Kisah Pemimpin Yang Meninggalkan Kenyamanan dan Kelezatan
Dari guru Kami Asy-Syaikh Abdurrazzaq Syarif:
"Berkata guru Kami Asy-Syaikh Abdullah Al-Harary:
اذكُروا أحوالَ السّلَف الصّالح واقتَدُوا بهم ولا تَنظُروا إلى الرّاحَاتِ واللّذاتِ، فقَد كانَ عمرُ بنُ الخطّابِ في سفَرِه إلى بيتِ المقدِس لِيُصالح أهلَ الكِتابِ المستَعصِينَ بإغلاقِ بابِ الحِصن في بيتِ المقدِس الذينَ طلَبُوا أن يُصَالحُوا أميرَ المؤمنينَ زَادُه سَويقَ الشّعِير والتّمرُ والزَّيت، وكانَ يَلبَسُ ثِيابًا رَثّةً، فقِيلَ لهُ: لَوْ لَبِسْتَ غَيرَ هذَا، فلَبِسَ ثمّ خلَعَهُ وعادَ إلى لِبَاسِه الأوَّل، فلمّا رأَوهُ قالوا: هذا الذي نَعرِفُه في كتُبِنا، فاستَسْلَمُوا، كانَ بإمكانِه أن يَلبَسَ أَفْخَرَ الملابِس ويتَزَوّدَ غَيرَ هذا الزّادِ، لأنّ بيتَ المالِ في أيّامِه كانَ غنِيّا ولعَلّكُم سمعتُم أنّه قالَ: إذَا احتَجْتُ مِنْ بَيتِ المالِ أَخَذتُ مَا احتَجْتُ ثمّ قَضَيتُ مَا أخَذْتُ وإنْ لم أَحْتَجْ لم ءاخُذْ.
عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: «إني أَنزَلتُ نَفسِي مِن مالِ الله بمنزلةِ والي اليتِيم إن احتَجتُ أخَذتُ منهُ بالمعروف فإذا أَيسَرتُ ردَدتُه وإن استَغنَيتُ استَعفَفتُ» رواه البيهقي وابن أبي شيبة وغيرهما.
وإيّاكُم أنْ يَشْغلَكُم مُراعَاةُ خَواطِرِ نِسائِكُم في التّنعُّم، إنّي والحمدُ لله لَمّا كنتُ في سُوريا قَبلَ أَنْ أَسْكُنَ لبنانَ كانَ طعَامِيْ الخُبزَ والشّاي واللّبنَ الرّائِب وأَحْيانًا البَندُورَة، ولم أشتَرِ قَطُّ اللّحمَ. وقَد قال المسيحُ عيسَى عليه السلام: "لُبْسُ الْمُسُوحِ واسْتِفَافُ الرّمَادِ والنّومُ علَى المزَابِلِ كثِيرٌ على مَن يمُوتُ".
الشّيخ حسّان كانَ يأتي إليّ لمّا كُنتُ في الشّام كانَ يَقولُ لي على وَجْهِ المُباسَطة: لا يُوجَدُ إلا الشّاي والخُبز. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
"Hendaklah kalian mengingat keadaan para Salafus Sholeh dan Ikutilah mereka, jangan kalian hanya ingin melihat kepada kenyamanan dan kelezatan, Sayyidina Umar bin khattab dahulu ketika beliau melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis (Palestina) untuk mengadakan "Musalahah" Perjanjian dengan Ahlul kitab yang saat itu bersikeras untuk menutup pintu benteng mereka di Baitul Maqdis, mereka meminta agar yang datang langsung mengadakan perjanjian dengan mereka adalah Amirul Mukminin Umar bin Khattab.
Beliau pun berangkat dengan membawa bekal sawiq dari Sya'ir (jenis makanan dari Sya'ir mirip gandum namun lebih kasar), buah Tamar serta minyak Zaitun, dan saat itu beliau memakai pakaian yang bisa dikatakan Sudah lusuh nan buruk, lalu Dikatakan ke Beliau: "Seandainya Anda memakai pakaian yang lain", beliau pun mengganti pakaiannya, namun tiba-tiba setelah itu beliau kembali melepas pakaian itu dan memakai pakaian yang pertama tadi.
Ketika beliau sampai dengan keadaan ini dan disaksikan oleh orang-orang Ahlul kitab, merekapun mengatakan inilah yang kami tahu tentang orang yang akan mengadakan perjanjian dengan kami, ini terdapat dalam kitab kami, Mereka pun menyerah dan mau mengadakan perjanjian dengan Sayyidina Umar.
Sayyiduna Umar kalau dia mau bisa saja dia memakai pakaian yang sangat mewah sekali, berbekal dengan bekal yang lebih dari ini, karena Baitul Mal (harta umat Islam) di masa itu sangatlah kaya penuh dengan harta, dan Sepertinya kalian sudah mendengarkan bahwa di antara yang di katakan oleh Sayyidina Umar: "Jika saya membutuhkan sesuatu dari Baitul Mal, saya akan mengambil darinya sekedar kebutuhan saya, dan saya ganti apa yang saya ambil tersebut, dan jika saya tidak membutuhkan maka saya tidak akan mengambil dari Baitul Mal"
[Rwayat Al Baihaqi Ibnu Abi Syaibah dan lainnya].
Janganlah kalian disibukkan dengan memperhatikan apa yang selalu menjadi keingininan pasangan kalian dalam urusan selalu ingin kenyamanan dan kesenangan,
Saya sendiri (Syaikh Abdullah Al Harari rahimahullah) dan Allah yang saya punya puji, ketika dulu saya berada di Suriah sebelum tinggal di lebanon, makanan saya hanya Roti (biasa) dan Teh atau dengan susu asam atau terkadang dengan tomat, saya tidak pernah membeli daging sama sekali,
Bukankah Nabi Isa Alaihissalam pernah berkata:
"لُبْسُ الْمُسُوحِ واسْتِفَافُ الرّمَادِ والنّومُ علَى المزَابِلِ كثِيرٌ على مَن يمُوتُ".
"Memakai pakaian dari bulu kasar hewan, dan meminum air yang bercampur abu sisa arang, dan tidur di tempat sampah (tempat kotor), sudah cukup banyak untuk orang yang akhirnya akan Mati (meninggalkan dunia ini)".
Syekh Hassan (salah seorang yang dikenal kewaliyannya) terkadang datang kepada saya ketika dulu tinggal di sana, beliau terkadang mengatakan kepada saya dengan maksud bercanda: "Tidak adakah yang lain dari-pada teh dan roti saja?".
