâdi. Malam pun tiba, ketika mereka berada di padang yang terbuka, maka mereka singgah di sebuah tempat dan tidur kecuali Ja'd bin Qays al Murâdi. Tiba-tiba Ja'd mendengar suara tanpa melihat rupanya berkata kepadanya:

أَلَا أَيُّهَا الرَّكْبُ الْمُعَرِّسُ بَلِّغُوا # إِذَا مَا وَصَلْتُمْ لِلْحَطِيمِ وَزَمْزَمَا

مُحَمَّدًا الْمَبْعُوثَ مِنَّا تَحِيَّةً # تُشَيِّعُهُ مِنْ حَيْثُ سَارَ وَيَمَّمَا

وَقُولُوا لَهُ إِنّا لِدِينِكَ شِيعَةٌ # بِذٰلِكَ أَوْصَانَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَا

"Wahai rombongan yang sedang beristirahat, jika kalian sampai ke Hathîm dan Zamzam, sampaikanlah dari kami ucapan salam kepada Muhammad yang diutus oleh Allâh. Keselamatan semoga selalu menyertainya kemanapun ia berjalan dan bepergian, katakanlah kepadanya: Kami adalah pendukung-pendukung agamamu, dengan inilah al Masih Ibnu Maryam berpesan kepada kami".

Ternyata suara tersebut berasal dari seorang jin mukmin yang mendapati masa Nabi Isa عليه السلام sebelum diangkat ke langit. Jin ini beriman kepada Nabi 'Îsâ dan mendengar wasiatnya untuk beriman kepada Muhammad dan mengikutinya ketika ia muncul. Maka jin ini berpesan kepada Ja'd agar menyampaikan salamnya kepada Nabi Muhammad, jika ia telah sampai di Makkah. Maka ketika rombongan tersebut sampai ke Makkah, Ja'd bertanya kepada penduduk Makkah tentang Nabi Muhammad, akhirnya Ja'd bertemu dengan Nabi, beriman kepadanya dan masuk Islâm. Peristiwa ini terjadi sebelum kabar tentang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tersebar di jazirah Arab. Demikianlah, mudah-mudahan shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم dan saudara-saudaranya, seluruh nabi dan rasûl. 

Dalam kisah ini terdapat tambahan penjelasan bahwa Nabi 'Îsâ datang membawa agama Islâm seperti halnya semua nabi yang lain, sebagaimana diriwayatkan oleh al Bukhari bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

"الْأَنْبِيَاءِ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ دِينُهُمْ وَاحِدٌ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى، وَأَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ (رواه البخاري)

"Para nabi bagaikan saudara-saudara seayah (yakni agama mereka satu yaitu Islâm) dan ibu-ibu mereka (yakni syari'at-syari'at mereka) berbeda-beda dan aku adalah orang yang paling dekat dengan 'Îsâ bin Maryam tidak ada nabi lain antara diriku dan Nabi 'îsâ" (HR. Bukhari).

Posting Komentar untuk "Kisah Kelahiran Nabi Isa Al Masih Alaihis Salaam"