Muqoddimah Kitab Matan al Ghoyah wa at Taqrib Abi Syuja'
Muqoddimah Matan Abi Syuja' (Matn al Ghoyah wa at Taqrib)
قال المؤلف رحمه الله:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ.
قَالَ الْقَاضِى أَبُو شُجَاعٍ أَحْمَدُ بنُ الْحُسَيْنِ بنِ أَحْمَدَ الأَصْفَهَانِىُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى
(بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ)
"Aku memulai dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Penjelasan
Pengarang matan yang terkenal dengan sebutan matan al ghoyah wa at taqrib dan matan abi syuja’ ini adalah Syekh abu Syuja’ Ahmad bin Husein bin Ahmad al Ashfahani. Al Ashfahani adalah nisbat ke sebuah kota di Iran yang bernama Ashfahan (Isfahan)
Syekh abu Syuja’ semasa hidupnya selain terkenal sebagai orang yang alim, beliau juga terkenal sebagai orang yang saleh dan ahli ibadah, sehingga beliau pernah menjabat sebagai qadli kemudian menteri agama kemudian beliau hijrah ke Madinah dan tinggal disana.
Syekh abu Syuja’ *meninggal pada usia 160 tahun tanpa ada cacat pada anggota badannya*. Semasa hidupnya beliau pernah ditanya ihwal kesehatan dan keutuhan badannya, beliau menjawab:
"Aku jaga tubuhku dari berbuat maksiat pada waktu kecil sehingga Allah menjaganya pada waktu tua."
Beliau memulai karangannya dengan basmalah karena mengikuti al Quran dan anjuran Rasulullah ﷺ .
Rasulullah bersabda:
كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله فهو أقطع
“Setiap perkara mulia yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah maka kurang berkah”
Lafadz jalalah الله adalah nama bagi Dzat yang pasti adanya, yang disifati dengan setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi-Nya dan mustahil bagi-Nya setiap sifat kekurangan.
Diantara sifat kekurangan adalah sifat yang berlaku bagi makhluk seperti lemah, butuh pada yang lain, fana, berubah dan bertempat, maka Allah mustahil bersifat dengan setiap sifat tersebut.
Allah ta’ala berfirman:
ليس كمثله شيء
“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun dari makhluk-Nya dan tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang menyeruai-Nya baik dari satu segi maupun semua segi”
Lafadz jalalah الله, lamnya wajib dibaca mad (panjang/min. 2 harokat) dan tidak boleh membuang ha'nya sehingga menjadi اللا.
Ar Rahman artinya Dzat yang banyak rahmat-Nya pada orang-orang mukmin dan orang-orang kafir di dunia dan mengasihi orang-orang mukmin saja di akhirat.
Ar Rahim artinya Dzat yang banyak rahmat-Nya kepada orang-orang mukmin saja.
قال المؤلف رحمه الله تعالى:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”
Penjelasan
Lafadz:
الحمد لله
Al Hamdu الحمد artinya memuji Allah dengan lisan atas nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita yang tidak terbilang jumlahnya tanpa ada kewajiban bagi-Nya.
Bersyukur ada dua macam:
1. Bersyukur yang hukumnya wajib, yaitu tidak menggunakan nikmat yang Allah berikan kepada kita dalam kemaksiatan seperti tidak menggunakan tangan untuk mencuri, uang untuk berjudi, dan lisan untuk mencaci.
Awas!!
Dosa yang tidak diampuni oleh Allâh adalah dosa syirik dan kufur. Allâh subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا (النساء: 48)
Maknanya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa-dosa di bawah syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa berbuat syirik kepada Allâh, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar (tidak terampuni jika mati dalam keadaan syirik)” (QS an-Nisa’: 48)
2. Bersyukur yang hukumnya sunnah, yaitu memuji Allah dengan lisan dengan mengucapkan hamdalah dan semisalnya.
Kemudian kata:
رب العالمين
Kata رب secara bahasa bisa bermakna:
1. Tuhan yang berhak disembah, sehingga dalam syahadat pertama boleh dikatakan:
أشهد أن لا رب إلا الله
Rabb dengan makna ini tidak berlaku bagi selain Allah.
2. Pemilik, dikatakan dalam bahasa arab:
عمر رب هذا البيت
(Umar adalah pemilik rumah ini)
3. Tuan, dikatakan dalam bahasa arab:
فلان رب هذا العبد
(fulan adalah tuannya budak ini)
Kemudian, Al 'Alam العالم artinya segala sesuatu selain Allah. Al 'Alam العالم secara global terbagi menjadi dua: جوهر (benda) dan عرض (sifat benda). Dan Al Jauhar الجوهر (benda) terbagi menjadi dua:
1. Al Jauharul fard الجوهر الفرد (benda yang tersusun darinya جسم ) yaitu benda terkecil yang mencapai batas minimal sehingga tidak bisa dibagi-bagi dan tidak bisa dilihat dengan mata.
2. Al Jism الجسم (benda yang tersusun dari dua الجوهر الفرد atau lebih) seperi manusia, pohon, batu, gunung dan lainnya.
Lalu, 'Arodl (عرض) yaitu sifat benda seperti: berubah, bertempat, berpindah, warna, bentuk dan lainnya.
Catatan:
Perkataan mushonnif الحمد لله رب العالمين yang diambil dari ayat kedua dari surat al Fatihah adalah bantahan telak terhadap penganut paham sesat al wahdah al muthlaqoh yang mengatakan bahwa alam semesta ini adalah Allah, setiap bagian dari alam adalah bagian dari Allah, tidak ada yang ada kecuali Allah.
Dalam lafadz رب العالمين ditegaskan bahwa Allah itu ada dan alam juga ada, dan ditegaskan bahwa Allah adalah Tuhan, pencipta dan pengatur alam semesta.
الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”
Penjelasan
Lafadz Robbil 'alamin (رب العالمين) artinya Tuhan/Pencipta semesta alam. Allah yang menciptakan segala sesuatu; benda, sifat dan perbuatannya. Allah ta’ala berfirman:
ٱللَّهُ خَـٰلِقُ كُلِّ شَیۡءࣲۖ
[Surat Az-Zumar 62]
“Allah adalah Dzat yang menciptakan segala sesuatu”
Seluruh perbuatan manusia; yang baik maupun yang buruk, yang disengaja maupun yang tidak disengaja, seluruhnya Allah yang menciptakannya.
Allah ta’ala berfirman:
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ
[Surat Ash-Shaffat 96]
“dan Allah menciptakan kalian dan perbuatan kalian”
*Waspada!!*
Terhadap kelompok neo qodariyah (HTI), mereka meyakini bahwa perbuatan manusia yang disengaja (yang terjadi dengan kehendak manusia) atau perbuatan ikhtiyariyah adalah ciptaan manusia sendiri bukan ciptaan Allah.
Keyakinan seperti ini bertentangan dengan al Qur'an sebagaimana telah disebutkan di atas, dan juga tergolong sebagai kesyirikan, karena telah menisbatkan sifat ketuhanan yaitu الخلق (menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada) kepada selain Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
القَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هذه الأمةِ، إن مَرِضوا فلا تَعودُوهم ، وإن ماتوا فلا تَشْهَدُوهم.
"Kelompok Qodariyah adalah majusinya umat ini, jika mereka sakit maka jangan kalian jenguk dan jika mereka mati maka jangan kalian hadiri jenazahnya." HR Abu Dawud
قال المؤلف رحمه الله تعالى:
وصلى الله على سيدنا محمد النبي وآله الطاهرين وصحابته أجمعين.
"Semoga Allah merahmati Sayyidina Muhammad ﷺ yang menjadi Nabi, keluarganya yang suci dan para sahabat seluruhnya".
Penjelasan
Setelah membaca basmalah dan hamdalah, Muallif, al Qodli Abu Syuja' bersholawat pada nabi Muhammad ﷺ.
Allah ta'ala berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
[Surat Al-Ahzab 56]
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawat dan salamlah kalian kepada Nabi".
Penting dipahami dari ayat ini, maksudnya adalah:
1. Shalawat Allah pada Nabi bermakna Allah memberikan rahmat kepada Nabi ﷺ.
2. Shalawat malaikat pada Nabi bermakna Malaikat beristighfar untuk Nabi ﷺ (permintaan ampunan untuk nabi)
3. Shalawat manusia pada Nabi bermakna doa kebaikan. Dengan memgucapkan bacaan sholawat. Sebagian ulama mengartikan:
اللهم صل على محمد
dengan
اللهم زد محمدا شرفا وتعظيما
"Ya Allah berilah Muhammad tambahan kemuliaan dan keagungan"
dan memaknai:
وسلم على محمد
dengan:
اللهم آمن محمدا مما يخافه على امته
"Ya Allah berilah keamanan pada Nabi Muhammad ﷺ dari sesuatu yang dikhawatirkan Nabi akan terjadi pada umatnya".
Al Qodli Abu Syuja' juga mendoakan rahmah dan kebaikan untuk keluarga nabi ﷺ dan para sahabatnya.
Keluarga nabi adalah istri-istri Nabi dan anak keturunannya. Sebagian ulama memaknai آل dengan semua umat Islam yang mengikuti Rasulullah ﷺ.
Shahabat nabi adalah orang yang pernah bertemu dengan Nabi di masa hidup Nabi, dan dia beriman dengannya serta mati dalam keadaan beriman.
Ashamah an Najasyi meskipun beliau hidup pada masa Rasulullah, beriman dan mati dalam keadaan beriman tetapi beliau bukan sahabat, karena tidak pernah bertemu dengan nabi. Seseorang yang bertemu dengan Nabi dalam mimpi tidak disebut sahabat, karena dia bertemu nabi Muhammad tidak pada masa hidupnya Nabi.
Abu Lahab, meskipun dia bertemu dengan Nabi pada masa hidupnya Nabi, dia tidak disebut sahabat karena dia tidak beriman.
قال القاضي ابو شجاع:
سَألَني بعضُ الأصْدِقاءِ - حَفِظهُمُ اللهُ تعالى- أنْ أعمَلَ مختَصَرًا في الفِقهِ عَلى مَذهَبِ الإمامِ الشّافِعيِّ- رَحْـمَةُ اللهِ تعالى عليه ورِضوانُهُ- في غَايةِ الاِختِصَارِ ونهايَةِ الإيجازِ ، لِيَقْرُبَ على الـمُتعلِّمِ درسُهُ، ويَسهُلَ على المُبتَدِي حِفظُهُ وأنْ أُكْثِرَ فيهِ مِنَ التّقْسيماتِ وحَصْرِ الخِـصَالِ .فَأَجَبتُهُ إلى ذلكَ طالبًا للثَّوابِ راغباً إلى اللهِ تعالى في التَّوفِيقِ للصَّوابِ إنَّهُ على ما يَشاءُ قَدير، وبِعِبادِهِ لَطِيفٌ خَبيرٌ.
Al Qadli Abu Syuja’ berkata: “Aku diminta oleh sebagian teman -semoga Allah menjaga mereka- untuk menyusun ringkasan fiqih menurut madzhab Imam asy Syafi’I -semoga rahmat Allah dan ridloNya selalu menyertainya- yang sangat ringkas dan sederhana agar mudah bagi pelajar untuk mempelajarinya dan mudah bagi pemula untuk menghafalnya dan aku diminta untuk memperbanyak bagian-bagian dan menyebutkannya satu-persatu. Aku penuhi permintaan itu untuk mencari pahala dan dengan mengharapkan taufiq Allâh pada kebenaran, Allah Maha kuasa untuk menciptakan setiap yang Ia kehendaki dan dengan hamba-hamba-Nya, Ia Maha mengetahui.”
Penjelasan
Dalam Muqoddimah kitabnya al Qadli Abu Syuja' menjelaskan beberapa hal, yaitu:
1. Kitab ini ditulis atas permintaan sebagian teman beliau.
Beliau mengarang kitab ini saat beliau masih muda dan saat beliau menuntut ilmu bukan setelah menjabat sebagai qadli mesir dan menjadi ulama besar disana. Meskipun begitu kitab beliau sarat akan faedah dan sangat terkenal dikalangan para penuntut ilmu fikih madzhab syafi’i.
2. Kitab ini tergolong sebagai kitab Mukhtashor (ringkasan).
Kitab Mukhtashar adalah kitab yang sedikit lafadznya dan luas maknanya.
Karakteristik kitab Mukhtashor adalah mudah dipahami dan dihafal, sehingga sangat cocok untuk para pemula dalam belajar agama.
3. Kitab ini adalah kitab fiqh.
Fiqh secara etimologi (bahasa) artinya paham.
Dikatakan فقهت المسألة artinya فهمتها "aku telah paham permasalahannya."
Allah ta’ala berfirman
فَمَالِ هَـٰۤؤُلَاۤءِ ٱلۡقَوۡمِ لَا یَكَادُونَ یَفۡقَهُونَ حَدِیثࣰا
[Surat An-Nisa' 78]
“Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun).”
Fiqih secara terminology (istilah) artinya pengetahuan tentang hukum-hukum syari’at yang berkaitan dengan perbuatan orang-orang mukallaf yang diambil dari dalil-dalilnya yang bersifat terperinci berupa nash al Qur'an dan al hadits serta yang bercabang darinya yang berupa ijma’ dan qiyas.
4. Kitab mukhtashar ini dikarang untuk menjelaskan hukum-hukum fikih menurut madzhabnya Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Idris ibn al Abbas ibn ‘Utsman ibn Syafi’ ibn as Sa’ib ibn Ubaid ibn Abdi Yazid ibn Hasyim ibn Abdil Muththalib ibn ibn Abdi Manaf. (Imam Syafi'iy)
Nasab beliau bertemu dengan Nasab Rasulullah pada Abdu Manaf. Rasulullah itu keturunan dari Hasyim bin Abdi Manaf (Hasyimiy), sementara al Imam as Syafi’iy keturunan dari Abdul Mutholib bin Abdi Manaf (al Muththolibiy).
Imam Muhammad ibn Idris dipanggil asy Syafi’i karena dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Syafi’ yang merupakan seorang sahabat dan juga putra dari salah satu sahabat Rasulullah, yakni as Sa'ib.
Imam asy Syafi’i adalah seorang mujtahid muthlaq dan seorang mujaddid abad ke dua. Beliau dilahirkan di Gaza, Palestina pada tahun 150 H menurut pendapat yang kuat, kemudian beliau tumbuh besar di Hijaz dan menuntut ilmu di sana kepada Imam Malik dan lainnya, kemudian melanjutkan perjalanan studinya ke Yaman dan Irak. Di Irak, Imam Syafi’i menulis madzhab qodimnya kemudian kembali ke Makkah, setelah dari Makkah beliau ke Bagdad kemudian ke Mesir dan disana beliau menulis madzhab jadidnya dan tidak lagi mengamalkan mazhab qodimnya dan berkata:
*“kalian jangan mengamalkan madzhab qodim.”*
Beliau tetap tinggal di Mesir seraya mengajarkan ilmu agama dan membela madzhab Ahlussunnah wal jama’ah hingga beliau wafat pada hari Jum'at terakhir dari bulan Rajab tahun 204 H, jadi umur beliau 54 tahun.
Karena semangat beliau dalam mengajarkan madzhabnya sehingga pengikut madzhab beliau tersebar di penjuru dunia, sehingga para ulama menafsirkan hadits yang berbunyi:
عن أبي الأحوصِ عن عبد الله قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (لا تَسُبُّوا قُرَيشًا فإنّ عَالمَها يَملأ طِبَاقَ الأرضِ عِلمًا) رواه الطيالسِي
عالم قريش يملأ طباق الأرض علما
“seorang yang alim dari suku Quraisy itu memenuhi berbagai belahan dunia dengan ilmu”
bahwa yang dimaksud dengan hadits diatas adalah Imam asy Syafi’i.
5. Beliau menulis kitab ini untuk mencari pahala dari Allah.
Hal ini karena Allah tidak menerima amal sholih kecuali jika dilakukan dengan niat ikhlas. Rasulullah ﷺ bersabda:
حَدِيث أَبِى دَاوُد وَالنَّسَائِىِّ بِالإِسْنَادِ إِلَى أَبِى أُمَامَةَ أَنَّهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ رَجُلًا غَزَا يَلْتَمِسُ الأَجْرَ وَالذِّكْرَ مَا لَهُ؟ قَالَ: "لا شَىْءَ لَهُ" فَأَعَادَهَا ثَلاثًا، ثُمَّ قَالَ: "إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لَهُ وَمَا ابْتُغِىَ بِهِ وَجْهُهُ".
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
"Allah tidak menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan ridlo-Nya." (H.R. Abu Dawud dan An-Nasai)
6. Beliau berharap taufiq Allah pada kebenaran.
Taufiq artinya menciptakan kemampuan untuk berbuat ketaatan. Dan Dzat yang memberi taufiq hanya Allah ta'ala. Allah ta'ala berfirman menyebutkan perkataan nabi Syu'aib kepada kaumnya:
وَمَا تَوۡفِیقِیۤ إِلَّا بِٱللَّهِۚ
[Surat Hud 88]
Artinya: "Dan tidak ada kemampuan untuk berbuat ketaatan (kepada Allâh) bagi diriku kecuali atas pertolongan Allâh"
Bersambung ke Bab Thaharah.
