Kemiringan lantai kamar mandi dan toilet
Dalam banyak kasus yang sering saya lihat, baik rumah, kantor, hotel, dan lainnya sering kutemukan lantai kamar mandi dan toiletnya mempunyai sedikit kemiringan. Hal ini membuat air yang mengalir sangat lambat. Ini akan menjadi bencana jika tidak mengetahui ilmu agama tentang bab najis dan cara mensucikannya.
Rata-rata kemiringan kamar mandi dan toilet yang kutemukan antara sekitar 1° - 2° (satu sampai dua derajat). Sudut kemiringan ini justru yang direkomendasikan para pakar interior jaman sekarang. Padahal dalam sudut kesucian, nilai kemiringan ini justru berpotensi tidak bisa menuntaskan basuhan najis yang mengalir, bahkan cenderung air nya berhenti dan menggenang. Sehingga orang yang keluar dari kamar mandi setelah dia buat hajat, dapat dipastikan masih membawa najis, jika air basuhan kencingnya tidak mengalir.
Bahkan ada yang lebih parah hanya 0.5° (setengah deraja saja) saja. Kemiringan sekecil ini tidak bisa mengalirkan air sebagaimana mestinya.
Salah satu kasus kemarin saya ke toilet rumah sakit umum di Kabupaten Kudus. Kemiringannya hanya 0.5°-1° saja. Sehingga air masih menggenang dan tidak mengalir. Ini sungguh keterlaluan bodohnya.
Lalu bagaimana semestinya?
Kamar mandi atau toilet basah atau kering sangat direkomendasikan dengan sudut 6°-10° (6 - 10) derajat. Sudut kemiringan ini akan terasa kemiringannya di kaki. Ketika derajat kemiringannya sampai terasa di kaki dan terlihat di mata, artinya air yang disiram di lantai itu langsung mengalir ke lubang pembuangan atau drainase.
Dan mampu membawa najis ke drainase dengan baik sehingga najisnya hilang dan tidak menyisakan najis. Meskipun itu toilet kering pun sebaiknya memakai lantai miring sebab bagaimana pun tidak aman dari najis.
Musibah zaman ini, banyak tukang yang mencoba membuat lantai toilet serata mungkin atau kalaupun miring, mungkin hanya 1° bahkan 0,5° (juga sesuai yang disarankan di situs-situs pembangunan rumah) sehingga tidak sampai terasa di kaki ketika diinjak.
Meski lebih indah dilihat, akan tetapi lantai kamar mandi dan toilet yang cenderung rata membuat air najis yang ada di lantai masih menggenang ke berbagai arah sebelum akhirnya menemukan lubang pembuangan lalu surut pelan-pelan.
Dampaknya adalah area najis makin melebar ke mana-mana ketika disiram sebab air siramannya justru menjadi air najis yang menggenang. Untuk menyucikannya, seluruh lantai harus disiram dengan mengarahkan jalannya air ke pembuangan, itu pun harus pelan dan tidak terlalu banyak agar air najis bisa langsung masuk tanpa membentuk genangan. Bagi yang tidak paham fikih, kemungkinan lantainya dibiarkan najis sewaktu dia keluar.
Jadi, Sudut yang semakin miring semakin bagus sebab sangat memudahkan untuk menyucikan lantai. Begitu lantai terkena air dari arah mana pun, airnya langsung mengalir membawa najis dan surut seketika yang masuk ke lubang pembuangan.
Ember atau wadah yang pendek
Begitu juga ember atau wadah air yang pendek dari toilet. Ini berpotensi besar cipratan kencing akan masuk ke ember jika tidak dikendalikan kencingnya. jika sudah masuk ke dalam ember najis air kencingnya dari cipratan tersebut maka seluruh air yang ada dalam ember menjadi najis semua karena pada umumnya ember tersebut kurang dari dua kullah.
Oleh karena itu, sebaiknya pakai ember yang besar dan jika tidak, ketinggian ember harus lebih tinggi dari toilet untuk menghindari cipratan air kencing. Apalagi jika ada orang yang kencingnya sambil berdiri.
Tata cara agar dapat memastikan suci dari najis
Sebagaimana yang sudah kita pelajari bahwa najis kencing ini jika nempel pada pakaian atau tubuh kita ini adalah dosa besar, yang menyebabkan siksa amat pedih di alam kubur nanti. Maka dari itu, ketika masuk toilet atau kamar mandi, saat buang hajat, maka sebaikanya:
1. Jika airnya dalam ember, buang semua lalu ganti dengan air baru dengan mensucikan embernya dari najis (hal ini untuk kehati-hatian). Lalu gunakan untuk bersuci.
2. Memastikan semua suci dengan mengalir air dan memastikan ke pembuangan setelah buang hajat.
Semoga bermanfaat
